Chery mengambil alih pabrik milik Nissan di Rosslyn, Afrika Selatan. Langkah ini menjadi strategi ekspansi dunia mereka, terutama di tengah persaingan ketat dan perlambatan pasar domestik.
Disitat dari Business Insider Africa, proses serah terima pabrik tersebut rampung pada pekan lalu, setelah kesepakatan diumumkan sejak Januari 2026. Chery menyebut akomodasi ini bakal dijadikan pusat operasional utama di Afrika untuk produksi, ekspor, hingga riset dan pengembangan (R&D).
Dengan akuisisi ini, Afrika Selatan diposisikan sebagai tulang punggung ekspansi Chery di kawasan. Pabrik Rosslyn nantinya juga bakal berfaedah sebagai pedoman regional untuk rantai pasok dan pengembangan sumber daya manusia.
“Tujuan jangka panjang kami adalah menjadikan pabrik Rosslyn sebagai pusat otomotif terpadu dengan riset dan pengembangan, operasi rantai pasok, serta pelatihan, guna mendukung ekspansi Chery dan sasaran penjualan lebih dari 100.000 unit per tahun di Afrika Selatan,” kata Vice President Chery Afrika Selatan, Charlie Zhang.
Langkah Chery datang di momen krusial bagi industri otomotif Afrika nan tengah berkembang. Afrika Selatan sendiri tetap menjadi pusat manufaktur terbesar di benua tersebut, sekaligus pedoman produksi beragam merek global.
Sejumlah pabrikan besar seperti BMW, Mercedes-Benz, Ford, Toyota, Isuzu, hingga Volkswagen telah lama menjadikan negara tersebut sebagai hub produksi. Dominasi ini membikin Afrika Selatan mempunyai ekosistem industri otomotif nan matang.
Dengan mengambil alih akomodasi nan sudah ada, Chery mendapatkan untung instan berupa jaringan pemasok nan mapan. Selain itu, perusahaan juga bisa memanfaatkan tenaga kerja serta prasarana ekspor nan sudah terbentuk.
Chery memastikan seluruh 692 tenaga kerja di pabrik Rosslyn bakal tetap dipertahankan. Bahkan, proyek ini diproyeksikan menciptakan nyaris 3.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung di beragam sektor terkait.
Sebelum produksi dimulai, Chery bakal menggelontorkan investasi untuk meningkatkan akomodasi pabrik. Pembaruan mencakup mesin, utilitas, hingga lini produksi, meski nilai investasinya belum diungkap.
Produksi kendaraan dijadwalkan mulai pertengahan 2027 dengan sasaran awal 15.000 unit pada paruh kedua tahun tersebut. Model nan bakal diproduksi meliputi Jetour T series, Jaecoo J5, dan Chery Tiggo 4.
Khusus Jaecoo J5, model ini bakal datang dalam jenis mesin konvensional (ICE) dan kendaraan daya baru (NEV). Strategi ini mencerminkan konsentrasi Chery dalam memperluas portofolio elektrifikasi secara global.
Dalam jangka panjang, Chery juga bakal meningkatkan kandungan lokal produksi. Tahap awal ditargetkan mencapai 40 persen, sembari menjajaki kerja sama dengan pemasok Tier 1 di Afrika Selatan.
Di sisi lain, perusahaan tetap bakal membawa pemasok unik dari China, terutama untuk teknologi kendaraan listrik dan sistem berkendara cerdas. Hal ini dilakukan untuk menjaga standar teknologi sekaligus mempercepat penyesuaian pasar.
Investasi ini jadi tren dunia industri otomotif. Pabrikan China seperti BYD, GAC, Great Wall Motor, dan SAIC mulai garang berekspansi ke pasar berkembang di Afrika, Amerika Latin, hingga Asia Tenggara.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·