Jakarta -
Dentuman misterius terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat malam hingga Sabtu awal hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kejadian tersebut sebagai skyquake alias dentuman langit.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi mengatakan pihaknya telah mengecek sejumlah info untuk mencari penyebab dentuman tersebut. Data nan diperiksa meliputi aktivitas kegempaan, petir, kondisi cuaca, hingga magnet bumi.
"Di Bandung Raya mengenai dengan dentuman, dentuman, ya. Jadi kejadian ini juga pernah terjadi di wilayah Bogor, ya. Itu bulan April 2020, nan kita kenal dengan kejadian skyquake," kata Suaidi, Sabtu (5/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan hasil pemantauan BMKG menunjukkan tidak ada aktivitas kegempaan signifikan di wilayah Bandung Raya saat dentuman terdengar. Kondisi cuaca di Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, juga secara umum terpantau cerah.
"Hasil info dari sesmik, ya. Data hasil dari sesmik kita bahwa aktivitas sesmik di Sesar Lembang tidak signifikan. Artinya, tidak ada aktivitas sesmik nan berkembang pada saat jam nan kita curigai," ujarnya.
Dia menjelaskan pemantauan melalui gambaran satelit Himawari juga menunjukkan tidak ada aktivitas pengumpulan awan di Bandung Raya pada waktu dentuman dilaporkan. Namun, pada waktu nan sama justru terpantau aktivitas vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau.
"Jadi, aktivitas sky earthquake ini, skyquake, ya, maksudnya dentuman langit. Kita curigai adanya kejadian nan tidak lazim, ya. Artinya rekaman darat itu kita curigai sebagai aktivitas Krakatau, ya, baik dari info informasi satelit, citrawan, dan aktivitas magnetik, juga dari info petir, ya," katanya.
"Nah, ini rupanya pas kejadian aktivitas tersebut itu mempunyai aktivitas konsentrasi thunderstorm alias petir nan sangat dominan di wilayah Krakatau. Menariknya adalah di Kota Bandung, Bandung sekitarnya itu sedikit sekali petir," sambungnya.
Namun, dia mengatakan saat aktivitas di Gunung Anak Krakatau, tak ada laporan di Banten dan Jakarta mengenai dentuman langit. Sebaliknya, aktivitas petir di Bandung Raya dan sekitarnya terpantau relatif sedikit.
"Jadi kejadian aktivitas vulkanik di Krakatau itu penduduk warga Banten dan sekitarnya dan Jakarta tidak melaporkan adanya dentuman alias skyquake ini, dentuman langit ya," jelasnya.
"Nah itu nan menjadi kecurigaan kita bahwa aktivitas di wilayah Bandung Raya tadi disampaikan dari cuaca, dari gempa bumi, dari aktivitas petir tidak adanya aktivitas nan dirasa sangat berfaedah di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya," sambungnya.
Dia mengatakan kejadian tersebut saat ini memang tetap menjadi pertanyaan bagi para peneliti. BMKG tetap mengkaji kemungkinan penyebab dentuman nan hanya terdengar di Bandung Raya dan sekitarnya.
"Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur nan menjawab bahwa aktivitas sky skyquake tadi ya, mungkin adanya aktivitas gas metana nan ada di Danau Purba. Karena di Bandung tahun kita ketahui berbareng bahwa Kota Bandung dan sekitarnya itu di atas Danau Purba ya Danau Bandung ya. Jadi ini nan menjadi kecurigaan kita," paparnya.
Dia mengatakan dari pengamatan BMKG tidak menunjukkan aktivitas nan asing akibat dentuman tersebut. Namun, menurutnya, tetap perlu kajian mendalam mengenai perihal itu.
"Jadi kita tidak mendapat laporan dari teman-teman dari Jakarta, dari Banten, dan dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor sekitarnya. Ya artinya kejadian aktivitas vulkanik nan ada di Krakatau nan kebetulan berbarengan pada jam tersebut itu artinya tidak mempunyai pengaruh dentuman langit alias nan kita sebut dengan skyquake ya," tuturnya.
(amw/dhn)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·