Nama Manshur Praditya alias nan lebih dikenal sebagai Manshur Angklung mencuri perhatian publik internasional. Musisi asal Bandung itu baru saja tampil dalam Indonesia Festival 2026 nan digelar di Rådhuspladsen, salah satu area ikonik di pusat Kota Copenhagen, Denmark.
Indonesia Festival 2026 menjadi arena promosi budaya Indonesia sekaligus mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Denmark melalui seni, musik, kuliner, dan beragam pagelaran budaya lainnya. Di antara beragam penampilan nan ditampilkan, tindakan Manshur Angklung menjadi salah satu nan paling menarik perhatian.
Manshur sukses menghadirkan angklung, perangkat musik tradisional unik Jawa Barat, dalam bungkusan nan lebih modern dan dekat dengan generasi muda. Tak jarang, Manshur memadukan bunyi angklung dengan musik elektronik alias EDM, menciptakan perpaduan unik.
Namun, tampil di panggung internasional bukanlah pengalaman baru bagi Manshur. Perjalanannya mengenalkan angklung ke beragam negara sudah dimulai lebih dari satu dasawarsa lalu.
"Awal mulai saya tampil ke luar negeri sekitar tahun 2013 alias 2014. Saat itu saya tetap tergabung dalam Indonesia Bamboo Community. Kami membikin beragam perangkat musik dari bambu seperti gitar, drum, bass, hingga biola bambu, dan saya menjadi kepala bagian angklung dan musik bambu," kenang Manshur saat berbincang dengan kumparan, Senin (1/6).
Bersama organisasi tersebut, dia berkesempatan tampil di sejumlah negara Asia seperti Malaysia dan Taiwan. Dari pengalaman itu, Manshur mulai menyadari bahwa angklung mempunyai elastisitas nan luar biasa.
"Dari situ saya berpikir bahwa angklung bisa mengikuti musik dari negara mana pun. Akhirnya muncul buahpikiran bahwa angklung bisa bekerja-sama dengan DJ. Awalnya saya tidak pernah terpikir ke arah sana, tetapi setelah menjalani banyak pengalaman, rupanya angklung bisa dipadukan dengan musik elektronik," ujarnya.
Bersiap Tur Chapter 2 di 8 Negara
Penampilannya di Denmark menjadi bagian dari Tur Eropa Chapter 1 nan dijalani Manshur sepanjang Mei 2026. Dalam tur tersebut, dia mengunjungi tiga negara, ialah Denmark, Bulgaria, dan North Macedonia, sejak 15 Mei hingga 1 Juni 2026.
Di setiap negara nan disinggahinya, Manshur merasakan antusiasme nan tinggi dari masyarakat setempat terhadap musik tradisional Indonesia.
"Alhamdulillah semuanya melangkah sukses. Masyarakat di sini sangat mengapresiasi bahwa musik tradisional Indonesia bisa naik level dan diterima di panggung internasional," katanya.
Kesuksesan tur tersebut membikin Manshur semakin optimistis untuk terus memperkenalkan angklung ke bumi seperti misinya ialah Bring Angklung to the Next Level. Ia juga telah menyiapkan Tur Chapter 2 nan rencananya bakal berjalan pada September alias Oktober 2026.
Menurut Manshur, rangkaian tur tersebut bakal bertepatan dengan beragam aktivitas nan diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di sejumlah negara.
"Biasanya setelah seremoni 17 Agustus, banyak KBRI di beragam negara mengadakan Indonesia Festival untuk mempromosikan budaya, musik, tari, hingga kuliner Indonesia. Saya dipercaya untuk mewakili bagian musik dalam beberapa aktivitas tersebut," jelasnya.
Pada tur berikutnya, Manshur dijadwalkan tampil di delapan negara Eropa, termasuk Bulgaria, Rumania, Bosnia Herzegovina, Prancis, serta Italia.
Berawal dari Pemain Kecapi di Acara Pernikahan
Di kembali kesuksesannya saat ini, perjalanan Manshur rupanya dimulai dari panggung-panggung sederhana. Sebelum dikenal sebagai pemain angklung, dia lebih dulu menekuni kecapi dan rutin tampil dari satu aktivitas pernikahan ke aktivitas lainnya.
"Waktu tetap SMK saya sebenarnya pemain kecapi. Saya sering manggung dari wedding ke wedding. Mapag pengantin namanya dulu," ujarnya sembari tertawa.
Ketertarikannya pada angklung mulai tumbuh ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Setelah lulus dari SMKN 10 Bandung bidang Seni Musik Tradisional Sunda, Manshur melanjutkan studi ke Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.
Di kampus tersebut, dia masuk ke Program Studi Angklung dan Musik Bambu, nan saat itu menjadi bidang pertama dan satu-satunya di bumi nan secara unik mempelajari angklung secara formal.
"Saya menjadi angkatan pertama di bidang itu. Sebelumnya saya memang sudah belajar beragam perangkat musik tradisional seperti kecapi, suling, gendang, gamelan, dan angklung. Tapi ketika betul-betul masuk ke bumi angklung, saya merasa inilah cinta saya," kata Manshur.
Menurut Manshur, angklung mempunyai karakter nan susah ditemukan pada perangkat musik lain di dunia. Dari situlah kecintaannya terhadap perangkat musik warisan budaya Indonesia tersebut semakin tumbuh.
"Angklung adalah salah satu perangkat musik paling unik di dunia. Saya jatuh cinta kepada angklung, dan rupanya angklung juga nan menghidupi saya sampai hari ini. Alhamdulillah, melalui angklung saya bisa membanggakan Indonesia di beragam negara," tutupnya.
7 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·