Rohman Wibowo
, Jurnalis-Jum'at, 23 Oktober 2026 |17:16 WIB

BI Turunkan GWM 2 Persen, Bantah Isu Bank Kering (Foto: Okezone)
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kebijakan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan 2 persen bukan merupakan sinyal alias pengakuan bank sentral atas rumor kekeringan likuiditas di industri perbankan nasional.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar menyoroti soal langkah pelonggaran rasio simpanan wajib ini ditujukan untuk menyeimbangkan kesiapan biaya agar tetap selaras dengan arah suku kembang referensi BI-Rate, sasaran pertumbuhan ekonomi, serta pengendalian inflasi.
Isu mengenai pengetatan likuiditas di pasar duit sempat mencuat seiring derasnya penarikan biaya untuk ekspansi pembiayaan serta pergeseran strategi penempatan kas pemerintah. Namun, bank sentral menepis dugaan tersebut dan menyatakan keputusan moneter ini murni berpijak pada kalkulasi teknis penyeimbangan makroekonomi.
"Bombastis jika menyatakan ini adalah pengakuan likuiditas di perbankan dalam kondisi kering. Hasil hitungan kita, kita memang perlu menyeimbangkan likuiditas di tengah pertumbuhan angsuran nan tinggi serta dinamika strategi penempatan biaya pemerintah kemarin dan ke depan," ujar Firman dalam obrolan media di instansi BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Penyeimbangan likuiditas ini menjadi krusial agar BI-Rate nan berfaedah sebagai jangkar sikap kebijakan moneter bank sentral dapat tertransmisi secara optimal ke pasar keuangan. Secara kalkulasi teoritis, andaikan tingkat BI-Rate berada di level 5 persen dengan proyeksi inflasi dan Produk Domestik Bruto (PDB) masing-masing 5 persen dan 3 persen, maka kebutuhan likuiditas ideal berada pada nomor 10.
Tingginya permintaan permodalan dari sektor riil menyebabkan laju perputaran biaya di perbankan bergerak melampaui perkiraan awal tersebut. Kondisi ini menuntut bank sentral untuk mengkalibrasi kembali kesiapan likuiditas agar tidak terjadi ketidaksinkronan terhadap arah kebijakan moneter.
"Dengan permintaan duit nan tinggi, pergerakannya lebih sigap dari proyeksi, sehingga kita kudu mengembalikan dan menyinkronkan kembali antara stance kita dengan likuiditas. Karena akibat permintaan angsuran nan tinggi dan strategi penempatan pemerintah tersebut, kami memutuskan menurunkan GWM," tutur Firman.
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·