Jam tiga pagi di Rogojampi, Banyuwangi, seorang pesepeda berjulukan Bambang Anggoro Jati akhirnya berakhir mengayuh. Usianya saat itu 28 tahun dan tubuhnya telah bekerja nyaris tanpa rehat selama tiga hari terakhir.
Di depan sebuah restoran nan sudah tutup, dia melepaskan sepatu sepedanya, menyandarkan sepeda ke dinding, lampau duduk di pinggir jalan. Beberapa menit kemudian dia tertidur.
Di saat nan sama, panitia Bentang Jawa 2022 mulai panik. GPS milik Bambang mati. Namanya lenyap dari peta pencarian peserta. Tidak ada nan tahu dia berada di mana.
"Pas bangun saya bingung. Aku lagi ngapain ya?" kenang Bambang.
Peristiwa itulah nan kemudian melahirkan sebuah cerita nan hingga sekarang tetap sering diceritakan ulang di kalangan pesepeda endurance Indonesia. Mereka mengenalnya dengan satu nama: Bembenx Ora Turu.
Memimpin dari Yogyakarta
Bentang Jawa merupakan salah satu arena ultra cycling paling bergengsi di Indonesia. Pada jenis 2022, peserta menempuh perjalanan nyaris 1.500 kilometer dari Carita, Banten, menuju Banyuwangi, Jawa Timur, melewati sejumlah checkpoint di sepanjang Pulau Jawa.
Tidak ada kendaraan pendamping, tidak ada tim mekanik, dan tidak ada agenda rehat nan ditentukan panitia. Semua peserta kudu mengatur sendiri kapan makan, kapan beristirahat, dan kapan tidur.
Saat memasuki Yogyakarta setelah menempuh sekitar 800 kilometer perjalanan, posisi Bambang sebenarnya sangat menjanjikan. Pesepeda asal Yogyakarta itu tetap memimpin perlombaan dengan kelebihan lebih dari 100 kilometer dari peserta nan berada di belakangnya. Di layar pencari lomba, namanya berada di posisi teratas.
Namun posisi tersebut justru menghadirkan tekanan tersendiri. Semakin besar kelebihan nan dia miliki, semakin besar pula ketakutannya untuk kehilangan posisi itu.
"Aku waktu itu takut disusul. Jadi maunya jalan terus," katanya.
Keputusan itulah nan kemudian mengubah arah perlombaannya.
Turun ke Lumajang
Dari Yogyakarta, Bambang terus bergerak ke arah timur. Ia melewati Gunungkidul, menuju Blitar, lampau bergerak ke area Bromo melalui jalur Jemplang dan Ranu Pane. Saat memasuki hari ketiga perlombaan, tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan nan serius.
Pagi 17 Agustus 2022, setelah melewati Ranu Pane dan mulai menuruni jalan menuju Lumajang, konsentrasinya mulai terganggu. Jalanan saat itu ramai oleh penduduk nan bergerak menuju beragam letak upacara kemerdekaan.
Dalam kondisi kurang tidur nan sudah berjalan berhari-hari, Bambang dua kali terjatuh lantaran mengantuk.
"Aku jatuh dua kali lantaran ngantuk," ujarnya.
Meski demikian, dia tetap melanjutkan perjalanan. Di kepalanya hanya ada satu hal: mempertahankan posisi terdepan.
"Aku Harus ke Mana Ya?"
Memasuki Senduro, sebuah kecamatan di kaki Gunung Semeru, sesuatu nan lebih asing mulai terjadi.
Bambang tetap mengayuh. GPS tetap menyala. Jalur perlombaan tetap terpampang jelas di depannya. Namun perlahan dia kehilangan orientasi. Ia mengirim pesan kepada beberapa temannya dan bertanya ke mana dia kudu melanjutkan perjalanan.
"Aku sempat chat teman, 'aku kudu ke mana ya?'"
Pertanyaan itu sebenarnya tidak masuk akal. Jalur perlombaan sudah ada di layar GPS nan terpasang di sepedanya.
"Aku mulai lupa lagi ngapain?." Bambang malah bingung dengan apa nan dia kerjakan. Padahal dia tetap terus mengayuh. Kakinya tetap bergerak. Sepedanya tetap melaju ke arah timur. Namun saat itu dia tidak lagi memahami kenapa dirinya berada di jalan tersebut.
Dari Senduro dia terus bergerak menuju Jember. Tubuhnya tetap mengayuh, tetapi pikirannya semakin susah membedakan mana nan nyata dan mana nan tidak. Beberapa kali dia merasa seperti sedang bergerak tanpa betul-betul memahami tujuan perjalanannya.
Jalan nan Tak Pernah Selesai
Kondisinya semakin memburuk ketika memasuki area Gumitir, jalur pegunungan nan menghubungkan Jember dan Banyuwangi. Bagi banyak pesepeda, area ini memang terkenal berat. Namun bagi Bambang, tantangannya bukan lagi tanjakan alias turunan.
Ia mulai berhadapan dengan dirinya sendiri.
Jalan terasa tidak pernah selesai. Tikungan demi tikungan terlihat sama. Waktu melangkah lebih lambat dari biasanya. Setelah nyaris tiga hari tanpa tidur, realitas perlahan kehilangan corak nan dikenalnya.
Di titik inilah Bambang mulai mengalami fatamorgana akibat kelelahan ekstrem.
Hilang di Rogojampi
Menjelang Banyuwangi, GPS nan selama ini menjadi penuntunnya tiba-tiba mati. Dalam kondisi kehabisan tenaga, Bambang akhirnya berakhir di Rogojampi sekitar pukul tiga awal hari.
Ia menemukan sebuah restoran nan sudah tutup, menyandarkan sepedanya di depan gedung itu, lampau tertidur.
Sementara itu, panitia kehilangan jejaknya.
Peserta nan sebelumnya memimpin perlombaan tiba-tiba menghilang dari peta pelacakan. Tidak ada kabar. Tidak ada lokasi. Tidak ada nan tahu apa nan terjadi.
"Mereka bilang, semua orang nyariin kamu," kenang Bambang.
Sekitar empat jam kemudian dia terbangun. Ia berdiri, memandang sekeliling, dan mencoba memahami apa nan sedang terjadi.
"Pas bangun saya bingung."
Beberapa saat kemudian panitia sukses menemukannya. Saat itulah kesadarannya perlahan kembali.
"Oh iya... saya lagi race ya."
Finis Nomor Tiga
Setelah beristirahat, Bambang kembali naik ke atas sepedanya dan melanjutkan perjalanan menuju garis finis di Banyuwangi. Posisi nan sebelumnya begitu nyaman memang sudah hilang. Namun dia tetap sukses menyelesaikan Bentang Jawa 2022 di ranking ketiga.
Bagi kebanyakan orang, hasil itu mungkin hanya sebuah catatan lomba. Namun di organisasi pesepeda endurance Indonesia, nan memperkuat justru bukan posisi podium tersebut.
Yang terus hidup adalah ceritanya.
Cerita tentang seorang peserta nan memimpin perlombaan, tidak tidur selama nyaris tiga hari, lupa bahwa dirinya sedang berlomba, menghilang dari peta, lampau ditemukan kembali di sebuah restoran tutup di Rogojampi.
Empat tahun kemudian, banyak orang mungkin sudah lupa siapa juara Bentang Jawa 2022. Namun di kalangan pesepeda endurance Indonesia, satu nama tetap terus disebut.
Bembenx Ora Turu.
Tentang Mitra Liputan
Liputan ini didukung oleh Nutriflakes, sereal umbi garut pilihan family Indonesia. Melalui kerjasama ini, Nutriflakes dan Pandangan Jogja mengangkat kisah-kisah tentang style hidup aktif, ketahanan fisik, serta pentingnya menjaga pola makan dan kesehatan pencernaan dalam aktivitas sehari-hari.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·