Cerita Yerince, dari Papua Kuliah ke Jogja demi Perbaiki Akses Kesehatan

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) berlokasi di Depok, Sleman, Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja/Yusuf Hayy

Dari kampung tanpa sinyal, tanpa jalan beraspal, dan tanpa pernah mengenal perangkat digital, Yerince Enumbi menempuh perjalanan ribuan kilometer ke Yogyakarta membawa satu harapan: belajar, lampau pulang membawa perubahan di kampungnya.

Kampung Wuyuneri di Puncak Jaya, Papua Tengah, tempat Yerince berasal, tetap berada dalam keterbatasan akses. Untuk mencapainya dari kota, dibutuhkan sekitar tiga jam penerbangan, lampau dilanjutkan perjalanan darat dengan melangkah kaki di atas jalan tanah berbatu. Layanan kesehatan, jaringan komunikasi, hingga akomodasi pendidikan belum sepenuhnya tersedia.

Kondisi itu nan mendorong Yerince memutuskan merantau dan mengambil bidang keperawatan.

“Akses kesehatan seperti puskesmas dan pengobatan lainnya itu sangat kurang, lantaran itu saya datang ke sini dan mengambil bidang keperawatan di UNRIYO. Tujuan saya setelah lulus dari sini, saya mau membangun wilayah saya khususnya di kampung saya, di bagian kesehatan,” kata Yerince saat ditemui tim Pandangan Jogja, Rabu (15/4).

Yerince mahasiswa UNRIYO dari Desa Wuyuneri di Puncak Jaya, Papua Tengah. Foto: Pandangan Jogja/Yusuf Hayy

Namun, halangan nan dihadapi Yerince bukan hanya berupa jarak geografis. Setibanya di Yogyakarta, dia dihadapkan pada bumi nan sama sekali baru, termasuk hal-hal nan bagi sebagian mahasiswa lain terasa biasa.

Di bangku kuliah, Yerince tidak hanya belajar keperawatan. Ia juga mulai belajar menggunakan perangkat digital seperti handphone dan laptop untuk pertama kalinya.

“Di kampung kan tidak ada seperti laptop, handphone belum ada. Sampai ke sini saya memandang teman-teman saya banyak handphone. Kalau komputer saya belum mengerti juga,” ujarnya.

Situasi tersebut sempat menjadi tantangan dalam proses belajar. Di dalam kelas, penggunaan laptop, ponsel, hingga platform pembelajaran digital menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Bagi Yerince, semua itu kudu dipelajari dari awal.

Yerince dan Waruwu, kawan sekelasnya nan kerap membantunya beradaptasi selama masa kuliah. Foto: Pandangan Jogja/Yusuf Hayy

Waruwu, salah satu kawan sekelas Yerince, mengaku sempat terkejut saat pertama kali mengetahui kondisi tersebut. Namun, seiring waktu, dia dan teman-teman lain mulai memahami latar belakang Yerince dan turut membantu proses adaptasinya.

“Awal-awalnya kaget lantaran kok bisa gitu. Cuman pas beradaptasi sama kami di kelas, jadi kami bantu mengajarkan gimana langkah menggunakan HP sama laptop. Paling bagian jika pembuatan makalah dan langkah membikin Word-nya. Itu sekali-kali saya ngajarin,” ungkapnya.

“Tapi setelah mereka menceritakan jika mereka di daerah-daerah terpencil jadi kami memahami,” lanjutnya.

instagram embed

Proses penyesuaian itu melangkah perlahan. Tidak hanya melalui hubungan dengan kawan sebaya, tetapi juga melalui pendampingan dari pengajar di lingkungan kampus.

Ketua Program Studi Keperawatan UNRIYO, Fajarina Latu Asmarani, mengatakan mahasiswa nan berasal dari beragam wilayah memang mempunyai latar belakang akses nan berbeda. Dalam beberapa kasus, mahasiswa dari wilayah tertentu memerlukan pendampingan lebih intensif, terutama dalam penggunaan teknologi.

“Kalau kita bilang teman-teman di Jawa, di Kalimantan, di Sumatera mungkin sudah pembaruan terhadap teknologi. Mungkin nan dari timur itu keterbatasannya tidak terlalu banyak akses, sehingga memang teman-teman DPA saya minta untuk tolong dibimbing,” ujarnya.

Ketua Program Studi Keperawatan UNRIYO, Fajarina Latu Asmarani. Foto: Pandangan Jogja/Yusuf Hayy.

Menurutnya, support dari lingkungan sekitar turut menjadi aspek krusial dalam membantu mahasiswa beradaptasi.

“Ternyata memang pengarahan dari kami mungkin salah satu aspek nan mendukung, juga teman-teman di lingkungan kelasnya itu akhirnya suportif untuk membantu,” tambahnya.

Di tengah proses belajar nan tidak mudah, Yerince perlahan mulai menyesuaikan diri dengan ritme perkuliahan. Ia tidak hanya mengejar materi akademik, tetapi juga hal-hal dasar nan sebelumnya belum sempat dia akses. Bagi Yerince, semua proses itu merupakan bagian dari perjalanan nan dia pilih.

Dari Wuyuneri ke Yogyakarta, jarak nan dia tempuh bukan sekadar perjalanan fisik. Di bangku kuliah, dia belajar banyak perihal dari awal, agar suatu hari bisa kembali ke kampungnya dan membawa perubahan bagi akses kesehatan nan selama ini tetap terbatas.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan