Ilustrasi(Antara)
DEPUTI Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, keputusan meningkatkan suku kembang referensi alias BI Rate sebesar 50 pedoman poin menjadi 5,25% dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. Kebijakan tersebut diambil agar instrumen finansial berbasis rupiah kembali menarik bagi penanammodal dan bisa mendorong aliran modal asing masuk ke pasar finansial domestik.
“Kita sorong kenaikan suku kembang lantaran kita kudu membikin instrumen rupiah itu menjadi menarik lagi,” ujar Destry dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Senin (25/5).
Ia menegaskan, kenaikan BI Rate merupakan langkah penyesuaian terhadap kondisi dunia dan bukan semata-mata untuk menekan sektor riil.
"Kenaikan BI Rate ini mau enggak mau memang kudu dilakukan, bukan lantaran apa-apa tapi lantaran menyesuaikan dengan kondisi global,” katanya.
Menurutnya, kondisi dunia saat ini tetap berada dalam fase higher for longer, ialah periode ketika suku kembang diperkirakan tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi ini terlihat dari naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, inflasi AS nan tetap meningkat, serta penguatan indeks dolar AS (DXY) terhadap nyaris seluruh mata duit dunia.
“Jadi kita menghadapi situasi di mana stabilitas itu menjadi penting,” ucapnya.
Destry mengatakan, selain meningkatkan BI Rate, Bank Indonesia juga telah melakukan beragam langkah intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi dilakukan di pasar spot, pasar forward, pasar Non-Deliverable Forward (NDF), hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga likuiditas dan mengendalikan kenaikan imbal hasil obligasi agar tidak meningkat terlalu tajam. Bank sentral juga memantau tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri, termasuk permintaan nan tidak disertai underlying nan jelas.
Destry kemudian menilai esensial ekonomi Indonesia sejauh ini tetap cukup kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I nan mencapai sekitar 5,6%, salah satu nan tertinggi di kawasan. Selain itu, indeks kepercayaan konsumen juga mengalami peningkatan dan keahlian penjualan sejumlah korporasi mulai membaik.
“Kalau esensial kan berfaedah kita memandang ekonomi di negara itu bagaimana,” ujarnya.
Meski demikian, dia mengakui sentimen dunia tetap menjadi aspek dominan nan menekan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut diperburuk dengan tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri pada pertengahan tahun, mulai dari pembayaran dividen, repatriasi dana, hingga kebutuhan musim haji.
“Sekarang ini kan ada masalah juga lantaran ada sentimen, lantaran adanya di dunia nan tetap terus gonjang-ganjing, nan belum selesai,” ucapnya.
Destry optimistis stabilitas rupiah bakal kembali membaik seiring esensial ekonomi domestik nan tetap kuat, selisih imbal hasil nan mulai melebar, serta arah program pemerintah nan semakin jelas ke depan.
“Tentu ini bakal memberikan confidence kembali kepada masyarakat dan investor,” pungkasnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·