Ilustrasi(Dok Istimewa)
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem pemantauan titik panas alias hotspot berbasis data satelit untuk mempercepat penemuan awal kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Sistem tersebut bisa mengolah info satelit menjadi info titik panas dalam waktu sekitar 30 menit.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN Andy Indradjad mengatakan sistem tersebut krusial untuk memantau wilayah Indonesia nan luas, terutama area terpencil nan susah dijangkau melalui pemantauan langsung di lapangan.
“Sistem penemuan awal ini memungkinkan kita mengetahui sedini mungkin adanya kebakaran di suatu wilayah di Indonesia,” kata Andy dalam keterangan resmi, Sabtu (5/9).
Ia menjelaskan, sistem hotspot BRIN bekerja dengan mendeteksi radiasi termal nan dipancarkan objek di permukaan bumi. Kebakaran menghasilkan anomali suhu nan lebih tinggi dibandingkan lingkungan di sekitarnya sehingga dapat dikenali melalui sensor satelit.
“Temperatur kebakaran diperkirakan sekitar 1.000 Kelvin sehingga dapat dideteksi dengan baik pada panjang gelombang sekitar 4 mikrometer,” ujarnya.
Saat ini, info utama sistem tersebut berasal dari sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit Suomi NPP dan NOAA-20. Sensor itu digunakan menggantikan Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada satelit Terra dan Aqua nan telah beraksi lebih dari dua dekade.
Data nan diterima stasiun bumi selanjutnya dikirim ke pusat pengolahan Cloud BRIN untuk diolah menjadi info titik panas. Sebelum ditampilkan pada dasbor, info disaring untuk mengurangi kesalahan penemuan nan dapat berasal dari aktivitas industri, pertambangan batu bara, maupun kawah gunung api.
“Waktu nan diperlukan untuk keseluruhan proses ini sekitar 30 menit. Durasi tersebut berjuntai pada kecepatan transfer info dari stasiun bumi ke Cloud BRIN,” tutur Andy.
Menurut dia, jumlah titik panas harian di Indonesia dapat mencapai ribuan, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Pemantauan secara sigap diperlukan lantaran kebakaran nan tidak segera ditangani berpotensi meluas dan asapnya dapat menyebar hingga ke negara tetangga.
Sistem tersebut juga dilengkapi parameter tingkat kepercayaan alias confidence level serta radius kemungkinan hasil pengelompokan alias clustering. Informasi itu digunakan untuk membantu menentukan letak nan perlu segera diverifikasi di lapangan.
Andy mengatakan info hotspot BRIN telah dimanfaatkan oleh sejumlah instansi, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian, Polri, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Ia menambahkan pola karhutla berbeda di setiap wilayah. Sumatera bagian utara dan tengah umumnya mengalami peningkatan titik panas pada Januari-Februari dan Juni. Sementara Sumatera bagian selatan mencapai puncaknya sekitar September.
Adapun di Kalimantan, puncak kebakaran biasanya terjadi selama musim tandus pada Juli hingga Oktober, seiring mengeringnya lahan gambut.
Andy menekankan sistem hotspot tidak hanya berfaedah mencatat kejadian kebakaran, melainkan mempercepat respons penanganan agar api tidak berkembang menjadi kebakaran nan lebih luas.
“Hotspot tidak hanya dilihat sebagai catatan setelah kebakaran terjadi. Sistem ini dapat memperpendek waktu antara munculnya kebakaran dan respons sigap penanganannya,” pungkasnya.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·