Proses pemadaman karhutla.(Dok BNPB)
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan peta waspada di tengah puncak musim kemarau. Dalam laporan 24 jam terakhir (Sabtu-Minggu), kebakaran rimba dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih mendominasi laporan musibah dari beragam daerah.
Insiden terjadi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, di mana api menyulut lahan seluas 5 hektare hanya dalam hitungan jam, dipicu oleh suhu ekstrem nan membakar ranting kering di area perbukitan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa kondisi ini adalah sirine bagi seluruh pemerintah daerah.
"Suhu panas nan ekstrem saat ini mengubah vegetasi kering menjadi 'bahan bakar' alami. Kejadian di Pinrang ini bukan sekadar kebakaran biasa, ini adalah akibat nyata dari puncak tandus nan kudu diantisipasi dengan kesiapsiagaan ekstra," ujarnya, Minggu (2/8).
Siaga Karhutla
Peristiwa karhutla di Desa Taddakong, Kecamatan Lembang, terjadi pada Sabtu (1/8) malam. Kondisi geografis perbukitan berbatu dengan akumulasi serasah daun kering memicu percikan api secara tiba-tiba, dengan sigap menjalar dan menakut-nakuti area rimba setempat.
Beruntung, respons sigap dilakukan. BPBD Kabupaten Pinrang berbareng TNI, Polri, dan penduduk bergerak sigap menerapkan metode fire breaking alias pembuatan sekat bakar, sebuah strategi isolasi vegetasi untuk memutus jalur api.
Hingga buletin ini diturunkan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Dinas Pemadam Kebakaran turut dikerahkan untuk menjinakkan bara nan tetap tersisa.
"Kami mengapresiasi langkah sigap jejeran di lapangan. Namun, ini kudu menjadi pelajaran bahwa kewaspadaan kolektif adalah kunci," tegas Abdul Muhari.
Darurat Air Bersih
Selain karhutla, BNPB memberikan perhatian unik pada musibah kekeringan nan mulai melanda sejumlah titik di Indonesia. Abdul Muhari meminta para Bupati dan Walikota untuk tidak menunggu hingga keran kering sebelum bertindak.
"Jangan tunggu laporan darurat. Segera petakan wilayah rawan krisis air dan optimalkan pengedaran tangki air bersih. Edukasi ke masyarakat tentang penggunaan air bijak sangat krusial saat ini," imbaunya.
Pemerintah wilayah juga didorong untuk proaktif melakukan pemantauan lapangan. BNPB mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu sampai kesulitan parah sebelum melapor.
"Laporkan ke pemerintah desa alias BPBD sedini mungkin. Semakin sigap laporan, semakin sigap support tiba," tambahnya.
Imbauan untuk Warga
Dalam kesempatan nan sama, BNPB mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat agar sama sekali tidak melakukan pembakaran terbuka, baik untuk membersihkan lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan.
"Cuaca saat ini sangat mendukung api. Perbuatan mini bisa berakibat musibah besar. Jika memandang kepulan asap alias titik api, segera laporkan. Jangan coba padamkan sendiri jika api sudah besar, serahkan pada petugas," tukas Muhari.
BNPB memastikan bakal terus memonitor perkembangan di Sulawesi Selatan dan wilayah lainnya, seraya mengingatkan bahwa musim tandus diperkirakan tetap bakal berjalan beberapa pekan ke depan. (LN/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·