Ilustrasi(Antara)
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) terpilih periode 2026-2031 Destry Damayanti menegaskan BI bakal terus mengoptimalkan strategi intervensi di pasar kurs asing (valas) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Strategi tersebut dilakukan melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.
"Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia mengoptimalkan strategi intervensi kurs asing," kata Destry dalam
rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI mengenai pengantar dugaan dasar RUU APBN Tahun 2027, Selasa (1/9).
Selain intervensi pasar valas, BI juga memperluas kebijakan insentif untuk mendorong aliran masuk investasi portofolio asing. Kebijakan tersebut sekaligus diarahkan untuk mempercepat pendalaman pasar duit dan pasar valas domestik.
Penguatan beragam kebijakan tersebut turut menopang pergerakan rupiah. Pada 31 Agustus 2026, rupiah berada di level Rp17.715 per dolar AS, menguat 1,57% dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2026 sebesar Rp17.994 per dolar AS.
Memasuki 2027, BI memperkirakan rupiah tetap berada dalam tren penguatan dengan kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS. Prospek tersebut didukung oleh sejumlah faktor, baik dari kondisi dunia maupun esensial ekonomi domestik.
"Prospek ekonomi dunia nan lebih baik pada 2027 diperkirakan mendorong kembali aliran masuk modal ke emerging market," ujar Destry.
BI memperkirakan ekonomi dunia pada 2027 tumbuh sekitar 3,3%. Perbaikan prospek tersebut, disertai dengan meredanya akibat geopolitik dan membaiknya persepsi akibat investasi, dinilai dapat mengurangi tekanan penguatan dolar AS.
Faktor kedua adalah semakin kuatnya esensial ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi nan lebih tinggi, inflasi nan tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, neraca pembayaran nan sehat, serta imbal hasil investasi nan menarik bakal mendukung perkembangan pasar finansial domestik.
"Fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat, dengan pertumbuhan nan lebih tinggi dan inflasi nan tetap terkendali," kata dia.
Faktor ketiga berasal dari penerapan kebijakan ekspor satu pintu dan kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam nan diperkirakan meningkatkan penerimaan devisa dan penerimaan negara. Kebijakan tersebut pada akhirnya diharapkan memperkuat persediaan devisa sekaligus menopang nilai tukar rupiah.
Faktor keempat adalah komitmen BI dalam menjaga stabilitas rupiah melalui beragam instrumen kebijakan. Selain intervensi valas, langkah tersebut mencakup kebijakan suku kembang dan lindung nilai, pendalaman pasar duit dan valas, serta pengelolaan likuiditas dan persediaan devisa.
"Komitmen kuat Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah bakal terus dilakukan melalui beragam instrumen kebijakan," ujar Destry.
Faktor kelima adalah penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Koordinasi tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing, serta memastikan kecukupan likuiditas di pasar duit dan perbankan.
Di sisi lain, perkembangan inflasi menjadi salah satu aspek nan tetap diperhatikan dalam menjaga stabilitas ekonomi. Inflasi secara keseluruhan tercatat 3,19% dengan inflasi inti sebesar 2,92%, sementara inflasi nilai nan diatur pemerintah tercatat 3,32%, turun dari 3,58% pada bulan sebelumnya.
"Yang perlu menjadi perhatian adalah volatile food inflation nan meningkat menjadi 4,06%," kata Destry.
Kenaikan inflasi pangan tersebut menjadi perhatian pemerintah dan BI. Pengendalian bakal dilakukan berbareng melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta beragam aktivitas pengendalian inflasi pangan, termasuk mengantisipasi akibat cuaca nan dapat memengaruhi hasil panen.
Secara umum, BI menilai perekonomian Indonesia pada 2026 tetap berada dalam kondisi baik dan berpotensi meningkat pada 2027. Optimisme tersebut didukung oleh esensial ekonomi nan kuat serta sinergi kebijakan antara BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.
"Sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah bakal terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Destry.
Untuk 2027, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,2%-6%, nilai tukar rupiah Rp17.300-Rp17.800 per dolar AS, serta inflasi 1,5%-3,5%. Dari sisi kebijakan, moneter bakal tetap berfokus pada pro-stability sembari memastikan likuiditas perekonomian tetap memadai, sedangkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
BI juga bakal memperkuat insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), termasuk KLM Pendalaman Pasar Uang (KLM PPU) nan bertindak mulai 1 September 2026 dengan besaran paling tinggi 2%. Hingga Agustus 2026, insentif KLM nan diperoleh perbankan telah mencapai Rp446,5 triliun. BI juga memperkuat pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS nan tinggi melalui koordinasi dengan OJK serta memperkuat ketentuan pelaporan lampau lintas devisa. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·