Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku telah melaporkan 7 langkah nan bakal diambil untuk membikin rupiah kuat.
Termasuk pembatasan pembelian dolar. Hal itu disampaikan usai pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa malam (5/5/2026).
"Yang kami sudah keluarkan adalah pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying. nan dulunya 100.000 dolar per orang
per bulan, kita turunkan 50.000 dolar per orang per bulan. Itu nan kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan-penguatan," katanya menjelaskan langkah kelima nan diambil Bank Indonesia.
"Termasuk di dalam negeri itu adalah pasar Yuan, Chinese Yuan dengan Rupiah sudah berkembang di dalam negeri lantaran local currency kita dengan Cina sama Rupiah itu sangat tinggi. Dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik Yuan sama Rupiah, termasuk ini local currency sehingga itu mengurangi alias melakukan diversifikasi dari dolar sehingga itu bisa memperkuat," jelasnya.
Pembatasan tersebut, lanjut Perry, sedang dipersiapkan untuk diturunkan lagi menjadi 25.000.
"Sehingga pembelian dolar sampai dengan alias di atas 25.000 itu kudu pakai underlying ya. Itu nan kami bakal perkuat, ini bakal kami perkuat dalam negeri," kata Perry.
Langka lain nan bakal diambil Bank Indonesia untuk penguatan Rupiah adalah melakukan intervensi secara tunai dan domestic non-deliverable di dalam negeri, dan juga non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri.
"Di Hong Kong, di Singapura, di London, di New York kami terus bakal melakukan intervensi untuk menstabilkan Rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah itu," katanya.
"Yang kedua, tadi Pak Menko sudah menyebut lantaran sementara ini SBN itu keluar, kemudian saham, meskipun dalam minggu-minggu terakhir hasil koordinasi dengan Pak Menteri Keuangan sudah mulai inflow tapi year to date tetap outflow. Sementara saham terjadi outflow, sehingga kami bermufakat untuk sementara ini
SRBI dibuat perlu inflow, sehingga inflow-nya SRBI bisa mencukupi outflow-nya SBN dan saham," sambungya.
Langkah itu, ujarnya, berkoordinasi dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow portofolio asing itu.
"Sehingga tetap year to date-nya tetap terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar Rupiah," katanya.
Langkah ketiga, berkoordinasi dengan Menteri Keuangan, BI bakal terus membeli SBN dari pasar sekunder.
"Ini koordinasi sudah awal tahun koordinasi dan kita lakukan. Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun. Dan kami bakal melakukan koordinasi termasuk kelak Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam, koordinasi
sangat erat antara fiskal dan moneter," katanya.
Langkah keempat, menjaga likuiditas di perbankan dan pasaran lebih dari cukup, ialah terindikasi dari pertumbuhan duit primer nan selalu double digit. Terakhir, kata dia, pertumbuhan duit primer adalah 14,1%.
"Keenam, penguatan untuk pasar intervensi kami di offshore non-delivery forward agar kita lebih bisa mengendalikan perkembangan nilai tukar di
offshore, di luar negeri. Selain intervensi nan terus kami lakukan, kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih, lebih banyak sehingga itu bakal memperkuat stabilisasi dari nilai tukar Rupiah," kata Perry.
Dan ketujuh, peningkatan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi nan terutama kami lihat bank-bank korporasi nan aktivitas pembelian dolarnya tinggi.
"Kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Friderica Widyasari dari Ketua OJK untuk memastikan gimana stabilitas sistem finansial terjaga," kata Perry.
(dce/dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·