Cerita Warga Iran soal Kondisi Ekonomi Sebelum Perang sampai Gencatan Senjata

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Warga berkumpul di Lapangan Enqelab, Teheran, Rabu (8/4/2026), menyusul pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Foto: STR / AFP

Warga Iran menceritakan gimana kondisi ekonomi negaranya sebelum perang dengan AS-Israel dimulai sampai gencatan senjata berjalan saat ini. Sebelum perang nan meletus akhir Februari 2026, inflasi Iran sudah mencapai nyaris 50 persen.

Diberitakan AFP, kondisi perekonomian nan tidak baik memicu protes besar-besaran dari masyarakat. Setelah perang berjalan lima minggu, persoalan semakin bertambah.

Di luar ketakutan bakal serangan setiap hari, akibat paling langsung dari perang adalah kenaikan nilai barang-barang kebutuhan pokok, makanan, minuman, obat-obatan, popok, hingga makan siang di kafe-kafe kekinian di kota.

Amir, seorang penduduk Iran berumur 40 tahun dari Teheran, mengatakan kepada AFP gimana nilai roti panggang bermerek nan biasa dibelinya tiba-tiba melonjak dari 700.000 riyal menjadi 1.000.000 riyal.

Seorang temannya juga kudu bayar 180 juta riyal untuk tablet pengobatan kanker nan harganya sekitar 3 juta riyal sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran.

"Dan mereka kudu membeli tablet setiap 20 hari," jelas Amir.

Kaveh, seorang seniman di ibu kota, menjelaskan gimana kafe terkenal Dobar di pusat kota Teheran meningkatkan nilai sebesar 25 persen untuk semua peralatan dalam satu hari.

Bahkan di barat laut Iran, nan biasanya kaya bakal impor dari negara tetangga Turki, beberapa produk harganya tiga kali lipat dari nilai biasanya.

Sebagai tanda inflasi nan merajalela, bank sentral memperkenalkan duit kertas baru senilai 10 juta riyal pada pertengahan Maret, pecahan terbaru dan terbesar nan beredar.

Personel darurat bekerja di letak serangan rudal Iran nan menghantam gedung tempat tinggal di Haifa, Israel, Senin (6/4/2026). Foto: Shir Torem/REUTERS

Sebulan sebelumnya, bank sentral telah meluncurkan duit kertas senilai 5 juta lembar, nan saat itu merupakan rekor, mencerminkan penurunan tajam nilai mata duit nan telah ambruk sejak perang pertama dengan AS-Israel pada Juni tahun lalu.

Kesulitan ekonomi dan devaluasi riyal merupakan aspek kunci di kembali protes anti-pemerintah terbesar pada awal tahun ini, nan dimulai dengan mogok para pedagang di pasar terkenal Teheran. Ribuan orang tewas dalam penindakan nan terjadi kemudian, menurut golongan kewenangan asasi manusia.

Kenaikan nilai baru-baru ini semakin menambah beban anggaran domestik, banyak orang juga kehilangan pekerjaan. Perang telah menyebabkan banyak upaya tutup, membikin tenaga kerja berada dalam ketidakpastian dan tidak percaya apakah mereka bakal menerima penghasilan alias tidak.

Pasar-pasar di seluruh negeri telah membatasi jam buka mereka, sementara perusahaan bangunan memberhentikan pekerja secara massal, banyak di antaranya adalah migran dari Afghanistan.

"Ketika perang dimulai, kesempatan kerja menjadi langka dan orang-orang berakhir membangun," kata Faizullah Arab, seorang pelukis pengangguran berumur 23 tahun, kepada AFP, saat dia kembali ke Afghanistan dari Teheran.

"Para pengusaha telah pergi ke luar negeri dan bisnis-bisnis telah berhenti," tambah rekan senegaranya, Walijan Akbari, seorang pekerja berumur 42 tahun.

Siapa saja nan berjuntai pada internet alias menjalankan upaya e-commerce juga kesulitan dengan pemadaman komunikasi selama lebih dari lima minggu, nan hanya menyisakan jaringan nasional Iran secara terbatas.

"Sejujurnya saya sangat takut tentang masa depan kita, terutama secara ekonomi," kata seorang wanita berumur 35 tahun nan bekerja di bagian finansial di pusat Isfahan kepada AFP.

"Situasinya sekarang sangat buruk. PHK massal, penutupan nan meluas, semuanya terasa sangat berat," tambahnya.

Serangan udara terhadap industri baja Iran, akomodasi petrokimia, jembatan, dan jalan raya juga kemungkinan bakal berakibat jangka panjang pada perekonomian nasional.

Masalah Perbankan

Ilustrasi International Monetary Fund (IMF). Foto: Maxx-Studio/Shutterstock

Mantan pejabat senior di Dana Moneter Internasional nan unik menangani Timur Tengah, Adnan Mazarei, mengatakan kepada AFP bahwa sektor perbankan usai perang juga bakal menjadi area perhatian utama.

"Sebelum pecahnya perang dengan Israel, AS, dan Iran, sistem perbankan berada dalam situasi sulit, sangat rentan secara umum, dengan neraca finansial nan lemah," kata Mazarei kepada AFP.

Adnan mengatakan sektor ini bakal semakin terpukul akibat perang, lantaran konsumen dan upaya tidak bisa bayar pinjaman.

Pembatasan diberlakukan pada mesin ATM selama perang untuk mencegah penarikan massal, tetapi kartu dan jasa perbankan online umumnya berfaedah selama sebagian besar konflik.

Kegagalan perbankan terbaru melibatkan Ayandeh Bank, salah satu bank swasta terbesar di negara Iran, nan runtuh pada akhir tahun lampau lantaran beban pinjaman macet dan kerugian setara USD 5,2 miliar.

Mazarei menduga pengamanan lebih lanjut mungkin diperlukan, dengan bank sentral terpaksa mencetak duit lagi. Berdasarkan info Badan Statistik Iran, inflasi tahunan Iran mencapai 47,5 persen pada bulan Februari 2026.

"Tentu saja, ini bakal meningkatkan jumlah duit beredar, nan sekali lagi bakal menyebabkan inflasi nan lebih tinggi," tutur Mazarei.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan