BNPB Bangun Gudang Logistik di Kawasan Rawan Gempa dan Tsunami

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
BNPB Bangun Gudang Logistik di Kawasan Rawan Gempa dan Tsunami Ilustrasi(Antara)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tengah mengakselerasi pembangunan penyimpanan logistik di titik-titik strategis nan berdekatan dengan area berisiko tinggi gempa bumi dan tsunami. Langkah ini diambil untuk mengatasi halangan pengedaran support nan sering kali terkendala akibat kerusakan prasarana pascabencana geologi.

Analis Kebencanaan Ahli Madya BNPB, Maryanto, menjelaskan bahwa strategi ini diimplementasikan melalui pengembangan dua jenis fasilitas, ialah penyimpanan regional (balai besar) dan penyimpanan taktikal. Penempatan logistik nan lebih dekat dengan wilayah rawan diharapkan dapat memangkas lead time alias waktu tunggu pengedaran secara signifikan pada masa tanggap darurat.

"Kami mau mencoba mendekatkan logistik ke area akibat bencana. Nanti ada gudang-gudang regional nan melayani wilayah sekitarnya sehingga dapat memangkas lead time pengedaran logistik pada saat penanganan respons bencana," ujar Maryanto dalam Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (15/7/2026).

Urgensi Logistik di Wilayah Terisolasi

Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi tantangan utama. Banyak wilayah terpencil nan langsung terisolasi saat musibah melanda, sehingga support susah masuk jika hanya mengandalkan penyimpanan pusat. Sebagai percontohan, BNPB telah membangun penyimpanan taktikal di Agandugume, Papua Tengah.

Fasilitas di Papua tersebut awalnya difungsikan untuk menangani krisis pangan akibat kekeringan, namun sekarang diproyeksikan menjadi model penyimpanan logistik untuk beragam ancaman musibah di wilayah susah jangkau.

Data Kejadian Bencana Indonesia (Hingga 13 Juli 2026):

Indikator Data/Jumlah
Total Kejadian Bencana 1.118 Kejadian
Dominasi Bencana >99% Hidrometeorologi
Alokasi Anggaran Operasional 80% untuk Logistik

Digitalisasi dan Kolaborasi Klaster

Selain penguatan bentuk melalui gudang, BNPB juga mengembangkan sistem logistik berbasis digital. Sistem ini berfaedah memetakan kapabilitas sumber daya di setiap wilayah secara real-time, mencakup kesiapan peralatan, moda transportasi, hingga kapabilitas prasarana vital seperti bandara, pelabuhan, jalan, dan jembatan.

Maryanto menekankan bahwa logistik tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai instrumen hilir saat tanggap darurat, melainkan bagian integral dari kesiapsiagaan pra-bencana. Hal ini krusial mengingat musibah pengetahuan bumi seperti gempa dan tsunami mempunyai akibat kerusakan sosial-ekonomi nan jauh lebih masif dibandingkan musibah lainnya.

Penguatan ini dilakukan melalui kerjasama lintas sektor dalam wadah klaster logistik penanggulangan musibah nan melibatkan pemerintah, bumi usaha, akademisi, masyarakat, hingga media. "Kesiapan logistik nan dibangun sejak fase pra-bencana bakal menentukan kecepatan dan efektivitas penanganan ketika gempa bumi maupun tsunami betul-betul terjadi," pungkasnya. (Ata/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia