Liputan6.com, Jakarta - Suara ratusan kambing mengembik dari bilik-bilik kandang milik Sultan Muda Farm mitra Dompet Dhuafa di Desa Ceumpeudak, Kecamatan Tanah Jambu Aye, Kabupaten Aceh Utara. Seorang laki-laki berkaus hitam lengan panjang, melangkah menelusuri lorong, kanan kirinya diapit kandang panggung.
Dia adalah Agus Sri, peternak kambing. Agus sudah lama menekuni pekerjaan ini. Baginya, kambing bukan sekadar hewan piaraan namun juga aset perekonomian.
Satu persatu dia mengecek kambing, kondisi kandang, asupan pakan dan minum. Jika ditemukan sesuatu nan tidak beres, dengan cekatan dia menanganinya.
Kondisi Agus saat ini jauh lebih baik, daripada tahun lampau ketika musibah banjir bandang menerjang Desa Ceumpeudak. Kiriman air bah keruh bercampur batang-batang kayu merupakan mimpi jelek nan menjadi kenyataan.
Pagi buta di bulan November 2025, air tanpa permisi menenggelamkan permukiman. Desa Ceumpeudak dikepung banjir dari segala penjuru. Ketinggian banjir tidak naik perlahan, namun langsung tinggi. Agus dan penduduk lainnya tidak sempat mengevakuasi kekayaan barang nan dimiliki, termasuk kambing-kambing peliharaan.
"Pagi itu dengan datangnya air secara tiba-tiba, tidak dapat menyelematkan satu ekor kambing pun. Air langsung tinggi," kata Agus kepada Liputan6.com di Desa Ceumpeudak, Rabu (29/4/2026).
Warga desa berburu dengan waktu untuk menuju tempat tinggi. Satu-satunya kekayaan berbobot nan dibawa hanya busana nan dikenakan. Di belakang mereka, air dengan kuasanya menenggelamkan rumah-rumah.
Ketinggian air sudah mencapai tiga meter. Sepanjang mata memandang, nan terlihat hanya kolam raksasa berwarna cokelat keruh.
Di hari pertama banjir, penduduk Desa Ceumpeudak hanya memperkuat di tempat-tempat tinggi. Tidak ada nan berani kembali ke desa. Perasaan takut, resah ditambah kondisi bentuk nan menurun membikin mereka tidak mempunyai banyak pilihan.
Baru di hari kedua pascabanjir, penduduk termasuk Agus mulai berani turun kembali ke desa. Kala itu ketinggian banjir dua meter.
Agus menerjang banjir dengan beragam cara. Perasaan resah dan cemas bakal nasib-nasib hewan ternaknya, menjadi pendorong kuat meski situasi belum kondusif untuk kembali ke desa.
Sesampainya di letak peternakan, kondisi nan lebih menguras emosional Agus terpampang di depan mata. Ratusan kambing piaraan meninggal mengambang. Menyisakan kesunyian nan panjang.
"Kami memandang kambing-kambing tergeletak tidak bisa diselamatkan. Dari 250 kambing, hanya tersisa delapan. Lembu dari sembilan ekor, sisa satu" cerita Agus.
Kala itu, seribu pertanyaan tanpa jawaban memenuhi akal Agus. Ini tentang bencana, tentang penderitaan dan tentang hari-hari ke depan nan belum pasti.
Bangkit dari Keterpurukan
Dari ratusan kambing, hanya delapan nan selamat. Rupanya, kambing-kambing ini bisa lolos dari amukan banjir lantaran naik ke tempat pakan nan posisinya lebih tinggi.
Kehilangan besar ini menjadi realita pilu hingga membikin mental Agus sempat drop untuk beberapa saat. Jerih payahnya selama ini mengurus kambing, kudu berujung pada peristiwa tragis.
Saat banjir sudah surut, Agus mulai bangkit kembali. Dengan semangat baru kembali menata kehidupan, Agus membersihkan kandang-kandang hewan ternak dari endapan lumpur. Ratusan buntang kambing dia kubur berbareng dengan cerita-cerita pahit tentang banjir.
Ketika kandang telah siap untuk digunakan sebagai peternakan kembali, support permodalan juga diterima. Agus mulai semua dari awal. Membeli kambing 'bibit' untuk diternak.
Kini mendekati hari raya Iduladha, kambing-kambing di Sultan Muda Farm sudah memasuki usia sebagai hewan kurban. Sebagian besar hewan ternak sudah dipesan.
Dari sekian banyak kambing nan dijual, Agus mengaku tidak bakal melepas delapan kambing nan selamat dari banjir. Alasannya, hewan tersebut menjadi kenangan dan juga semangat bangkit dari keterpurukan.
"Buat kenangan bahwa di sini pernah terjadi banjir luar biasa nan menghilangkan semuanya," pungkasnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·