Cerita Warga Reo Setiap Menit Terguncang Gempa Susulan

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan aktivitas gempa susulan tetap bakal berjalan dalam beberapa minggu ke depan, meski intensitasnya secara berjenjang bakal menurun.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Dr. Nelly Florida Riama mengatakan, berasas pemodelan sementara terhadap peluruhan gempa susulan, aktivitas tersebut diperkirakan terus menurun hingga mencapai tingkat nan relatif rendah dalam beberapa minggu mendatang.

"Bahwa berasas hasil pemodelan sementara terhadap peluruhan gempa susulan, aktivitas ini diperkirakan bakal terus menurun secara berjenjang dalam beberapa minggu ke depan," kata Nelly dalam bertemu pers daring di YouTube BNPB, Rabu (19/8/2026).

Menurut Nelly, berasas model nan digunakan BMKG, laju gempa susulan diperkirakan mulai berada pada tingkat relatif rendah dalam dua hingga tiga minggu sampai sekitar satu bulan ke depan.

"Model nan ada saat ini memperkirakan laju gempa susulan dapat mencapai tingkat nan relatif rendah di 2 alias 3 sampai satu bulan ke depan, mungkin di akhir September 2026," tambahnya.

Namun, Nelly menegaskan perkiraan tersebut bukan pemisah waktu bahwa gempa susulan bakal berakhir sepenuhnya.

"Perlu kami tegaskan juga bahwa ini bukan berfaedah bahwa setelah tanggal tersebut gempa tidak dapat terjadi, ya. Estimasi ini sifatnya sangat bergerak dan bakal terus diperbaharui sesuai dengan perkembangan info gempa susulan nan kami rekam," katanya.

Berdasarkan info BMKG hingga Rabu (19/8/2026) pukul 14.00 WIB, jumlah gempa susulan di NTT telah mencapai 3.002 kejadian. Kekuatan gempa susulan tersebut bervariasi, mulai dari M1,1 hingga M6,2.

"Dan sebanyak 86 gempa bumi susulan ini dilaporkan dirasakan oleh masyarakat, dan terdapat 25 kejadian dengan magnitudo 5 alias lebih," ungkap Nelly.

Banyaknya gempa susulan tersebut merupakan bagian dari proses alami setelah gempa utama. Nelly menjelaskan kerak bumi memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri setelah terjadi pelepasan daya dalam jumlah besar akibat gempa utama.

"Sebenarnya itu adalah bagian dari proses penyesuaian kerak bumi alias pelepasan daya sehingga mendapatkan kesetimbangan nan baru, setelah ada terjadinya gempa utama nan besar," terang Nelly.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita