Ilustrasi(Dok Istimewa)
SETIDAKNYA dalam dua tahun belakangan, upaya di Indonesia terus mengembangkan sistem afiliasinya lantaran affiliate marketing telah terbukti menjadi salah satu saluran penjualan nan menjanjikan. Namun strategi ini bukan tanpa masalah.
Tak jarang, upaya merasa jumlah afiliator tidak berbanding lurus dengan kenaikan omzet mereka. Banyak seller dan brand sekarang bisa merekrut ratusan hingga ribuan affiliator. Namun, tanpa sistem aktivasi, onboarding, komunikasi, insentif, dan pengelolaan nan jelas, pasukan affiliate tersebut mudah hilang, tidak konsisten membikin konten, alias beranjak ke produk lain nan dinilai lebih menarik.
Berangkat dari persoalan tersebut, Yosef Abas, mentor affiliate marketing nan juga Founder & CEO RKP Manajemen, salah satu MCN terbesar di Indonesia, meluncurkan kitab perdananya berjudul Melipatgandakan Omzet dengan Pasukan Affiliate. Buku setebal 264 laman ini datang sebagai pedoman praktis bagi brand owner, seller, pelaku UMKM, dan tim e-commerce nan mau membangun program affiliate secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Affiliate Bukan Sekadar Rekrutmen Massal
Dalam beberapa tahun terakhir, affiliate menjadi kanal nan semakin diperebutkan oleh seller dan brand. Kanal ini datang berdampingan dengan toko online, iklan digital, live commerce, dan konten video pendek sebagai bagian dari strategi penjualan digital.
Namun, Yosef menilai tantangan terbesar justru muncul setelah affiliate sukses direkrut. Banyak brand tetap berfokus pada jumlah affiliator, tetapi belum menyiapkan sistem agar mereka dapat bekerja secara aktif dan konsisten.
“Masalah banyak brand bukan kurang affiliate, tetapi kurang sistem untuk membikin affiliate bergerak. Ribuan affiliator tidak bakal berfaedah banyak jika tidak ada onboarding, pengarahan konten, komunikasi, dan insentif nan jelas,” ujar Yosef.
Menurutnya, beberapa komponen krusial nan kerap terlewat antara lain proses onboarding, materi promosi, product knowledge, angle konten, alur komunikasi, sistem komisi, serta keberadaan tim alias orang unik nan mengelola hubungan dengan affiliator.
Pola tersebut kerap terlihat pada momentum besar seperti Ramadan, Harbolnas, alias peluncuran produk baru. Brand dapat merekrut affiliator dalam jumlah besar untuk mendorong campaign. Namun, ketika stok tidak terjaga, komisi kurang kompetitif, materi promosi tidak tersedia, alias komunikasi dengan affiliator tidak berjalan, performa program affiliate bakal susah dipertahankan.
Memperkenalkan Total Affiliate Activation Blueprint
Melalui Total Affiliate Activation Blueprint, Yosef merangkum pengalaman RKP dalam mendampingi brand dan creator di ekosistem marketplace dan social commerce. Framework ini disusun sebagai pedoman komplit agar brand tidak berakhir pada tahap merekrut affiliate, tetapi bisa mengubahnya menjadi pasukan penjualan nan aktif dan terkelola dengan baik.
Salah satu titik krusial dalam blueprint tersebut adalah orientasi, alias onboarding. Yosef menyebut, minggu pertama setelah affiliator berasosiasi merupakan periode nan sangat menentukan. Pada fase ini, affiliator perlu segera memahami produk, mengetahui kelebihan nan bisa dikomunikasikan, mendapatkan referensi konten, serta memandang kesempatan komisi secara jelas.
Tanpa onboarding nan baik, affiliator mudah bingung dan akhirnya tidak banyak bertindak. Sebaliknya, jika sejak awal mereka merasa dibantu, diarahkan, dan memandang potensi hasil, kesempatan mereka untuk aktif menjual produk brand bakal lebih besar.
Selain onboarding, Yosef juga menekankan pentingnya peran affiliate manager di sebuah brand. Menurutnya, organisasi affiliate tidak bakal bergerak maksimal jika tidak ada orang nan secara unik menjaga komunikasi, mengatur ritme campaign, menjawab kebutuhan affiliator, dan memastikan mereka tetap terhubung dengan brand.
“Komunitas tanpa community manager biasanya susah hidup. Begitu juga affiliate. Kalau brand punya banyak affiliator tetapi tidak ada nan mengelola, mereka bakal susah bergerak secara konsisten,” tambahYosef.
Berbeda dari Buku Affiliate Marketing pada Umumnya
Dalam kitab ini, Yosef menulis menggunakan pendekatan storytelling melalui karakter Rama, seorang seller nan mewakili kegelisahan banyak brand lokal. Rama digambarkan memulai program affiliate dengan langkah nan umum dilakukan banyak seller, ialah mencari banyak affiliator ketika memerlukan penjualan.
Namun, seiring perjalanan, Rama menyadari bahwa affiliate tidak bisa dibangun dengan pola satu kali campaign. Brand perlu menyiapkan sistem, proses, dan ekosistem agar pasukan affiliate dapat bekerja secara berkelanjutan.
Melalui karakter tersebut, konsep teknis seperti rekrutmen affiliate, onboarding, aktivasi konten, manajemen komunitas, hingga scaling dijelaskan dengan langkah nan lebih membumi dan mudah diikuti oleh pelaku usaha.
Yosef berambisi kitab ini dapat membantu brand lokal memandang affiliate sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, di tengah persaingan marketplace nan semakin ketat dan biaya akuisisi pengguna nan terus kompetitif, brand tidak bisa hanya berjuntai pada iklan berbayar alias momentum campaign sesaat.
Affiliate, jika dibangun dengan sistem nan tepat, dapat menjadi kanal pertumbuhan nan melibatkan creator, komunitas, konten, dan info penjualan secara bersamaan.
“Affiliate nan kuat bukan dibangun dari jumlah orang semata, tetapi dari sistem nan membikin mereka aktif, mengerti produk, dan mau terus bergerak berbareng brand. Di situlah brand bisa mulai membangun pasukan, bukan sekadar daftar nama affiliator,” ujar Yosef.
Buku Melipatgandakan Omzet dengan Pasukan Affiliate mulai didistribusikan pada 4 Juni 2026 dengan nilai Rp249.000. Buku ini juga dilengkapi dengan bingkisan digital berupa pedoman teknis dan blueprint penerapan untuk membantu pembaca mulai membangun pasukan affiliate pertama mereka. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·