Jakarta, CNBC Indonesia - Iran kembali mengeluarkan peringatan keras ke Amerika Serikat (AS). Hal ini mengenai intervensi Paman Sam ke Selat Hormuz.
Dikatakannya bahwa setiap upaya "ikut campur" bakal dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Ancaman ini muncul tepat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana Amerika untuk mulai mengawal kapal-kapal melalui jalur perairan nan diblokade tersebut.
Mengutip laporan AFP, Senin (4/5/2026), negosiasi antara kedua negara telah menemui jalan buntu sejak gencatan senjata bertindak pada 8 April 2026. Fokus utama perselisihan saat ini adalah kendali ketat Iran atas selat strategis tersebut, nan merupakan jawaban atas serangan campuran AS-Israel ke Teheran sebelumnya.
Ini mengenai ucapan Trump, Minggu, nan mengumumkan operasi maritim baru berjudul "Project Freedom" nan diklaimnya sebagai aktivitas "kemanusiaan". Operasi ini bermaksud membantu kru kapal nan terjebak dalam blokade dan mulai kehabisan pasokan makanan serta kebutuhan krusial lainnya.
"Kami bakal mengerahkan upaya terbaik untuk mengeluarkan Kapal dan Awak mereka dengan selamat dari Selat. Dalam semua kasus, mereka mengatakan tidak bakal kembali sampai area tersebut kondusif untuk navigasi," tulis Trump dalam unggahan di media sosial Truth Social.
Menanggapi rencana tersebut, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran memberikan reaksi keras. Pihak Teheran menegaskan bahwa kehadiran militer AS dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz tidak bakal ditoleransi.
"Setiap kombinasi tangan Amerika dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz bakal dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata," tegas ketua komisi tersebut.
Langkah Iran memblokir Selat Hormuz telah melumpuhkan aliran utama minyak, gas, dan pupuk ke ekonomi dunia, sementara AS membalasnya dengan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Meski tensi memanas, Trump menyatakan perwakilannya sedang melakukan obrolan "sangat positif" dengan pihak Iran nan bisa membuahkan hasil baik bagi semua pihak.
Namun, militer AS tidak main-main dalam mempersiapkan Project Freedom. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bakal mengerahkan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat tempur, platform tanpa awak, hingga 15.000 personel jasa untuk mengamankan jalur Hormuz. Berdasarkan info AXSMarine per 29 April, terdapat lebih dari 900 kapal komersial nan saat ini tertahan di area Teluk.
Di sisi lain, laporan dari Axios menyebut bahwa Iran telah menetapkan tenggat waktu satu bulan untuk negosiasi kesepakatan pembukaan kembali selat, pembubaran blokade laut AS, dan pengakhiran perang. Garda Revolusi Iran apalagi memberikan pilihan susah bagi Trump.
"Trump kudu memilih antara operasi nan mustahil alias kesepakatan jelek dengan Republik Islam Iran," bunyi pernyataan Garda Revolusi.
Krisis ini telah membikin nilai minyak bumi melonjak sekitar 50% di atas level sebelum bentrok akibat gangguan pasokan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa blokade ekonomi ini dilakukan di seluruh lini pemerintahan untuk melumpuhkan rezim Iran.
"Kami mencekik rezim tersebut, dan mereka tidak bisa bayar tentaranya. Ini adalah blokade ekonomi nan nyata," ujar Bessent kepada Fox News.
Ketegangan mencapai puncaknya saat Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, menakut-nakuti bakal menenggelamkan armada tempur AS. Melalui unggahan di platform X, dia memperingatkan AS untuk bersiap menghadapi kekalahan fatal.
"AS adalah satu-satunya bajak laut di bumi nan mempunyai kapal induk. Kemampuan kami menghadapi bajak laut tidak kalah dengan keahlian kami menenggelamkan kapal perang. Bersiaplah menghadapi kuburan bagi kapal induk dan pasukan Anda," tegas Rezaei.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·