Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus eks Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, memaparkan rekonstruksi jalur meteor besar nan melintasi langit Pulau Jawa pada Sabtu (11/7) malam.
Rekonstruksi tersebut disusun berasas rangkaian laporan masyarakat, rekaman video nan beredar di beragam daerah, serta info nan dihimpun dari beragam media.
Menurut Thomas, meteor pertama kali terdeteksi saat melintas di atas Laut Jawa dan terlihat dari wilayah Bekasi sekitar pukul 21.22.35 WIB. Pada fase awal itu, meteor tetap berada di ketinggian sekitar 120 kilometer sehingga tampak relatif mini dan berwarna putih.
"Meteor berasal dari batuan antariksa nan orbitnya berhadapan dengan bumi lampau terbakar ketika memasuki atmosfer pada pada ketinggian sekitar 120 km," kata Thomas kepada wartawan, Minggu (12/7).
Meteor kemudian bergerak ke arah tenggara. Saat melintasi wilayah Jawa Barat bagian timur, penduduk di Cirebon dan Kuningan dilaporkan mendengar bunyi dentuman.
Menurut Thomas, bunyi tersebut merupakan gelombang kejut nan dihasilkan lantaran meteor melaju dengan kecepatan sangat tinggi di atmosfer bagian bawah.
Selanjutnya, meteor dilaporkan terlihat di wilayah Majalengka dengan warna kebiruan. Objek nan sama juga terpantau dari Nagreg sekitar pukul 21.23.37 WIB serta dari Tasikmalaya sebagai sinar terang nan tampak menembus awan.
Saat mencapai wilayah Yogyakarta sekitar pukul 21.23.57 WIB, meteor tampak berwarna hijau. Thomas menjelaskan, perubahan warna itu disebabkan oleh kandungan magnesium pada batuan antariksa nan terbakar akibat suhu tinggi ketika bersenggolan dengan atmosfer.
"Warna hijau lantaran unsur magnesium pada batuan antariksa tersebut terbakar oleh panas tinggi akibat gesekan atmosfer," jelasnya.
Berdasarkan rekonstruksi tersebut, Thomas menduga meteor akhirnya jatuh di area Samudera Hindia, tepatnya di selatan Jawa Timur alias Bali.
Sebelumnya, Thomas menyatakan belum dapat memastikan apakah laporan objek bercahaya di Bekasi, bunyi dentuman di Cirebon, dan video meteor hijau di Yogyakarta berasal dari peristiwa nan sama. Namun, setelah mengkaji rangkaian info nan beredar, dia menyusun dugaan lintasan meteor nan menghubungkan sejumlah letak tersebut.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·