Cara Evakuasi Korban Kecelakaan Pesawat Paling Cepat dan Efisien Menurut Sains

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Suasana saat pesawat kargo nan tergelincir dari landasan pacu saat mendarat di di Bandara Internasional Hong Kong, Hong Kong, Senin (20/10/2025). Foto: Tyrone Siu/Reuters

Pesawat terbang selama ini dikenal sebagai moda transportasi paling kondusif di dunia, dan tingkat keamanannya terus meningkat dari waktu ke waktu. Kini, sebuah studi baru mengungkap strategi nan dinilai dapat meningkatkan keselamatan penumpang pesawat saat pemindahan darurat alias terjadi kecelakaan.

Menurut penelitian nan terbit di AIP Advances, salah satu langkah paling efektif untuk mempercepat pemindahan pesawat adalah dengan menempatkan penumpang lansia secara strategis di dalam kabin.

Dalam kondisi darurat, otoritas penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA), menetapkan standar bahwa seluruh penumpang kudu bisa keluar dari pesawat dalam waktu 90 detik.

Namun, standar tersebut dibuat berasas simulasi terkendali dan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Situasi darurat di bumi nyata biasanya jauh lebih kacau, ditambah dengan keberagaman kondisi penumpang di dalam pesawat komersial.

Salah satu aspek krusial adalah usia penumpang. Lansia umumnya lebih rentan mengalami keterbatasan mobilitas, ketangkasan, maupun keahlian kognitif saat menghadapi situasi darurat.

Karena itu, pada Desember 2022, Amerika Serikat memperkenalkan Emergency Vacating of Aircraft Cabin (EVAC) Act, nan mendorong pembaruan patokan pemindahan pesawat agar lebih realistis.

Visualisasi kabin Airbus simulasi nan digunakan dalam penelitian. Foto: AIP Advances/Zhao dkk

Aturan baru tersebut mempertimbangkan beragam kondisi nyata, seperti jarak antar bangku nan sempit, lorong kabin nan kecil, hingga meningkatnya jumlah penumpang lanjut usia dan penyandang keterbatasan mobilitas. Kebutuhan pembaruan ini dinilai semakin krusial lantaran populasi bumi terus menua. Usia median dunia diperkirakan meningkat dari 31 tahun menjadi 36 tahun pada 2050.

Dalam penelitian terbaru, para intelektual mensimulasikan beragam skenario pemindahan akibat kebakaran pada dua mesin pesawat Airbus A320. Situasi seperti ini termasuk salah satu kondisi paling rawan dalam bumi penerbangan lantaran dapat membikin pintu keluar di atas sayap tidak bisa digunakan. Akibatnya, penumpang kudu keluar melalui pintu depan dan belakang pesawat.

Menurut peneliti dari University of Calgary, Kanada, Chenyang Luca Zhang, skenario kegagalan dua mesin memang jarang terjadi, tetapi tetap termasuk kondisi darurat kritis nan kudu diantisipasi.

Ia mencontohkan kejadian terkenal Miracle on the Hudson, ketika pesawat nan diterbangkan Kapten Chesley Sullenberger mengalami kegagalan mesin dobel akibat tabrakan dengan burung.

Peneliti membikin simulasi tiga tata letak bangku Airbus A320 dengan kapabilitas hingga 180 penumpang. Mereka kemudian menguji beragam kombinasi penumpang berasas usia dan jenis kelamin, termasuk penumpang berumur di atas 60 tahun nan dikategorikan sebagai lansia.

Visualisasi tiga skenario pengedaran penumpang, nan menunjukkan mereka nan lanjut usia ditandai warna merah dan deretan pintu keluar darurat di atas sayap dengan warna hijau. Foto: AIP Advances/Zhao dkk

Hasilnya, dari 27 skenario nan diuji, waktu pemindahan tercepat adalah 141 detik. Kondisi ini terjadi ketika jumlah lansia hanya sekitar 20 persen dari total penumpang dan mereka ditempatkan secara merata di dekat area pintu keluar.

Sebaliknya, waktu pemindahan paling lama mencapai 218,5 detik, terjadi ketika jumlah penumpang lansia tinggi, apalagi meski mereka duduk dekat pintu keluar. Temuan ini menunjukkan bahwa pengedaran posisi duduk penumpang dapat memengaruhi kecepatan pemindahan secara signifikan.

Seiring bertambahnya populasi lansia di dunia, kemungkinan penerbangan dengan lebih banyak penumpang lanjut usia juga bakal meningkat.

“Kami berambisi temuan ini membantu maskapai mengurangi akibat secara proaktif,” ujar Zhang.

Menurutnya, dengan memahami pengaruh pengedaran penumpang terhadap proses evakuasi, maskapai mungkin dapat menerapkan pengaturan tempat duduk nan lebih strategis tanpa mengganggu operasional penerbangan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan