Cerita Warga Kampung Adat Sade: Api Membesar, Coba Padamkan Pakai Air di Ember

Sedang Trending 23 menit yang lalu
Warga mengais puing sisa barang-barang mereka nan terbakar di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTO

Kebakaran dahsyat melanda Kampung Adat Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Sabtu (22/8) malam. Api dengan sigap membesar dan menjalar dari satu gedung ke gedung lainnya hingga menghanguskan puluhan rumah serta sejumlah akomodasi budaya dan wisata.

Semandiarta, Ketua RT Dusun Sade 1, menceritakan detik-detik awal kebakaran. Api pertama kali terlihat dari rumah seorang penduduk nan saat itu sedang melaksanakan salat isya.

Setelah selesai salat, penduduk tersebut menuju bagian belakang rumah dan mendapati api sudah berkobar.

“Belum diketahui penyebabnya apa, kemungkinan besar dari kabel listrik nan kurang bagus,” kata Semandiarta, Minggu (23/8).

Dia menjelaskan, ada salah seorang penduduk lanjut usia nan sebenarnya lebih dulu mengetahui munculnya api. Namun penduduk tersebut hanya bisa berteriak. Karena keterbatasan usia, dia tidak bisa melakukan banyak ketika api mulai membesar.

Kondisi diperparah lantaran sebagian penduduk sedang tertidur, sementara sebagian lainnya meninggalkan kampung untuk menghadiri aktivitas pernikahan budaya di desa sekitar.

Warga mengais puing sisa barang-barang mereka nan terbakar di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTO

Saat api mulai membesar, penduduk nan mengetahui kejadian berupaya melakukan pemadaman secara mandiri. Mereka menggunakan peralatan seadanya, termasuk ember dan selang, untuk mengambil air dan menyiram gedung nan terbakar.

“Di dalam kampung ini kosong. Setelah api membesar, kami berupaya padamkan api dengan air ember,” ujarnya.

Semandiarta mengatakan, hanya beberapa penduduk nan saat itu berupaya melawan kobaran api. Posisi rumah nan pertama terbakar berada di bagian atas permukiman sehingga api dengan sigap merambat ke rumah-rumah lain nan berada di bawahnya.

“Kami hanya berlima nan padamkan api. Kalau mungkin 20 orang, bisa kami tahan apinya agar tidak menjalar,” katanya.

Ratusan rumah di Desa Adat Sade, NTB, terbakar pada Sabtu (22/8/2026) malam. Foto: Dok. Istimewa

Ketika kebakaran semakin besar, penduduk nan berada di dalam kampung berupaya menyelamatkan diri. Sebagian wanita berlari keluar sembari membawa barang-barang berbobot lantaran cemas terjebak dalam kobaran api.

Namun, tidak semua kekayaan barang sukses diselamatkan. Sejumlah kain tenun hasil kerajinan penduduk serta peralatan menenun tradisional ikut terbakar. Padahal, aktivitas menenun tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sade secara turun-temurun.

Semandiarta menyebut sekitar 500 penduduk terdampak akibat kebakaran tersebut. Selain 75 rumah adat, api juga menghanguskan masjid, berugak budaya sekenam, berugak budaya sekempat, lumbung, art shop milik warga, serta bilik mandi nan digunakan wisatawan.

“Seluruhnya gosong terbakar,” ujarnya.

Upaya pemadaman secara berdikari dilakukan lantaran penduduk panik dan tidak mengetahui pihak nan kudu segera dihubungi ketika api mulai membesar. Mereka hanya mengandalkan peralatan nan tersedia di sekitar permukiman.

Kondisi semakin susah setelah aliran listrik padam sehingga mesin pompa air tidak dapat digunakan. Warga akhirnya berjuntai pada ember dan selang untuk mengambil air dan berupaya memperlambat penyebaran api.

“Saya bingung mau menghubungi siapa. Teman-teman juga hanya konsentrasi cari air untuk padamkan api. Dan meskipun pemadam kebakaran datang, mungkin tetap tidak bisa terselamatkan lantaran api sigap sekali menjalar,” katanya.

Kebakaran tersebut sekarang menyisakan kerusakan parah di Kampung Adat Sade. Selain kehilangan tempat tinggal, penduduk juga kehilangan beragam barang nan berangkaian dengan kehidupan sehari-hari serta aktivitas budaya dan ekonomi masyarakat setempat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan