Cuplikan Sejarah Lahirnya Halaman Opini di The New York Times
Kolom opini di koran-koran arus utama di Amerika Serikat (AS) mendapat tempat terpandang di mata khalayak. Dapat menulis di laman itu merupakan sebuah kewenangan spesial (privilege) tersendiri. Di jagat persuratkabaran AS, laman ini disebut juga Opposite Editorial Page atau Op-Ed Page.
Apa maksudnya nama itu? Sebutan ini kerap diartikan secara salah kaprah hingga hari ini. Banyak orang mengira kata "Op" (Opposite) merujuk pada pengertian oposisi. Artinya, laman itu diperuntukkan bagi kalangan oposisi, alias nan mempunyai pandangan berlawanan (opposite) dengan surat berita dimaksud. Ternyata tidak.
Kata opposite dipakai dengan argumen nan simpel. letak halamannya secara bentuk saling berdampingan alias berhadapan (opposite) dengan laman editorial. Penempatan berseberangan itu lah nan diterangkan oleh kata opposite.
Menurut Michael Socolow dalam studinya nan berjudul "A Profitable Public Sphere: The Creation of The New York Times Op-Ed Page" (terbit di jurnal Communication and Journalism Faculty Scholarship pada tahun 2010) awalnya koran-koran di AS tidak mempunyai kolom opini bagi penulis dari luar organisasi surat kabar. Tulisan-tulisan bergenre opini umumnya karya wartawannya sendiri. Bila pun ada tulisan dari pihak luar, formatnya disajikan secara sporadis sebagai komentar lepas alias surat pembaca.
Tulisan opini nan paling berpengaruh dan mempunyai tempat terhormat tentulah editorial alias tajuk rencana. Ia dibaca oleh para pengambil keputusan, mulai dari duta besar, personil parlemen, hingga presiden.
Editorial semakin krusial lantaran sejarah persuratkabaran AS nan pada masa itu diramaikan oleh koran-koran mini nan sektarian, partisan, dan bias secara politik. Koran-koran pada masa itu dipenuhi oleh opini subyektif dari pemilik alias golongan penyokongnya. Oleh lantaran itu pandangan redaksi sebuah surat berita nan disampaikan melalui editorial, dipakai oleh pembaca untuk melakukan penilaian terhadap surat berita nan dibacanya.
Dalam perjalanannya, surat berita mulai merasakan adanya kebutuhan bagi ekspansi ruang pembaca. Hal ini terutama untuk meraih kue iklan nan lebih besar.
Namun, ekspansi pembaca hanya bisa terjadi jika surat berita tidak terlalu berpihak. Pembaca menginginkan laporan jurnalistik nan objektif. Oleh lantaran itu salah satu langkah untuk memperluas pembaca adalah menyajikan buletin nan objektif dan aktual dengan memisahkan secara tegas—bahkan melalui tata letaknya—antara ruang buletin (news) dan ruang opini (opinion).
Namun, akomodasi seperti ini rupanya dirasa tidak cukup. Memasuki awal abad ke-20, muncul tuntutan dan kemauan menyediakan tempat bagi opini nan berbeda di luar sikap resmi surat kabar. Para politisi, akademisi, dan pengambil kebijakan mau menyuarakan pemikiran mereka secara mendalam, sama seperti halnya majelis redaksi menulis editorial. Mereka menuntut agar tulisan mereka ditempatkan sejajar dan setara dengan laman editorial.
Salah satu surat kabar pertama nan bereksperimen menyajikan laman opini di sebelah laman editorial adalah Chicago Tribune pada 1912. Sementara itu, New York World di bawah penyunting Herbert Bayard Swope mulai menyajikan laman serupa pada era 1920-an, meskipun ruang tersebut tetap didominasi oleh kolumnis internal koran. Selanjutnya, The Washington Post secara terbuka menyebut laman komentar di seberang editorial sebagai "halaman opini" pada 1930-an, diikuti oleh Los Angeles Times pada era 1950-an.
Koran legendaris The New York Times (NYT) tak luput dari arus perkembangan ini. Lahirnya Op-Ed Page di surat kabar ini penuh dengan intrik idealisme nan sangat menarik.
Alkisah, John B. Oakes berkawan dekat dengan Edward Barrett. Oakes adalah personil majelis redaksi NYT dan redaktur rubrik editorial, sedangkan Barrett adalah mantan asisten Menteri Luar Negeri AS nan kemudian menjabat sebagai Dekan Sekolah Jurnalisme Columbia sembari aktif di bagian hubungan masyarakat (humas).
Pada 1956, Oakes menerima surat dari Barrett nan sedang mewakili kliennya, Perusahaan Terusan Suez. Isi surat tersebut menyatakan kemauan untuk menerbitkan sebuah tulisan nan merinci posisi dan argumen kliennya mengenai perebutan terusan tersebut oleh Mesir. Barrett apalagi sudah menyusun tulisan pendek nan siap cetak.
Oakes sebenarnya sangat menyukai esai tersebut. Namun, dia terpaksa menolaknya dengan argumen nan jujur: NYT sama sekali "tidak mempunyai tempat untuk karya dari pihak luar semacam itu." Kecewa dengan penolakan tersebut, Barrett beranjak ke surat kabar pesaing, New York Herald Tribune, nan tanpa ragu langsung memuatnya di laman editorial mereka.
Pengalaman pahit itulah nan di kemudian hari diakui Oakes sebagai percikan awal nan mendorongnya mengusulkan pembuatan laman opini unik di NYT. Ia secara serius menyampaikan pendapat ini kepada Pemimpin Umum NYT, Orvil Dreyfoos, pada era 1960-an dan kemudian kepada penerusnya, Arthur Sulzberger. Sayangnya, proposal Oakes acapkali membentur tembok penolakan manajemen.
Penyebab penolakan ini adalah tumbukan antara idealisme ruang publik dan realitas upaya komersial. Selama bertahun-tahun, laman di sebelah editorial NYT telah ditempati oleh rubrik Obituari. Di era surat kabar cetak berjaya, ruang Obituari berbayar (berita duka cita) adalah salah satu mesin duit dan penyumbang pendapatan iklan bagi manajemen surat kabar. Menggusur Obituari demi sebuah laman opini cuma-cuma dari penulis luar dianggap sebagai keputusan upaya nan tidak masuk logika oleh jejeran dewan saat itu.
Penolakan berbasis keuntungan ini tidak menyurutkan semangat Oakes. Ia justru menjalankan kampanye publik untuk menggolkan gagasannya dengan berbincang di beragam universitas. Oakes melontarkan argumen bahwa sebuah surat berita memerlukan kedalaman analitis dalam menjalankan perannya menafsirkan era kepada masyarakat umum. Tanggung jawab penafsiran ini, menurutnya, tidak boleh didominasi oleh satu bunyi otoritas tunggal dari redaksi surat kabar saja. Ia menekankan bahwa keberagaman opini dari luar adalah sumber kehidupan sejati bagi sebuah sistem demokrasi.
Untuk melunakkan resistensi manajemen, Oakes melakukan uji coba secara berkala melalui rubrik kolom Topics of the Times. Ruang ini sengaja disediakan bagi kontributor luar dengan memperkenalkan format esai klasik nan berbeda dari kajian buletin standar. Esai-esai tersebut sengaja dikurasi untuk mengangkat tema-tema universal, humanistik, dan filosofis.
Tulisan dengan nama penulis original dari luar (byline) muncul pertama kali di rubrik uji coba ini pada 1965. Setahun kemudian, orang-orang terpandang di bidangnya mulai diundang untuk berkontribusi.
Percobaan ini mendapat sambutan nan luar biasa hangat. Banyak kontributor merasa terhormat lantaran NYT memberikan agunan bahwa tulisan nan tidak sejalan alias apalagi bertentangan dengan kebijakan editorial surat kabar pun bakal tetap diberi tempat nan adil.
Melihat kesuksesan dan potensi besarnya, manajemen NYT akhirnya luluh. Tepat pada 21 September 1970, laman Op-Ed NYT resmi diluncurkan untuk pertama kalinya. Demi menegaskan komitmen Oakes terhadap keberagaman suara, jenis perdana tersebut langsung memasang tulisan W.W. Rostow (mantan Penasihat Keamanan Nasional AS nan pro-kebijakan luar negeri Amerika) bersandingan secara kontras dengan esai karya Han Suyin (penulis kelahiran Tiongkok nan memberikan perspektif dari perspektif pandang Beijing). Edisi ini menjadi tonggak sejarah nan langsung ditiru secara massal oleh beragam surat berita di seluruh dunia.
Halaman Op-Ed dalam perjalanannya tidak luput dari kritik tajam mengenai bias seleksi penulis. Meskipun Oakes mengusung semangat keberagaman suara, realita di lapangan menunjukkan bahwa laman Op-Ed sering bertindak sebagai "penjaga gerbang" (gatekeeper) nan elitis.
Selama beberapa dekade, laman ini didominasi secara luar biasa oleh penulis kulit putih, laki-laki, dan mereka nan berasal dari lingkaran akademisi Ivy League alias lembaga ahli filsafat (think tank) mapan di Washington. Suara-suara dari golongan minoritas, perempuan, serta masyarakat kelas pekerja sering kali terpinggirkan lantaran standar kurasi nan condong mencari argumen nan "mengejutkan namun tetap berada dalam koridor elite."
Memasuki era modern, ketika media beranjak ke ranah digital dan mulai melibatkan teknologi algoritma kepintaran buatan (AI) dalam menyaring tulisan, bias tradisional ini tidak serta-merta hilang. Ia justru bermutasi. Algoritma nan dirancang untuk memaksimalkan untung digital melahirkan engagement bias (bias keterikatan). Sistem otomatis ini condong memprioritaskan opini-opini nan kontroversial, tajam, dan memicu kemarahan publik (rage-bait) lantaran terbukti mendatangkan klik dan metrik keterikatan nan tinggi.
Bukan hanya itu, algoritma nan melacak info kesuksesan masa lampau berisiko melanggengkan bias historis; sistem otomatis bakal membaca bahwa profil penulis sukses masa lampau adalah kaum elite mapan, sehingga draf dari golongan minoritas kerap mendapat skor kepantasan nan rendah. Akibatnya, prinsip original Op-Ed sebagai alun-alun publik nan sehat terancam bergeser menjadi "ruang gema" (echo chamber) nan terpolarisasi akibat algoritma rekomendasi nan hiper-personal, nan hanya menyodorkan opini nan sesuai dengan preferensi politik pembaca.
Pada April 2021 setelah lebih dari separuh abad menjadi ruang debat publik paling bergengsi, laman Op-Ed memasuki babak baru di era digital. NYT secara resmi memutuskan untuk memensiunkan istilah Op-Ed dan menggantinya dengan julukan nan lebih lugas: Guest Essay (Esai Tamu).
Keputusan ini diambil lantaran di era modern, kebanyakan pembaca menikmati tulisan secara digital melalui ponsel alias komputer, bukan lagi membuka lembaran bentuk surat kabar lembar lebar (broadsheet). Di ruang digital, istilah "halaman di sebelah editorial" kehilangan relevansi.
Lebih lima tahun perubahan nama Op Ed menjadi esai tamu. Meski namanya telah berubah demi transparansi digital, spirit nan ditiupkan oleh John B. Oakes tetap sama: ruang publik nan sehat selalu memerlukan ruang bagi suara-suara nan berbeda.
47 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·