Liputan6.com, Jakarta - Kasus dugaan korupsi nan menyeret Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah kembali memunculkan perbincangan soal style hidup pejabat penegak hukum. Di tengah sorotan terhadap dugaan kepemilikan aset berupa emas dan duit tunai berbobot ratusan miliar rupiah nan disebut ditemukan dalam sebuah brankas berpengamanan khusus, publik kembali membandingkan gimana pejabat negara menjalani hidupnya.
Puluhan tahun lalu, Indonesia pernah mempunyai seorang Jaksa Agung nan justru dikenang lantaran kisah nan sangat berbeda. Baharuddin Lopa tidak meninggalkan cerita tentang rumah mewah alias kekayaan melimpah.
Salah satu kisah nan paling sering dikenang justru soal sebuah celengan.
Mengutip kitab Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa, Lopa menabung receh demi receh dari gajinya untuk merenovasi rumah sederhana miliknya di Makassar. Tabungan itu pun belum cukup.
Untuk menambah biaya renovasi, Lopa tidak memanfaatkan jabatannya. Ia membuka wartel lima bilik di samping rumahnya di Pondok Bambu, Jakarta. Ia juga membuka upaya penyewaan PlayStation dan sesekali menerima honor dari menulis kolom di surat kabar.
Bagi Lopa, tambahan penghasilan kudu berasal dari pekerjaan nan sah, bukan dari kedudukan nan sedang diemban.
Kisah itu menjadi potret mini dari perjalanan hidup seorang jaksa nan dikenal keras terhadap korupsi, tetapi sangat sederhana dalam kehidupan pribadi.
Lahir di Mandar, Sulawesi Selatan, pada 27 Agustus 1935, Lopa meniti pekerjaan panjang di bumi hukum. Ia pernah menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Ternate, Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Menteri Kehakiman dan HAM, hingga dipercaya menjadi Jaksa Agung pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.
Meski hanya sekitar sebulan menjabat Jaksa Agung sebelum meninggal bumi di Riyadh pada 2001, sejumlah kebijakannya langsung menarik perhatian. Ia memerintahkan pemulangan Sjamsul Nursalim dan Prajogo Pangestu dari luar negeri untuk diperiksa.
Ia juga menangani perkara nan melibatkan Akbar Tanjung, Arifin Panigoro, Ginanjar Kartasasmita hingga membuka penyelidikan terhadap mantan Presiden Soeharto.
Di luar pekerjaannya, Lopa dikenal sangat disiplin. Ia masuk instansi pukul 08.00, pulang sore, lampau kembali bekerja pada malam hari hingga larut.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·