Besar Besar UPI Sebut, MBG Program Bagus Bila Dikelola dengan Baik

Sedang Trending 5 jam yang lalu
Besar Besar UPI Sebut,  MBG Program Bagus Bila Dikelola dengan Baik Sejumlah siswa membawa ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) di komplek Madrasah Ibtidayyah Negeri (MIN) 11 Aceh Barat.(Antara)

DI tengah kritik dan kontroversi akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di masyarakat, para mahir dan pengamat kebijakan publik tetap banyak nan menilai bahwa akibat program ini bisa optimal. Apabila dikelola dengan tepat, bukan tidak mungkin program ini mendorong perkembangan generasi muda bangsa dalam 10-20 tahun ke depan.

Hal tersebut ditegaskan  Guru Besar Ilmu Politik dan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan, MBG jika dikelola dengan tata kelola manajerial nan transparan, tepat sasaran, dan diimbangi dengan ekosistem pendidikan nan holistik

"Saya optimistis program ini bakal membawa transformasi besar. Apabila anak-anak kita secara bentuk sehat lantaran asupan gizi nan baik, dan diimbangi dengan kognisi serta literasi nan baik dari sekolah, Insyaallah dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, program ini bakal melahirkan generasi-generasi unggul nan good and smart,” tegasnya.

KONTROL PUBLIK
Terkait dinamika di media sosial di mana penerapan MBG kerap mendapat sorotan tajam dan kritik, Cecep menilai perihal tersebut sebagai corak kontrol publik nan wajar. Namun, dia menekankan pentingnya literasi media sosial agar masyarakat dapat membedakan antara kritik nan konstruktif dengan cercaan alias hoaks.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa penerapan di lapangan pasti ada kelemahan. Anggap saja kritik itu sebagai obat. nan kurang baik manajerialnya segera diperbaiki, dapur nan tidak standar diganti. Jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya,” terangnya.

Di saat nan sama, Cecep juga mendorong agar praktik-praktik baik (best practices) dari dapur SPPG dan sekolah nan telah sukses menjalankan MBG dengan optimal turut disebarluaskan untuk mengimbangi narasi negatif dan menjadi percontohan bagi wilayah lain. 

Publik maupun pemangku kebijakan kudu bisa memisahkan antara prinsip visi program MBG dengan hambatan teknis di lapangan. Menurutnya, sebuah buahpikiran besar untuk memperbaiki gizi bangsa tidak boleh gugur hanya lantaran masalah manajerial nan belum sempurna.

Secara blak-blakan, Prof. Cecep memberikan rekomendasi taktis bagi pemerintah, terutama jika dihadapkan pada keterbatasan anggaran di awal-awal masa implementasi. Ia menyarankan agar konsentrasi program ini dipersempit untuk menyasar golongan nan betul-betul memerlukan terlebih dahulu.

"Jadi jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya. Kalau sekarang programnya itu jika memang uangnya tetap terbatas, kelompok-kelompok rentan saja duluan. Ya, se-Indonesia golongan rentan aja duluan, termasuk anak-anak jalanan. Nanti jika finansial negara makin baik, baru berjenjang ke sasaran nan lebih luas agar anggaran tepat guna,” tuturnya.

BUKAN SATU-SATUNYA SOLUSI
Meski MBG mempunyai visi nan sangat baik, Cecep mengingatkan bahwa program MBG tidak bisa melangkah sendirian dan tidak boleh dijadikan satu-satunya solusi atas kompleksitas masalah masyarakat.

Cecep menyarankan beberapa aspek strategis nan perlu diperhatikan pemerintah untuk mengoptimalkan program ini antara lain: MBG memerlukan kerja kolaboratif antara Badan Gizi Nasional (BGN), beragam kementerian terkait, pemerintah daerah, hingga komite sekolah dan keluarga.

"Saya juga mendorong agar pemerintah juga kudu memperkuat sektor ekonomi makro dan penyediaan lapangan kerja agar orang tua bisa melanjutkan estafet pemenuhan gizi di rumah," tutupnya. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia