Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin(MI/Arnoldus Dhae)
PARTISIPASI masyarakat dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus mencatatkan lonjakan signifikan. Hingga Juni 2026, jumlah cakupan pemeriksaan kesehatan nasional telah menembus 68 juta peserta, nyaris mendekati total capaian sepanjang tahun lalu.
Capaian tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin usai menghadiri pembukaan 67th Annual World Congress International College of Angiology (ICA) 2026 nan dirangkaikan dengan 6th Indonesian Vascular Annual Scientific Congress (IndoVASC) di The Westin Resort Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat (31/7).
Menurut Budi, pemerintah sekarang mulai mengalihkan konsentrasi dari pemeriksaan massal menuju penanganan lanjutan bagi masyarakat nan telah terdeteksi mempunyai aspek akibat penyakit tidak menular. "Ya, sekarang kan 70 juta tahun lampau setahun. Sekarang per Juni aja sudah 68 juta. Dan sekarang kita mulai konsentrasi ke tata laksananya," terang dia.
Ia menjelaskan masyarakat nan diketahui mengalami hipertensi, glukosuria maupun kolesterol tinggi sekarang diarahkan memperoleh pengobatan rutin secara cuma-cuma di Puskesmas agar tidak berkembang menjadi penyakit nan lebih berat, termasuk penyakit jantung.
"Jadi jika darah tinggi, dia bisa datang ke Puskesmas, dikasih obat gratis, dia mesti minum tiap hari, alias gula tinggi, alias kolesterol tinggi. Dan sekarang kita sedang ukur, apa sudah dia minum obat, darah tingginya turun," papar Budi.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian krusial dari strategi pemerintah menekan nomor penyakit tidak menular melalui penemuan awal dan pengobatan berkepanjangan di akomodasi kesehatan primer.
Menariknya, hasil CKG justru menunjukkan persoalan kesehatan nan paling banyak ditemukan bukan penyakit jantung alias diabetes, melainkan masalah kesehatan gigi. "Gigi bolong itu paling banyak. Karena kurang master gigi," ungkap dia.
Budi menegaskan, meski pemerintah terus memperluas jasa kesehatan, masyarakat tetap kudu menjadikan pola hidup sehat sebagai tembok utama pencegahan penyakit.
Ia mengingatkan bahwa menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala jauh lebih efektif dibanding kudu menjalani tindakan medis ketika penyakit sudah berkembang. (OL/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·