Belajar Menjahit di Nusakambangan, Ridwan Kini Siap Menata Hidup Baru

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Suasana Balai Latihan Kerja Nusakambangan, Selasa (28/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Deru mesin jahit terdengar nyaris tanpa henti dari Balai Latihan Kerja (BLK) Konveksi di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (28/7).

Di antara puluhan penduduk bimbingan nan sibuk merapikan potongan kain, Muhammad Ridwan (29) justru lebih sering berdiri beranjak dari satu meja ke meja lain.

Tangannya tak lagi sekadar mengoperasikan mesin jahit. Kini, dia mengawasi hasil jahitan, membetulkan posisi tangan para penduduk bimbingan baru, hingga sesekali menunjukkan langkah menggunakan mesin obras.

Padahal, tak sampai setahun lalu, Ridwan mengaku sama sekali tak mengetahui langkah menjahit.

“Saya mengikuti aktivitas konveksi ini dari Oktober 2025, hari pertama pembukaan konveksi. nan awalnya saya belajar menjahit, nan tadinya enggak bisa apa-apa, alhamdulillah sekarang saya bisa jadi pembimbing dan membantu belajar anak bimbingan nan baru-baru,” kata Ridwan saat ditemui di lokasi.

Berawal pada 2025

Muhammad Ridwan (29), Warga Binaan Lapas Nusakambangan saat ditemui, Selasa (28/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Perjalanan itu dimulai setelah dia dipindahkan ke Nusakambangan pada Agustus 2025. Saat itu, sejumlah penduduk bimbingan dari beragam lapas di Jawa Tengah ditempatkan untuk mengikuti program pembinaan keahlian dan ketahanan pangan.

Ada nan memilih budidaya sidat dan sektor lainnya, Ridwan justru mantap memilih konveksi.

Alasannya sederhana. Ia mau mempunyai bekal ketika suatu hari kembali menghirup udara bebas.

“Karena buat bekal pulang. Karena kita punya keterampilan, talenta, untuk mencari pekerjaan baru di luar dan meninggalkan lingkungan nan lama,” ujarnya.

Belajar dari Nol

Suasana Balai Latihan Kerja Nusakambangan, Selasa (28/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Belajar menjahit bukan perihal mudah bagi Ridwan. Dia mengaku memulai semuanya dari nol. Ia tak pernah menyentuh mesin jahit sebelum menjalani pembinaan di Nusakambangan.

“Enggak bisa sama sekali (menggunakan mesin jahit). Belajar dari nol, betul-betul nol, enggak tahu, enggak mengerti sama sekali,” katanya.

Proses itu menuntut kesabaran. Setiap jahitan kudu presisi, setiap potongan kain kudu sesuai pola. Kesalahan mini bisa membikin satu busana kudu diperbaiki dari awal.

“Kesulitannya kita kudu sabar, telaten, dan kompeten agar menghasilkan hasil nan bagus,” tuturnya.

Ketekunan itu perlahan membuahkan hasil. Kini Ridwan dipercaya menjadi pembimbing nan mendampingi dua penduduk bimbingan baru setiap hari. Secara keseluruhan, sekitar 100 penduduk bimbingan mengikuti training konveksi di BLK tersebut.

Bukan hanya mengajari teknik menjahit, Ridwan juga membantu ketika mesin mengalami kendala.

“Puas, senang, lantaran nan tadinya enggak mengerti soal menjahit, obras, sekarang tahu. Mesin jahit, bisa benerin mesin jika rusak, dan membantu teman-teman nan lain biar bisa terampil,” ujarnya sembari tersenyum.

Di dalam BLK Konveksi, produksi berjalan nyaris setiap hari, Senin hingga Sabtu, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.

Setiap lini produksi bisa menghasilkan sekitar 150 hingga 200 pangkas busana per hari. Produk nan paling banyak dikerjakan saat ini adalah seragam lapas nan didistribusikan ke beragam lembaga pemasyarakatan di Jawa Tengah.

Meski pekerjaan itu melelahkan, Ridwan mengaku menikmati setiap prosesnya.

“Capek,” katanya singkat, lampau tertawa kecil.

Namun rasa capek itu, menurutnya, selalu terbayar ketika memandang hasil jahitan nan rapi.

Bisa Menabung

Suasana Balai Latihan Kerja Nusakambangan, Selasa (28/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Selama bekerja, Ridwan juga menerima premi berasas jumlah produksi. Sistemnya dihitung secara borongan, dengan nilai Rp 1.500 per pangkas nan kemudian dibagi kepada setiap personil tim.

Sebagian duit itu dia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari selama di lapas. Sisanya dia simpan sebagai tabungan.

“Buat tabungan lah, buat kita bekal pulang, ongkos alias buat jajan di sini,” katanya.

Meski belum berencana membuka upaya konveksi sendiri setelah bebas nanti, Ridwan berambisi keahlian nan diperolehnya menjadi pintu masuk untuk memulai kehidupan baru.

“Sementara mau ikut-ikut dulu ke usaha-usaha mini rumahan alias PT,” ujarnya.

Bagi Ridwan, mesin jahit bukan lagi sekadar perangkat produksi.

Di kembali deru suaranya, dia menemukan kesempatan untuk belajar, berbagi pengetahuan kepada sesama penduduk binaan, sekaligus menyusun angan agar kelak dapat kembali ke masyarakat dengan identitas baru, bukan sebagai mantan narapidana, melainkan sebagai seorang penjahit nan mempunyai keahlian dan pekerjaan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan