Jakarta -
Pandemi COVID-19 di awal 2020 tak bisa dipungkiri melahirkan banyak pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) baru. Salah satunya adalah Jo Viviani Sanita, sosok di kembali suksesnya jenama ramuan masakan instan unik Aceh berjulukan ShanJay Cook.
Pagi itu, Vivi mengikuti sebuah training di Rumah BUMN BRI di Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat. Ia membawa dua produk andalannya ialah Bumbu Gulai Aceh Serbaguna dan Bumbu Mie Goreng Aceh nan tampil dengan bungkusan baru.
Vivi kemudian antusias menceritakan awal mula perjalanan upaya UMKM ShanJay nan diambil dari nama kedua anaknya Shania dan Jayson. Siapa sangka, sebelum sukses meracik ramuan masakan ini, dia justru bergulat di bagian nan jauh berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya awalnya tuh bukan upaya bumbu. Tapi produk tas anak. Nah gara-gara pandemi, sekolah pada libur, jadinya nggak bisa lanjut," ujarnya kepada detikcom belum lama ini.
Hantaman pandemi nan menghentikan aktivitas sekolah itu membikin upaya tas anak milik Vivi ikut terdampak. Ia pun memutuskan untuk tidak melanjutkan upaya tersebut dan pindah hadapan ke upaya kuliner.
"Kalau tas anak kayaknya agak susah memperkuat di kondisi seperti itu. Akhirnya saya pikir, mending beranjak ke makanan aja, lebih unik dan pasarnya luas," jelasnya.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Belajar dari Saudara
Alasan Vivi terjun ke upaya ini didasari oleh kecintaan sang suami bakal kuliner kampung halamannya di Kota Sigli, Provinsi Aceh. Awalnya, mereka selalu mendapatkan kiriman ramuan instan langsung dari family sang ibu di Aceh.
"Karena kami penasaran gimana sih langkah membikin ramuan nan betul-betul pas, akhirnya kami memutuskan untuk main ke rumah saudara. Di sanalah kami mulai belajar meracik ramuan Aceh nan asli," ungkapnya.
Menariknya, Vivi mengaku bahwa dirinya bukanlah sosok nan kegemaran berlama-lama di dapur. Namun, kemauan nan tinggi untuk menghidangkan makanan unik Aceh mendorongnya untuk terus belajar.
"Jujur, saya tuh sebenarnya bukan orang nan suka memasak. Tapi lantaran suami suka banget makan makanan unik daerahnya, akhirnya saya coba bikin makanan-makanan nan dia suka saja," katanya.
Lambat laun, keduanya sukses membikin resep makanan unik seperti Mie Goreng Aceh, Mie Gulai Aceh, hingga Mie Kocok Aceh. Vivi nan berilmu menawarkan produk, usil mempromosikan makanan-makanan tersebut ke orang terdekatnya.
"Saya share ke grup-grup WhatsApp, ke saudara, keluarga, apalagi ke grup orang tua sekolah. Itu rame nan pesan. Dari situ kita mulai buka PO (pre order) di 2021," katanya.
Mengemas Bumbu Instan
Singkat cerita, ketika pandemi mulai mereda dan sang suami kembali sibuk bekerja, usahanya berada di persimpangan. Di titik inilah Vivi putar otak agar usahanya tetap melangkah dengan langkah mengemas ramuan instan siap masak tersebut.
Di awal produksinya, bungkusan Bumbu Gulai dan Bumbu Mie Goreng Aceh nya tetap diproses secara biasa sehingga memerlukan perlakukan unik agar tak sigap basi. Vivi mulai belajar lagi untuk meningkatkan kualitas produknya.
"Waktu itu kan saya tetap belum sterilisasi suhu tinggi alias retort gitu. Jadi kudu masuk ke kulkas. Terus ke freezer. Terus saya bekuin jika untuk kirim keluar kota," ungkap Vivi.
Vivi mengganti kemasannya menggunakan teknologi sterilisasi retort sehingga produknya bisa tahan hingga satu tahun tanpa bahan pengawet.
"Karena jika di retort itu memang mematikan kuman nan merusak. Biasanya bisa tahan satu tahun tanpa pengawet," jelas Vivi.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Pelatihan di Rumah BUMN BRI
Selain itu, untuk meningkatkan jangkauan pasarnya, Vivi mulai aktif memperluas jejaring dengan berasosiasi organisasi UMKM. Langkah besarnya dimulai ketika berasosiasi menjadi bimbingan Rumah BUMN BRI pada 2025.
Vivi menyadari dalam membesarkan ShanJay dia tidak bisa bergerak sendiri, butuh ekosistem nan mendukung branding produknya. Salah satunya dengan rutin mengikuti pelatihan.
Selama menjadi UMKM bimbingan Rumah BUMN BRI, Vivi mendapatkan banyak sekali pengetahuan berfaedah melalui beragam program edukasi nan disediakan secara terjadwal.
"BRI ini pelatihannya termasuk intens ya. Dalam seminggu aja itu di-posting di grup 2-3 kali. Kadang salah satu hari itu bisa ada 2. Tapi nan saya tetap ingat itu branding," ungkapnya.
