Bukan Hormuz! Iran Bisa Tutup Selat Ini, Harga Minyak Bakal "Meledak"

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik nan terus memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi memasuki babak nan jauh lebih berbahaya. Setelah sukses mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, Iran sekarang memberi sinyal siap memainkan "kartu" paling berisiko dengan memanfaatkan sekutunya, golongan Houthi di Yaman, untuk menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis nan menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Jika skenario tersebut betul-betul terjadi, dua jalur pelayaran daya terpenting bumi dapat lumpuh secara bersamaan. Para analis memperingatkan kondisi itu berpotensi mengguncang perdagangan dunia dan mendorong nilai minyak melonjak drastis.

Mengutip laporan Reuters, Rabu (15/7/2026), ketika serangan AS ke wilayah Iran makin intensif dan serangan Houthi meningkat secara bersamaan, Teheran dinilai tengah memperluas cakupan bentrok guna meningkatkan tekanan terhadap Washington. Strategi tersebut dilakukan dengan menakut-nakuti jalur perdagangan dan pasokan daya global, tidak hanya di Teluk Persia tetapi juga di Laut Merah.

Iran sebelumnya telah menunjukkan keahlian aset strategis terpentingnya dengan mengganggu lampau lintas kapal di Selat Hormuz. Kini, negara itu dinilai siap membuka titik tekanan kedua di Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit nan menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi lintasan ekspor minyak Arab Saudi serta sebagian besar perdagangan internasional.

Mohammed al-Farah, personil biro politik Houthi, menuding Washington mendorong Arab Saudi menyerang Yaman dan menyebut tindakan tersebut tidak bakal menguntungkan Amerika Serikat.

"Jika situasi saat ini makin memburuk, Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz bakal ditutup dalam sebuah aliansi operasional. Harga minyak kemudian bakal melonjak hingga US$200 per barel dalam guncangan nan mengerikan," katanya.

Iran Dinilai Siap Naikkan Eskalasi

Sejumlah analis menilai andaikan Selat Hormuz merupakan senjata strategis utama Iran, maka Bab el-Mandeb menjadi persediaan kekuatan terakhir nan dimiliki Teheran.

Pakar Timur Tengah Fawaz Gerges mengatakan Iran mau menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa mereka bisa menakut-nakuti kedua jalur pelayaran tersebut secara bersamaan.

Menurutnya, langkah tersebut mengubah bentrok nan semula berkarakter bilateral menjadi ancaman langsung terhadap jalur laut nan menopang perdagangan daya dunia.

"Iran bersedia menempuh segala cara," kata Gerges kepada Reuters.

"Sekarang (Teheran) meningkatkan eskalasi baik di sekitar maupun di wilayah nan lebih luas. Pesannya adalah bukan hanya Hormuz, tetapi Bab el-Mandeb juga berada dalam risiko."

Ancaman "Mission Creep"

Para analis memperingatkan ancaman terbesar bukan semata-mata pecahnya perang total dalam waktu dekat, melainkan terjadinya "mission creep", ialah situasi ketika kedua pihak secara perlahan terus meningkatkan eskalasi tanpa secara langsung memasuki perang terbuka.

Dengan bentrok nan sekarang meluas dari Teluk Persia hingga Laut Merah, ancaman terhadap perdagangan internasional dan pasokan daya diperkirakan bakal semakin besar.

Tekanan tersebut dinilai dapat memaksa Washington maupun Teheran kembali ke meja perundingan sebelum dua jalur minyak terpenting bumi berubah menjadi medan utama konflik.

Dennis Ross, mantan negosiator perdamaian AS untuk Timur Tengah, mengatakan tujuan Washington adalah mengubah kalkulasi strategis Iran.

"Persoalannya adalah gimana mengubah kalkulasi Iran sehingga mereka siap kembali berbicara, tetapi bukan sekadar berbicara, melainkan betul-betul menyusun sebuah pengaturan nan dapat diterima," ujar Ross.

Adapun golongan Houthi sebelumnya telah membuktikan kemampuannya mengganggu perdagangan dunia melalui Bab el-Mandeb.

Setelah perang Gaza meletus pada Oktober 2023, golongan nan didukung Iran itu melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah. Mereka menyatakan sasaran serangan adalah kapal nan mempunyai keterkaitan dengan Israel sebagai corak support kepada rakyat Palestina.

Serangan tersebut memaksa perusahaan pelayaran bumi mengalihkan rute kapal mengitari Afrika bagian selatan sehingga biaya logistik melonjak tajam.

Kondisi itu juga memicu serangan udara AS dan Inggris serta pembentukan misi angkatan laut multinasional guna melindungi pelayaran internasional.

Dosen senior King's College London Andreas Krieg menyebut ancaman terbaru Houthi sebagai "opsi nuklir lainnya" bagi Iran setelah Selat Hormuz.

Menurutnya, kartu tersebut kemungkinan hanya bakal dimainkan andaikan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyimpulkan bahwa perang terbuka sudah tidak dapat dihindari lagi.

Namun dia mengingatkan andaikan Washington meningkatkan serangan terhadap prasarana vital Iran, Teheran dapat merespons dengan memanfaatkan sekutunya di Yaman untuk menutup Bab el-Mandeb sehingga memperburuk guncangan ekonomi nan sebelumnya telah dipicu oleh krisis di Selat Hormuz.

Negara Teluk Pilih Diplomasi

Ketua Gulf Research Center nan berbasis di Arab Saudi, Abdulaziz Sager, mengatakan negara-negara Teluk semakin meyakini bahwa ruang diplomasi dengan Iran mulai menyempit meskipun mereka memahami biaya bentrok nan lebih luas bakal sangat besar.

"Baik Iran nan menang maupun Iran nan kalah sama-sama membawa akibat bagi kawasan," ujar Sager.

"Banyak negara Teluk mungkin menganggap biaya dari skenario terakhir lebih dapat diterima andaikan perihal itu menghasilkan lingkungan keamanan area nan lebih stabil."

Sager menilai golongan Houthi tetap mempunyai keahlian mengganggu pelayaran di Bab el-Mandeb, tetapi mini kemungkinan mereka meningkatkan eskalasi tanpa pengarahan langsung dari Teheran.

Menurutnya, setiap upaya Houthi menakut-nakuti jalur pelayaran internasional berpotensi memicu respons militer nan lebih luas dari AS beserta sekutunya untuk secara signifikan melemahkan keahlian golongan tersebut.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News