Bukan Sekadar Wisata: Cara Baduy Menjaga Adat di Era Digital

Sedang Trending 6 jam yang lalu

Di era ketika semua perihal diukur dari seberapa digital dan modernnya kita, masyarakat Adat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, justru menunjukkan langkah pandang nan bertolak belakang. Di saat masyarakat luar berlomba-lomba mengejar kecepatan teknologi, penduduk Baduy secara sadar memilih untuk menyaring dan membatasi masuknya budaya luar.

Salah satu perihal paling mendasar nan sering disalahpahami oleh masyarakat luar adalah status area Baduy itu sendiri. Banyak dari kita menyebut kunjungan ke Baduy sebagai "pariwisata" alias "berwisata". Padahal, bagi masyarakat budaya setempat, istilah tersebut kurang tepat.

Mengapa Bukan "Wisata", tapi "Saba Budaya"?

Sesi obrolan berbareng Jaro (tokoh adat) saat memberikan penjelasan mengenai tatanan budaya dan konsep Saba Budaya. (Foto: Dok. Pribadi)

​Berdasarkan penelusuran dan wawancara langsung dengan tokoh adat, Jaro. serta masyarakat setempat, lembaga budaya Baduy secara tegas menolak label pariwisata. Menurut mereka, kata "wisata" sering kali membentuk pola pikir bahwa visitor bebas bertindak, bersenang-senang, alias berpakaian sesuka hati seperti di tempat liburan umum. ​

Sebagai gantinya, mereka menekankan konsep "Saba Budaya". Dalam bahasa Sunda, saba berfaedah bersilaturahmi alias berkunjung. Istilah ini menuntut setiap tamu nan datang untuk menempatkan diri sebagai pembelajar dan menghormati tatanan norma serta etika budaya nan berlaku.

​"...Ketika dianggap alias dibilang wisata, maka orang di mana-mana berpikir pakaiannya bebas. Sedangkan ketika masuk ke Baduy, ranahnya sudah beda. Ada suku anak dalam nan kudu dijaga moralitasnya, termasuk dalam perihal berpakaian," ungkap Tokoh Adat (Jaro) Baduy.

Pemandu Lokal sebagai "Benteng" Adat

​Meningkatnya kunjungan orang luar, terutama di titik transit seperti Terminal Ciboleger membikin hubungan budaya tak terhindarkan. Untuk menjaga agar nilai budaya tidak tergerus, pemandu lokal nan kebanyakan berasal dari Baduy Luar memegang peranan kunci.

Mereka tidak sekadar mengantar jalan, tetapi bertindak sebagai mediator budaya. Pemandu inilah nan mengedukasi visitor mengenai patokan ketat, mulai dari larangan memakai sabun di area aliran sungai Baduy Dalam, patokan mengambil foto, hingga tata langkah bersikap santun di area adat.

Pemandu lokal Baduy Luar saat menjelaskan patokan budaya dan batas wilayah nan kudu dipatuhi pengunjung. (Foto: Dok. Pribadi)

Menjaga HP dan Kompromi Teknologi

​Bagi penduduk Baduy Luar, modernisasi tidak ditolak secara mentah-mentah. Telepon genggam (smartphone) sudah mulai digunakan untuk kebutuhan praktis saat berjalan ke luar daerah. Namun, penggunaan teknologi ini tetap berada dalam pengawasan budaya nan ketat. ​

Pemeriksaan alias razia berkala tetap dilakukan oleh lembaga budaya untuk memastikan teknologi tidak merusak pola pikir dan moralitas masyarakat. Seperti nan disampaikan oleh Jaro setempat, teknologi memang susah dibendung total, tetapi arusnya bisa dipelihara dan diperlambat melalui pendekatan kultural dan mediasi adat.

Pelajaran dari Tradisi Lisan dan Pendidikan Kultural

Di saat anak-anak modern berjuntai pada sekolah formal, anak-anak Baduy belajar langsung dari orang tua dan tokoh budaya melalui tradisi lisan. Anak laki-laki belajar menjaga alam dan bertani dari ayahnya, sementara anak wanita belajar norma serta keahlian rumah tangga dari ibunya.

​Sistem pendidikan nonformal ini terbukti efektif membentuk karakter nan menghormati alam, menjaga rimba larangan, dan merawat keselarasan sosial tanpa perlu berjuntai pada kurikulum formal.

Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat Baduy mengajarkan kita bahwa perubahan era tidak kudu diterima secara bulat-bulat. Melalui prinsip Saba Budaya, Baduy membuktikan bahwa suatu organisasi bisa tetap relevan dan beradaptasi tanpa kudu mengorbankan akar budaya dan jati dirinya.

​Bagi kita nan mau berkunjung, ingatlah satu perihal kita datang bukan sebagai pelancong nan mau dilayani, melainkan sebagai tamu nan datang untuk bersilaturahmi dan menghormati patokan sang tuan rumah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan