Cegah Tabrakan Kereta Api Terulang, Bos KAI Mau Pakai Teknologi Ini

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah menyiapkan penerapan teknologi baru untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api, dan mencegah akibat tabrakan antar kereta. Teknologi tersebut adalah Automatic Train Protection (ATP), sistem nan memungkinkan pengawasan dan perlindungan perjalanan kereta dilakukan secara otomatis.

Direktur Utama PT KAI (Persero), Bobby Rasyidin mengatakan, saat ini lapisan perlindungan terakhir dalam operasional kereta konvensional tetap berada di tangan masinis. Karena itu, perseroan mulai merencanakan penerapan teknologi nan dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap potensi kecelakaan.

"Kami juga sekarang lagi melakukan perencanaan untuk penerapan teknologi nan namanya Automatic Train Protection (ATP). Kalau sekarang perlindungan dari perjalanan kereta itu last protection-nya, alias last defense-nya itu ada di masinis. Tapi jika kita lihat LRT, LRT itu kan dia GoA (Grade of Automation) 3, dia driverless di mana komputer nan melakukan perlindungan dari potensi tabrakan kereta," kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Ia menuturkan, konsep tersebut sebenarnya telah diterapkan pada sistem transportasi modern seperti LRT Jabodebek nan menggunakan komputer, untuk memantau dan mengendalikan pergerakan kereta sehingga akibat tabrakan dapat diminimalkan.

"Nah di kereta konvensional, kami sedang melakukan perencanaan ini nan kita sebut dengan Automatic Train Protection tadi ya," ujarnya.

Calon tiba di peron Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Selasa (26/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Calon tiba di peron Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Selasa (26/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Calon tiba di peron Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Selasa (26/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Bobby menjelaskan, terdapat dua pendekatan teknologi nan saat ini dipertimbangkan KAI. Pertama adalah teknologi konvensional alias legacy system nan mengandalkan perangkat di jalur rel (wayside) dan perangkat di kereta (onboard).

Dalam sistem tersebut, sensor dipasang baik pada rangkaian kereta maupun di sepanjang jalur rel untuk memantau posisi dan pergerakan kereta secara real time.

"Ini tentunya bakal mahal, bakal berat, dan tentunya ini bakal lama dalam implementasinya," jelas dia.

Selain sistem konvensional, KAI juga mempertimbangkan penggunaan teknologi nan lebih mutakhir berbasis satelit dan komunikasi nirkabel. Teknologi tersebut dikenal sebagai Future Railway Mobile Communication System (FRMCS), nan mulai dikembangkan di beragam negara sebagai generasi baru sistem komunikasi perkeretaapian.

"Ada teknologi baru nan berbasiskan satelit dan wireless, teknologi nan kita sebut dengan FRMCS, Future Railways Mobile Communication System," pungkasnya.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News