Jakarta -
Lima jilid pertama buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global resmi diluncurkan Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud). Buku ini mengulas perjalanan sejarah Indonesia dari akar peradaban Nusantara hingga terbentuknya negara kolonial.
Kemenkebud menyebut publikasi kitab ini sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah sekaligus mendorong pemahaman nan lebih kritis dan reflektif. Lima jilid nan diluncurkan pada 31 Agustus 2026 sekarang dapat diakses secara digital.
Masyarakat nan mau membaca kitab sejarah Indonesia terbaru ini dapat mengakses lima jilid Sejarah Indonesia secara digital melalui laman Pustaka Budaya. Lantas, apa saja nan dibahas dalam setiap jilid dan gimana langkah mengaksesnya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sinopsis Isi Lima Jilid Buku Sejarah Indonesia
Mengutip penjelasan Kemenkebud, berikut sinopsis isi lima jilid pertama kitab Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global.
Jilid I - Akar Peradaban Nusantara
Melalui perpaduan info mutakhir dari arkeologi, genetika, dan paleoantropologi, jilid ini menarasikan kembali Nusantara sebagai "laboratorium evolusi" manusia nan dinamis. Berbagai jenis manusia purba seperti Homo erectus hingga Homo floresiensis disebut pernah hidup berdampingan di area ini.
Link: Baca Jilid I di Pustaka Budaya
Jilid II - Nusantara dalam Jaringan Global: Perjumpaan Budaya dengan India, Tiongkok dan Persia
Jilid ini membahas Nusantara sejak awal milenium pertama sebagai entrepot kosmopolitan dan simpul maritim aktif nan menjadi tempat pertukaran ide, teknologi, dan ritus global. Pembahasan mencakup Borobudur nan memadukan kosmologi Buddha dengan lanskap agraris Jawa serta Sriwijaya sebagai organisasi belajar dan pusat niaga nan terhubung dengan Samudra Hindia.
Link: Baca Jilid II di Pustaka Budaya
Jilid III - Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah
Jilid ini berisi sejarah Islamisasi Nusantara sejak abad ke-7 hingga ke-17 Masehi dan menegaskan posisi Nusantara sebagai simpul krusial jaringan maritim dunia nan terhubung dengan peradaban Timur Tengah. Proses akulturasi aliran Islam dengan kearifan lokal turut dibahas melalui arsitektur masjid, seni nisan, serta tradisi literasi beraksara Jawi dan Pegon.
Link: Baca Jilid III di Pustaka Budaya
Jilid IV - Interaksi Awal Dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi
Jilid IV mengungkap hubungan antara kekuatan lokal dan bangsa-bangsa Barat pada periode modern awal, ialah abad ke-16 hingga ke-18. Kedatangan bangsa Eropa didorong pencarian komoditas rempah-rempah unggulan seperti cengkih, pala, dan lada, dimulai dari Portugis hingga kemudian hadirnya kongsi jual beli VOC.
Link: Baca Jilid IV di Pustaka Budaya
Jilid V - Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial 1800-1900
Jilid V menceritakan periode krusial dari abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Isinya mengisahkan transformasi Nusantara dari wilayah kekuasaan kongsi jual beli VOC nan telah kolaps menjadi entitas politik baru nan dikenal sebagai Negara Kolonial.
Link: Baca Jilid V di Pustaka Budaya
Cara Akses dan Unduh Buku di Pustaka Budaya
Untuk membaca lima jilid kitab tersebut secara digital, berikut langkah nan dapat dilakukan:
- Buka laman Pustaka Budaya https://pustakabudaya.id/.
- Ketik "Sejarah Indonesia" pada kolom pencarian.
- Pilih kitab nan mau dibaca dan buka laman detailnya.
- Klik "Pinjam buku". Akses kitab bertindak selama 30 hari.
- Baca isi kitab melalui laman nan tersedia.
- Klik "Unduh" untuk menyimpan arsip ke perangkat.
- Tunggu proses unduhan hingga selesai dan arsip tersimpan.
Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global terdiri atas 10 jilid utama dan satu jilid faktaneka. Lima jilid pertama diluncurkan pada 31 Agustus 2026 dan ditulis oleh 123 master dari 34 perguruan tinggi serta 11 lembaga non-perguruan tinggi.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan kitab tersebut diharapkan dapat mengubah langkah masyarakat memandang sejarah.
"Kehadiran Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global mengusung misi besar untuk merubah paradigma lama. Sejarah bukan lagi sekadar mahfuz tanggal, nama, tokoh, namun instrumen untuk mengasah logika kritis, memahami akar persoalan kontemporer, dan memetakan arah masa depan bangsa melalui ruang perbincangan nan sangat terbuka," kata Fadli.
(wia/zap)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·