Tidak hanya seputar manajemen upaya konvensional, Vivi juga memanfaatkan kesempatan di Rumah BUMN BRI untuk mempelajari teknologi AI demi mendukung kebutuhan promosi digitalnya.
"Saya juga banyak ikut training soal AI untuk UMKM sebagai sarana promosi dan lain-lain kayak gitu ya," jelasnya.
Tidak hanya itu, Vivi juga dibantu dalam pembuatan materi konten promosi untuk media sosialnya. Rumah BUMN BRI berkomitmen mendampingi agar bisnisnya semakin berkembang dan dikenal secara luas.
Merambah Pasar Ritel
Perlahan tapi pasti, usahanya semakin terarah. Vivi tidak lagi sekadar menanti pesanan. Ia sudah bisa memproduksi ramuan instan dalam skala besar sekaligus untuk dijadikan stok siap kirim.
Strategi penjualannya pun mulai bergeser ke arah nan lebih modern. Jika dulu dia hanya melayani sistem pre-order, sekarang ramuan instan ShanJay mulai merambah ke rak-rak supermarket lewat skema kemitraan.
"Jadi saya coba konsinyasi di Supermarket dekat rumah, di Pasar Laris itu ada lima toko dan rupanya jenis penduduk perumahan dekat Pasar Laris itu memang kebanyakan nyari ramuan nan instan, dan cocok gitu sama ramuan ini," ungkapnya.
Selain itu, Vivi juga memanfaatkan jejaring kontak WA untuk mendongkrak penjualan. Strategi sederhana ini diakuinya justru sangat efektif dan sigap dalam menjaring pengguna baru.
"Jadi di WA itu memang lebih sigap ya. Setiap promosi di story, pasti ada nan pesan. Dari nan nggak tau, dia jadi tau gitu," urai Vivi.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Cuan Jutaan Rupiah
Diketahui, modal awal nan dikeluarkan Vivi untuk membangun ShanJay terhitung cukup terjangkau. Namun kini, upaya ramuan instan unik Aceh tersebut sudah bisa mendatangkan omzet belasan juta rupiah setiap bulannya.
"Dulu modalnya kurang lebih Rp 10 juta. Omzetnya (sekarang) antara Rp 15 jutaan (per bulan) begitu lah. Karena (penjualannya) banyak di toko-toko. Terus juga saya ada ruang catering juga," beber Vivi.
Dari segi ragam ukuran produk, ShanJay sebenarnya mempunyai dua opsi kemasan. Vivi sengaja lebih banyak menonjolkan ukuran mini terlebih dulu untuk mengenalkan ke pelanggan-pelanggan baru.
"Kalau nan mini ini harganya Rp 30.000, jika nan besar Rp 40.000. Kalau beli Pasar Laris Taman Surya itu harganya kisaran Rp 35.000 - Rp 45.000," jelasnya.
Ke depan, Vivi menargetkan jangkauan pasar nan lebih luas hingga ke luar daerah. Untuk memuluskan langkah ekspansi tersebut, dia sekarang memilih konsentrasi menata dan meningkatkan strategi branding produknya.
Wadah UMKM Naik Kelas
Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana mengatakan Rumah BUMN BRI datang sebagai wadah bagi para pelaku upaya lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara cuma-cuma untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas.
Menurutnya, UMKM tidak sekadar tumbuh, melainkan beralih bentuk menuju kemandirian ekonomi digital nan berkelanjutan. Salah satu contoh nyata adalah Vivi dengan ShanJay Cook, pelaku upaya nan mengawali perjuangannya membangun upaya dari nol lewat proses belajar dan pendampingan di sini.
Vivi hanyalah satu dari sekian banyak kisah sukses UMKM. Di Rumah BUMN BRI, berkumpul ribuan pelaku upaya dari beragam sektor, mulai dari kuliner minuman, fesyen, kerajinan tangan, hingga penyedia jasa. Total ada sekitar 11.000 UMKM bimbingan nan berlindung di bawah Rumah BUMN BRI, di mana 6.000 di antaranya aktif bergerak mengikuti beragam program pemberdayaan.
"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain nan memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena persoalan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.
Jajang mengungkapkan UMKM saat pertama kali berasosiasi Rumah BUMN BRI, UMKM bakal diarahkan untuk mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya bakal menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat nan memetakan 3 aspek terunggul dan 3 aspek terendah dari upaya tersebut.
"Kami bakal mengarahkan mereka untuk konsentrasi mengikuti training pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program training dengan mengundang narasumber nan mahir expert di bidangnya," terangnya.
Jajang menyebut berbareng BRI, UMKM tak hanya tumbuh tapi juga beralih bentuk menuju ekonomi digital nan berdikari dan berkelanjutan. "Setiap senyuman dari pelaku UMKM nan sukses naik kelas adalah daya bagi kami," ujarnya.
Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM nan aktif mengikuti beragam program training dan pendampingan.
"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, lantaran tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, konsentrasi utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," pungkasnya.
(akd/ega)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·