Ilustrasi(Dok spesial )
PERUBAHAN kebutuhan bumi kerja dan semakin panjangnya masa produktif masyarakat mendorong lahirnya beragam model pendidikan baru nan lebih fleksibel. Menjawab tren tersebut, NUS Business School menghadirkan program Executive Master of Science in Management (EMIM) nan ditujukan bagi ahli berpengalaman, termasuk mereka nan tidak mempunyai gelar sarjana konvensional.
Program tersebut dirancang untuk mendukung konsep pembelajaran sepanjang kehidupan (lifelong learning) nan semakin relevan di tengah perubahan demografi global. Penurunan nomor kelahiran dan meningkatnya usia angan hidup membikin banyak orang mempunyai masa kerja nan lebih panjang sehingga kebutuhan untuk terus memperbarui keahlian menjadi semakin penting.
“Program EMIM dirancang bagi perseorangan nan telah menghabiskan 20 hingga 30 tahun dalam beragam peran penting, baik di militer, sektor publik, organisasi nirlaba, kewirausahaan, maupun pekerjaan nan berasosiasi dengan pengasuhan dan perawatan, namun tetap mempunyai 15 hingga 20 tahun masa produktif ke depan dan belum mempunyai training upaya formal,” kata Rose dikutip dari siaran pers nan diterima, Rabu (3/6).
Program EMIM berjalan selama 24 bulan dengan format part-time hybrid nan mengombinasikan pembelajaran daring dan tatap muka. Kurikulumnya mencakup beragam bagian nan dibutuhkan dalam bumi upaya modern, seperti keuangan, kajian bisnis, pemasaran digital, negosiasi strategis, hingga manajemen lintas budaya.
Menurut Rose, banyak ahli berumur 40 hingga 50 tahun nan menghadapi perubahan besar dalam bumi kerja, sementara latar belakang pendidikan nan diperoleh puluhan tahun lampau belum tentu lagi sesuai dengan kebutuhan ekonomi saat ini.
“Bagi banyak ahli di usia 40-an alias 50-an, gelar nan diperoleh puluhan tahun lampau mungkin sudah tidak lagi relevan dengan kebutuhan ekonomi saat ini. Fokus kami bukan meminta mereka kembali menempuh program sarjana nan panjang, tetapi memandang apakah mereka siap mengikuti pendidikan upaya nan terbaru dan lebih relevan,” katanya.
Salah satu karakter program ini adalah sistem penerimaan nan lebih menekankan kompetensi dibandingkan kredensial formal. Berbeda dengan program magister pada umumnya, peserta tidak diwajibkan mempunyai gelar sarjana sebagai syarat utama.
Sebagai gantinya, calon peserta bakal dinilai melalui gateway courses di bagian akuntansi finansial dan kajian bisnis. Mereka nan sukses memenuhi standar akademik setelah menyelesaikan mata kuliah pengantar tersebut dapat melanjutkan ke program EMIM.
Pendekatan ini membuka kesempatan bagi golongan ahli nan selama ini relatif susah mengakses pendidikan pascasarjana, termasuk pelaku upaya mini dan menengah, wirausahawan, maupun wanita nan sempat berakhir bekerja untuk mengurus family dan mau kembali berkarier.
Rose menilai keahlian upaya dan keahlian analitis menjadi semakin krusial dalam beragam sektor pekerjaan. Pemahaman mengenai laporan keuangan, biaya modal, nilai sekarang (present value), hingga kajian upaya sekarang tidak lagi hanya dibutuhkan oleh kalangan manajer alias ahli keuangan.
“Akuntansi finansial tetap menjadi bahasa utama dalam bumi bisnis. Kemampuan memahami neraca maupun laporan untung rugi menjadi fondasi krusial agar seseorang dapat beradaptasi dengan lingkungan ekonomi nan terus berubah,” ujarnya.
Program tersebut juga dinilai relevan bagi Indonesia nan tengah menghadapi tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan jumlah tenaga kerja nan mencapai lebih dari 146 juta orang, kebutuhan terhadap talenta nan mempunyai keahlian manajerial dan kepemimpinan nan lebih terstruktur terus meningkat seiring transformasi ekonomi nasional.
EMIM menjadi salah satu penelitian pendidikan nan berupaya memperluas akses pembelajaran bagi ahli mid-career. Angkatan pertama program ini terdiri atas peserta dengan latar belakang usia, profesi, dan pendidikan nan beragam.
Menariknya, sekitar seperempat peserta diterima tanpa mempunyai gelar sarjana formal. Meski membuka jalur masuk nan berbeda, standar akademik nan diterapkan tetap setara dengan program Master’s in Management nan telah melangkah sebelumnya.
Peserta mempelajari kurikulum nan sama dengan tuntutan akademik nan tidak berbeda. Menurut Rose, keberhasilan program tersebut tetap bakal terus dievaluasi seiring perkembangannya. Namun, potensi faedah sosial dan ekonomi nan dihasilkan dinilai cukup besar untuk terus dikembangkan.
"Meski tidak semua penelitian pendidikan sukses dalam skala besar, potensi akibat sosial dan ekonomi dari ekspansi akses pendidikan manajemen membikin inisiatif ini layak untuk dicoba,” ujarnya.
Saat ini pendaftaran untuk angkatan Januari 2027 telah dibuka secara bertahap. Hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada Oktober 2026.
Melalui pendekatan nan lebih elastis dan berbasis kompetensi, program EMIM diharapkan dapat menjadi pengganti bagi para ahli berilmu nan mau meningkatkan kapabilitas manajerial tanpa kudu kembali menempuh pendidikan sarjana secara penuh. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·