Anggie Ariesta
, Jurnalis-Jum'at, 02 Oktober 2026 |10:05 WIB

Gubernur BI Destry Damayanti. (Foto: Okezone.com/BI)
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperluas jenis surat berbobot nan dapat dijadikan sebagai agunan (underlying) dalam penyelenggaraan Operasi Moneter dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berbobot tinggi. Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan kebijakan moneter pro-market nan terintegrasi langsung dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).
Gubernur BI Destry Damayanti menekankan pentingnya kelancaran transmisi sinyal kebijakan moneter melalui pasar finansial agar akibat likuiditas dapat dirasakan langsung oleh pembiayaan bumi upaya dan rumah tangga.
Lewat pendekatan pro-market, BI tidak hanya mengendalikan likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga memicu geliat transaksi di pasar sekunder untuk mendukung sektor riil, seperti perumahan dan infrastruktur.
“Efektivitas kebijakan moneter sangat berjuntai pada transmisi melalui pasar finansial nan dalam, likuid, dan efisien,” ujar Destry dalam keterangannya, dikutip Jumat (2/10/2026).
Peresmian ekspansi tersebut dilakukan langsung oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti berbareng Menteri Keuangan Suahasil Nazara di Jakarta, Kamis (1/10/2026). Turut datang dalam aktivitas tersebut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi, Ketua Umum Apuvindo Ari Rizaldi, serta perwakilan perbankan dan lembaga finansial nasional.
Mendukung langkah bank sentral, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi serta memperkuat kepercayaan para pemodal.
“Kami di Kementerian Keuangan, berbareng LPS dan Danantara selaku sovereign wealth fund, bakal terus menjaga perekonomian Indonesia dan membangun kredibilitas kebijakan bagi seluruh investor, di mana pun mereka berada,” tegas Suahasil.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·