Sampan-sampan membelah perairan di tengah rimbunnya rimba bakau. Ketika berakhir di tengah perairan, satu per satu mahasiswa Universitas Udayana (Unud) turun dan memasukkan kaki mereka ke perairan.
Mereka tidak takut dengan lumpur alias dinginnya air lantaran tujuan mereka adalah membangun laboratorium hidup (living laboratory) dari 5.000 bibit mangrove nan mereka bawa.
Laboratorium hidup itu memungkinkan area mangrove menjadi ruang untuk belajar dan meneliti pengelolaan ekosistem secara langsung.
Kegiatan penanaman tersebut juga merupakan bagian dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui aktivitas Green Action Mangrove Bali 2026. Dalam aktivitas tersebut, sebanyak 5.000 bibit mangrove bakal ditanam di area Tahura Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, pada Rabu (2/9).
Selain mahasiswa, aktivitas tersebut juga menggandeng Pemerintah Provinsi Bali, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Simbar Segara, civitas akademika, serta 50 mahasiswa Universitas Udayana.
"Mangrove mempunyai peran strategis nan tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh prasarana buatan manusia," ungkap Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Hutan Raya Ngurah Rai Provinsi Bali I Putu Agus Juliartawan, di Pemogan, Rabu (2/9).
Menurut Juliartawan, dalam praktiknya, mangrove mempunyai tantangan dalam penanamannya. Salah satunya adalah kesempatan untuk memperkuat hidup (survival rate) nan cukup rendah. Misalnya saja, penanaman mangrove kudu dimonitor kurang lebih selama 3 tahun.
Ada dua perihal nan menjadi tantangan dalam membiakkan mangrove, ialah sampah dan predator. Salah satu predator nan sering ditemui di Tahura Ngurah Rai adalah teritip. Teritip tersebut menyerang mangrove, lampau memakannya.
"Kalau dimakan, meninggal dia (mangrove). Makanya sekarang pas penanaman bakal ada di dalam kotak. Jadi nan diserang kotaknya itu, amanlah nan kita tanam," jelasnya.
Juliartawan menjelaskan, Tahura Ngurah Rai membentang seluas 1.373 hektare. Namun, hanya sejumlah 1.000 hektare nan ditanami dengan mangrove. Kawasan tersebut nan kudu dijaga agar pertumbuhan mangrove menjadi optimal.
"Terpenting itu bukan menanamnya lantaran siapa saja bisa menanam. Memelihara dan mempertahankan ini nan sulit. Saya alami sendiri, sudah duluan saya," kekehnya.
Namun, Juliartawan berambisi perihal tersebut tidak mencegah mahasiswa untuk meneliti mangrove. Penelitian tersebut tidak hanya sebatas penyakit tumbuhan dan kendala, tetapi juga mitigasi nan bisa dilakukan.
Juliartawan mengungkap, meskipun mangrove mempunyai ketahanan nan lebih baik daripada tanaman lainnya terhadap sampah, merawat pohon haruslah serupa merawat tubuh manusia.
"Khususnya dari Bali, bahwa kita punya Tri Hita Karana, salah satunya hubungan dengan lingkungan. Urusan dengan lingkungan itu wajib lantaran secara langsung dan tidak langsung, hasil dari lingkungan tersebut bakal didapatkan. Walaupun enggak sekarang," jelasnya.
Sementara itu, Director of Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengungkap pada tahun 2022 dan 2024, BLDF telah menanam 10.000 bibit mangrove di Pemogan, Bali. Dengan demikian, terdapat total 15.000 bibit mangrove nan ditanam di area tersebut oleh BLDF.
Dari program Djarum Trees For Life (DTFL) secara keseluruhan nan dimulai sejak tahun 2008, tercatat lebih dari satu juta pohon mangrove nan telah ditanam sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali.
Kali ini, Djarum mengangkat konsep laboratorium hidup (living laboratory) nan menjadi tempat konservasi, penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya oleh mahasiswa, tempat tersebut juga terbuka untuk dimanfaatkan dalam riset.
"Laboratorium hidup kelak didedikasikan sebagai tempat penelitian maupun riset-riset lainnya mengenai dengan mangrove," ungkap Mutiara.
Mutiara mengungkap, mangrove mempunyai keahlian memperkuat hidup (survival rate) hanya 30 persen. Dengan pemanfaatan laboratorium hidup oleh mahasiswa Universitas Udayana, ditargetkan mangrove bisa meningkatkan survival rate-nya hingga 65 persen.
"Bisa diusahakan asalkan sebulan sekali alias dua bulan sekali melakukan monitoring dan mudah-mudahan, dapat ditemukan suatu langkah nan tepat dan berkelanjutan," lanjutnya.
Laboratorium hidup tersebut merupakan sebuah areal nan didedikasikan untuk penelitian. Di areal laboratorium hidup di Pemogan, bakal ditanam 5.000 bibit mangrove dan dimonitor selama 6 bulan ke depan, serta dilakukan riset oleh Universitas Udayana.
Mutiara mengungkap, sedang disusun suatu program agar laboratorium hidup nan dibuat bisa terus berkembang.
"Dengan laboratorium hidup, dampaknya bakal terasa secara langsung. Bentuk kendalanya juga bakal terlihat langsung. Kemudian kita mungkin bisa melakukan uji coba dan sebagainya," pungkasnya.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·