Bukan Cuma soal Gizi, Ini Alasan Menyusui Juga Bikin Ibu dan Bayi Lebih Dekat

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi ibu menyusui. Foto: BaLL LunLa/Shutterstock

Bagi banyak ibu baru, momen menyusui sering digambarkan sebagai sesuatu nan alami dan mudah. Padahal kenyataannya, tidak sedikit ibu nan kudu berjuang keras di awal-awal masa menyusui, mulai dari puting lecet, ASI nan belum lancar, hingga rasa resah apakah bayinya cukup kenyang. Di kembali semua tantangan itu, rupanya menyusui menyimpan banyak faedah nan jauh lebih besar dari sekadar memberi makan.

ASI (Air Susu Ibu) sering disebut sebagai makanan sempurna untuk bayi, dan itu bukan sekadar slogan. Kandungan ASI berubah secara bergerak mengikuti kebutuhan bayi, mulai dari kolostrum di hari-hari pertama nan kaya antibodi, hingga komposisi nan terus menyesuaikan seiring bayi tumbuh.

ASI mengandung antibodi, sel darah putih, dan beragam unsur bioaktif nan membantu melindungi bayi dari jangkitan saluran pernapasan, diare, hingga alergi. Inilah sebabnya bayi nan mendapat ASI eksklusif condong lebih jarang sakit di bulan-bulan awal kehidupannya, saat sistem imun mereka belum berkembang sempurna.

Manfaat nan Dirasakan Ibu, Bukan Cuma Bayi

Banyak nan mengira menyusui hanya menguntungkan bayi. Padahal, ibu nan menyusui juga mendapat sederet faedah kesehatan. Proses menyusui memicu pelepasan hormon oksitosin nan membantu rahim kembali ke ukuran semula lebih sigap setelah melahirkan, sekaligus menurunkan akibat perdarahan pascapersalinan.

Dalam jangka panjang, sejumlah penelitian juga mengaitkan riwayat menyusui dengan penurunan akibat kanker tetek dan kanker ovarium, serta akibat glukosuria jenis 2 nan lebih rendah pada ibu.

Tak kalah penting, menyusui juga berkontribusi pada kesehatan mental ibu. Kontak kulit-ke-kulit dan pelepasan hormon oksitosin saat menyusui dapat membantu menciptakan emosi tenang dan memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi, meski krusial dicatat, perihal ini tidak berfaedah ibu nan tidak menyusui otomatis kehilangan ikatan tersebut. Bonding bisa dibangun lewat banyak langkah lain, seperti kontak kulit, gendongan, dan komunikasi.

Momen "Skin to Skin" nan Sering Terlewat

Salah satu perihal nan kerap lupa dari perhatian adalah pentingnya kontak kulit langsung antara ibu dan bayi segera setelah lahir, alias nan dikenal dengan istilah inisiasi menyusu awal (IMD). Praktik ini dipercaya membantu menstabilkan suhu tubuh bayi, debar jantung, dan pernapasannya, sekaligus merangsang produksi ASI lebih awal.

Sayangnya, tidak semua ibu mendapat kesempatan ini, terutama jika proses persalinan mengalami komplikasi. Kabar baiknya, IMD bukan satu-satunya aspek penentu keberhasilan menyusui, support nan konsisten setelahnya jauh lebih menentukan.

Tantangan nan Wajar Dialami, Bukan Tanda Kegagalan

Penting untuk digarisbawahi ialah kesulitan di awal menyusui bukan berfaedah seorang ibu gagal. Puting lecet, ASI nan belum banyak keluar di hari-hari pertama, hingga bayi nan rewel saat menyusu, adalah perihal nan sangat umum terjadi dan biasanya bisa diatasi dengan pelekatan (attachment) nan tepat serta support dari tenaga kesehatan, konselor laktasi, alias golongan pendukung ASI.

Stres dan kurang percaya diri justru bisa menghalang produksi ASI melalui pengaruhnya terhadap hormon oksitosin. Karena itu, support dari pasangan, keluarga, dan lingkungan sekitar menjadi kunci krusial nan sering kali lebih berpengaruh daripada info teknis semata.

ASI Eksklusif 6 Bulan, Lalu Bagaimana?

Organisasi kesehatan bumi (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, tanpa tambahan makanan alias minuman lain, termasuk air putih. Setelah usia enam bulan, ASI tetap bisa dilanjutkan berdampingan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) hingga usia dua tahun alias lebih, sesuai kebutuhan ibu dan bayi.

Meski demikian, setiap ibu mempunyai kondisi dan pilihan nan berbeda-beda. Ada ibu nan lantaran argumen medis, pekerjaan, alias kondisi lain tidak bisa memberikan ASI eksklusif, dan itu bukan sesuatu nan perlu membikin mereka merasa bersalah. nan terpenting, bayi tumbuh sehat dan mendapat kasih sayang nan cukup dan itu bisa dicapai lewat beragam cara.

Dukungan, Bukan Penghakiman

Di tengah derasnya info seputar parenting, perdebatan soal ASI vs susu formula kerap kali menjadi bahan perdebatan nan justru membebani para ibu. Padahal, nan paling dibutuhkan ibu baru bukanlah penghakiman, melainkan support baik dari pasangan, keluarga, tempat kerja nan ramah menyusui, maupun tenaga kesehatan nan bisa diandalkan.

Pada akhirnya, menyusui adalah perjalanan nan unik bagi setiap ibu dan bayi. Memahami manfaatnya penting, tetapi memahami bahwa setiap ibu berjuang dengan caranya masing-masing, mungkin sama pentingnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan