Di saat banyak negara berkompetisi mendorong mengambil mobil listrik murni, pasar China justru menunjukkan tren berbeda melalui teknologi Range Extended Electric Vehicle (REEV). Dewasa ini tumbuh pesat lantaran dinilai bisa menggabungkan sensasi berkendara mobil listrik, dengan elastisitas kendaraan berbahan bakar bensin.
Berbeda dengan hybrid konvensional, REEV merupakan kendaraan nan sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik. Mesin bensin nan dibawa tidak terhubung langsung ke roda, melainkan berfaedah sebagai generator untuk mengisi daya baterai saat kapabilitas listrik mulai menurun.
Konsep tersebut membikin pengguna tetap dapat menikmati karakter mobil listrik tanpa terlalu cemas terhadap keterbatasan jarak tempuh.
Popularitas REEV pun meningkat di China dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah pabrikan memanfaatkan teknologi ini sebagai solusi bagi konsumen nan mau beranjak ke kendaraan elektrifikasi, namun tetap mempunyai kekhawatiran terhadap kesiapan prasarana pengisian daya.
Pakar Desain Produk dan Pengamat Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai tren tersebut muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran nan tetap banyak ditemui di kalangan pengguna kendaraan listrik.
“Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa nan sedang tumbuh pesat di China bukan hanya mobil listrik murni ya Mas, tetapi juga REEV. Teknologi ini berkembang lantaran bisa mengatasi kekhawatiran pengguna terhadap keterbatasan jarak tempuh dan kesiapan pengisian daya,” kata Yannes saat dihubungi kumparan, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut cukup relevan jika dikaitkan dengan pasar Indonesia nan hingga sekarang tetap menghadapi tantangan serupa. Infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) nan belum merata, membikin sebagian konsumen tetap ragu untuk sepenuhnya beranjak ke mobil listrik.
“Terutama lantaran jaringan SPKLU tetap terkonsentrasi di kota besar dan koridor tertentu. Nah, REEV memungkinkan pengguna menikmati mobil listrik untuk aktivitas harian sekaligus tetap mempunyai elastisitas mengisi bensin saat melakukan perjalanan jauh,” katanya.
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, Yannes menilai kesempatan REEV di Indonesia tetap berjuntai pada kesiapan ekosistem dan penerimaan pasar. Sejumlah tantangan tetap perlu diselesaikan sebelum teknologi ini dapat berkembang secara luas.
“Tetapi peluangnya tetap menghadapi beberapa tantangan pertama izin dan skema pajak untuk REEV belum sepenuhnya jelas. Kedua masyarakat tetap belum memahami perbedaan REEV dengan hybrid biasa. Ketiga nilai jualnya sendiri jelas bakal berada di atas HEV dan jauh di atas segmen LCGC,” jelasnya.
Dengan karakter tersebut, Yannes menilai REEV kemungkinan tidak bakal langsung menyasar pasar massal pada tahap awal. Segmen konsumen nan dibidik condong berasal dari kalangan menengah atas, nan menginginkan pengalaman berkendara listrik tanpa kudu sepenuhnya berjuntai pada prasarana pengisian daya.
“Karena itu, REEV kemungkinan besar bakal menarik konsumen middle upper class nan tetap ragu memilih antara HEV dan BEV, bukan dari golongan pembeli mobil murah entry level,” pungkasnya.
Apabila bisa menemukan formulasi izin dan insentif nan tepat, REEV berpotensi menjadi jembatan transisi menuju elektrifikasi penuh di Indonesia. Teknologi ini dapat menjadi pengganti bagi konsumen nan tertarik dengan kendaraan listrik, tetapi belum sepenuhnya percaya untuk beranjak ke mobil listrik murni.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·