
Sepenggal kisah Jenderal Ternate Saleh Mustafa (Foto: Dok)
(Penulis: Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB 2019-2021)
ADA saatnya seorang prajurit meletakkan peta operasi, lampau membuka peta nan lain: Peta sawah, ladang, kebun, irigasi dan lumbung pangan.
Dan tanggal 1 Oktober 2026, Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa membuka peta nan baru itu. Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Wakil Menteri Pertanian, menggantikan Sudaryono--mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Bagi saya, berita itu menyingkap lorong panjang kenangan. Saya mengenal Saleh bukan ketika tiga bintang sudah bertengger di pundaknya. Saya mengenalnya ketika tetap Letnan Dua, perwira remaja lulusan Akmil 1991 nan bekerja di Grup 1 Parako Kopassus, Serang, Banten.
Sahabat saya sesama asal Sengkang Wajo, almarhum Kolonel Andi Sirajuddin Kube Dauda—Aju—yang memperkenalkan kami. Melalui Aju pula saya mengenal lingkaran perwira muda Kopassus masa itu: Saleh, Maruli Simanjuntak, Iwan Setiawan, Richard Tampubolon, Mohamad Hasan, Mohammad Fadjar dan banyak lainnya.
Saya memandang mereka sebagai anak-anak muda berseragam loreng nan hidupnya diisi latihan dan gemblengan. Sebagian kemudian tumbuh menjadi jenderal dan menempati beragam posisi penting. Saleh salah satunya.
Kini, lebih tiga dasawarsa kemudian, prajurit nan saya kenal itu memasuki “medan operasi” nan sama sekali berbeda.
Musuhnya bukan lagi golongan bersenjata. Tantangannya adalah air, pupuk, benih, perubahan iklim, produktivitas, nilai gabah, kesejahteraan petani, hingga keberlanjutan swasembada pangan.
Ia hanya beranjak langkah memandang tanah. Dulu tanah dipertahankan sebagai wilayah kedaulatan. Kini tanah kudu dijaga agar terus melahirkan kehidupan. Sebab pangan, pada hakikatnya adalah tembok pertahanan sebuah negara.
Tifa dari Ternate
Saleh adalah putra Ternate, sebuah pulau mini nan berlimpah cengkeh dan pala. Kini, salah satu putra terbaiknya dipanggil negara ikut mengurus pertanian Indonesia Dari cengkeh menuju padi. Dari jalur rempah menuju jalan kedaulatan pangan.
Saya mengenal Saleh sebagai sosok nan tekun lagi santun. Murah senyum, doyan menyanyi, tetapi tegas ketika bertugas. Karakter itu selalu mengingatkan saya kepada salah satu warisan budaya Ternate: Dalil Tifa, tradisi lisan berisi petuah kehidupan nan dilantunkan berbareng irama tifa.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·