Jakarta - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan menegaskan pentingnya penguatan ekosistem legal nasional secara terintegrasi melalui kerja sama beragam pihak. Adapun kerjasama lintas sektor dengan perguruan tinggi dinilainya sebagai salah satu pilar utama.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam Indonesia Halal Ecosystem Summit & Halal Metric Awards 2026 nan diselenggarakan di Universitas Brawijaya, Malang.
Haikal menilai penguatan ekosistem legal sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Namun, pengembangan sektor legal tidak bisa melangkah sendiri, melainkan memerlukan kerjasama kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan bumi industri.
Menurutnya, perguruan tinggi berkedudukan krusial sebagai penghubung antara kebijakan, riset, dan penerapan di lapangan.
"Universitas menjadi bagian krusial dalam ekosistem legal lantaran mempunyai laboratorium sebagai pedoman pemeriksaan halal. Termasuk Universitas Brawijaya nan menjadi salah satu pelopor legal di Indonesia. Peran ini kita sorong sebagai mata rantai ekosistem, sekaligus menjadi jembatan antara kebijakan, riset, dan penerapan di lapangan," jelas Haikal dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Lebih lanjut, Haikal menegaskan legal sekarang telah berkembang menjadi kebutuhan dunia lintas negara dan lintas masyarakat. Oleh lantaran itu, penguatan kapabilitas riset, inovasi, dan pengetesan berbasis perguruan tinggi menjadi semakin penting.
"Halal sudah menjadi kebutuhan dunia. Halal now is for all. Halal is for everybody. Ada tiga prinsip dalam halal, ialah transparency, traceability, dan trustability. Halal itu telah menjadi value added, pertambahan nilai nan berbobot dan berbobot tinggi," papar Haikal.
Haikal menambahkan, pengakuan terhadap produk legal tidak lagi terbatas pada masyarakat muslim, tetapi telah diterima secara luas oleh beragam kalangan di tingkat global.
"Eropa juga sudah mengakui bahwa legal itu adalah elite food. Di Indonesia, legal bakal menjadi ekosistem nomor satu di dunia. Halal Indonesia untuk masyarakat bumi itu bakal terwujud pada akhir 2027," jelasnya.
Senda, Rektor Universitas Brawijaya, Widodo menyampaikan institusinya telah mengambil peran sebagai pelopor dalam pengembangan legal nasional, khususnya melalui penguatan riset dan prasarana laboratorium.
"Universitas Brawijaya adalah pionir nan memastikan lembaga pendidikan menjadi penggerak halal. Kami memulai dari riset, hingga menghadirkan laboratorium berstandar ISO 17025 dan terakreditasi KAN, serta menjadi perguruan tinggi pertama nan mempunyai Lembaga Pemeriksa Halal," katanya.
Di sisi lain, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menegaskan Jawa Timur merupakan salah satu motor utama dalam penguatan ekosistem legal nasional. Hal ini juga didukung oleh peran aktif lembaga pendidikan dan sumber daya manusia nan kompeten.
Ia memaparkan dari total 124 Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) secara nasional, sebanyak 15 berada di Jawa Timur. Selain itu, terdapat 81 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) dari total 393 secara nasional, serta 17.775 pendamping PPH dari total 129.368 pendamping di seluruh Indonesia.
Emil mengungkapkan kesempatan pengembangan ekosistem legal juga terbuka luas melalui kerja sama internasional, termasuk pada sektor pengolahan bahan baku legal seperti kulit sapi nan mempunyai nilai ekonomi tinggi.
"Jawa Timur tidak hanya memproduksi fashion berbasis kulit, tetapi juga produk pangan seperti kerupuk rambak. Karena itu, agunan bahan baku legal menjadi sangat krusial dalam rantai industri," jelasnya.
Dengan support regulasi, infrastruktur, serta kerjasama lintas sektor-termasuk peran strategis perguruan tinggi-penguatan ekosistem legal bakal terus dipercepat. Upaya ini dilakukan melalui pengembangan kelembagaan, peningkatan kapabilitas SDM, serta ekspansi jasa sertifikasi halal.
Adapun langkah tersebut menjadi bagian dari strategi sistematis untuk meningkatkan kualitas sekaligus daya saing produk Indonesia di pasar global. (prf/ega)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·