Bawa Aston Villa Juara Liga Europa, Unai Emery Desak Klub Mulai Era Baru yang Ambisius

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Bawa Aston Villa Juara Liga Europa, Unai Emery Desak Klub Mulai Era Baru nan Ambisius Unai Emery meminta Aston Villa menjadikan trofi Liga Europa di Istanbul sebagai fondasi era baru. "Kami tidak bakal berhenti," tegas sang manajer.(AFP)

MANAJER Aston Villa, Unai Emery, mendesak klubnya untuk menjadikan momentum kemenangan berhistoris di final Liga Europa melawan Freiburg sebagai fondasi awal bagi era baru nan lebih ambisius.

Skuad didikan Emery sukses mengakhiri dahaga trofi selama 30 tahun bagi klub lewat kemenangan telak 3-0 di Istanbul pada Rabu malam. Gol-gol spektakuler di babak pertama dari Youri Tielemans dan Emiliano Buendia membikin Villa memegang kendali penuh, sebelum akhirnya Morgan Rogers mencetak gol ketiga setelah turun minum untuk menyudahi perlawanan Freiburg.

Trofi pertama Villa sejak Piala Liga 1996 ini sekaligus menjadi gelar Eropa bergengsi pertama mereka dalam 44 tahun terakhir. Sempat terpuruk dalam periode kelam sebelum kehadiran Emery pada 2022 menggantikan Steven Gerrard, sekarang Villa telah kembali ke jejeran elit, baik di Liga Premier Inggris maupun kejuaraan Eropa.

Setelah dipastikan lolos ke Liga Champions musim depan, Emery meminta para pemain dan jejeran manajemen klub untuk menyamai ambisinya dalam menjaga Aston Villa agar tetap bersaing memperebutkan trofi-trofi juara di masa depan.

"Saya sendiri adalah orang nan ambisius dan tentu saja saya memerlukan dukungan. Para pemilik, semua orang nan bekerja di klub. Perkembangan adalah segalanya," ujar Emery.

"Para pemain mengikuti kami. Kami melakukannya bersama-sama. Namun, kami kudu mencoba menetapkan ambisi ini dengan jelas dan realistis. Sebagai sebuah tim, ambisius dan terus berkembang. Ini adalah langkah kami selanjutnya. Kami menjadi lebih kuat tetapi kami mencoba untuk terus menuntut perihal lebih. Tahun depan kami bakal bermain di Liga Champions dan Premier League adalah kejuaraan tersulit di dunia. Inilah tantangannya."

Keberhasilan ini juga mengukuhkan kekuasaan Emery nan sekarang telah memenangi Europa League sebanyak lima kali, setelah sebelumnya meraih tiga trofi berbareng Sevilla dan satu trofi berbareng Villarreal.

"Ini fantastis. Eropa memberi kami banyak hal. Bagi saya pribadi juga demikian. Saya selalu sangat berterima kasih kepada Eropa. Untuk setiap kompetisi, tetapi khususnya Europa League," kata laki-laki asal Spanyol tersebut.

"Dukungan nan saya miliki berbareng Valencia, Sevilla, Villarreal, dan di sini berbareng Villa. Kami memainkannya dengan langkah nan sangat serius tahun ini, sangat fokus. Meraih trofi ini menambah pengalaman bagi kami. Dan pengalaman-pengalaman itu krusial bagi para pemain lantaran kami bisa bermain tahun depan dengan mencoba untuk juga bersaing memperebutkan trofi."

Bagi Emery, pencapaian ini merupakan konfirmasi dari perkembangan pesat Aston Villa, nan saat dia datangi pada tahun 2022 sedang terpuruk di dekat area degradasi Premier League. Di bawah arahannya, Villa sekarang sukses mengulangi sejarah emas saat memenangi European Cup tahun 1982 silam.

"Final ini adalah konfirmasi tentang gimana kami berkembang. Ini sangat penting," tutur Emery.

"Tentu saja angan saya adalah bermain di Eropa dan bermain untuk memenangi trofi. Kami bermain di semifinal Conference League dan perempat final Liga Champions. Kami sudah sangat dekat. Klub ini memenangi gelar Eropa pada tahun 1982. Dan kembali bersaing untuk memperebutkan gelar di Eropa adalah sesuatu nan memberi makna bagi semua nan kami lakukan. Kami berkembang. Kami bermain di final. Kami memenangi trofi. Saya pikir merek klub ini sedang meningkat. Mencapai perihal ini membikin kami sangat senang dan bangga. Namun, kami tidak bakal berhenti."

Di kubu seberang, final Eropa pertama bagi Freiburg ini berhujung anti-klimaks dan membikin klub asal Jerman tersebut tetap kudu menunggu untuk bisa meraih trofi mayor pertama mereka.

"Pada momen ini, tidak ada ruang untuk kepuasan. Kami kalah di final," sesal bos Freiburg, Julian Schuster.

"Ini tentu saja sangat menyakitkan. Kami percaya kami bisa menang. Di babak pertama, selama 40 menit pertama, semuanya baik-baik saja. Namun, kami kehilangan kendali permainan, khususnya lantaran bola mati. Itu sangat susah untuk diterima." (AFP/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia