BGN Pakai Beras Lokal untuk MBG, Pasokan Bulog Jadi Cadangan

Sedang Trending 8 jam yang lalu

Jakarta -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyambut baik usulan Perum Bulog mengenai penyediaan beras premium untuk mendukung penyelenggaraan Program MBG.

Namun, Sudaryono menegaskan pihaknya bakal mengutamakan penggunaan bahan pangan lokal dalam penyelenggaraan MBG.

Langkah tersebut dipilih sebagai upaya memperkuat perekonomian wilayah melalui pemberdayaan petani, pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta rantai pasok pangan di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bulog tidak bakal menggantikan peran pemasok lokal, melainkan berfaedah sebagai penyangga alias buffer andaikan pasokan beras di suatu wilayah tidak mencukupi alias terjadi gejolak harga.

"Usulan dari Bulog kami pandang positif. Namun nan mau kami tegaskan, Program MBG tetap memprioritaskan penggunaan bahan pangan dari wilayah setempat. Kami mau petani lokal, pedagang lokal, dan UMKM ikut merasakan faedah dari perputaran ekonomi nan dihasilkan program ini," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/8/2026).

Usulan Bulog bukan mengenai beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), melainkan beras premium nan dapat dimanfaatkan sebagai persediaan andaikan suatu wilayah mengalami keterbatasan pasokan.

Menurutnya, keberadaan Bulog sebagai lembaga negara mempunyai peran strategis dalam menjaga stabilitas nilai sekaligus menjamin kesiapan stok pangan nasional.

"Bulog mempunyai kegunaan sebagai stabilisator nilai dan penjaga stok pangan. Karena itu kami mau menempatkan Bulog sebagai buffer. Ketika pasokan beras lokal belum mencukupi alias ada potensi kenaikan nilai akibat meningkatnya kebutuhan, Bulog dapat menjadi penyangga sehingga masyarakat tetap memperoleh nilai nan wajar dan stok pangan tetap tersedia," jelas Sudaryono.

Ia menegaskan kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi BGN agar penyelenggaraan Program MBG tidak hanya berakibat pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga bisa memberikan faedah ekonomi secara langsung bagi daerah.

Dengan mengutamakan pembelian bahan pangan dari lingkungan sekitar SPPG, perputaran ekonomi di tingkat desa maupun kecamatan diharapkan semakin meningkat.

"Jangan sampai keberadaan dapur MBG justru memicu gejolak nilai di suatu wilayah lantaran menyerap pasokan nan terbatas. Karena itu kami memprioritaskan bahan pangan lokal terlebih dahulu. Jika memang terjadi kekurangan, baru Bulog datang sebagai penyangga agar nilai tetap stabil dan pasokan tetap aman," tutup Sudaryono.

(ily/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance