Bangun Proyek LNG di Bali, Upaya RI Wujudkan Ketahanan Energiamp;nbsp;

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Bangun Proyek LNG di Bali, Upaya RI Wujudkan Ketahanan Energi 

Bangun Proyek LNG di Bali, Upaya RI Wujudkan Ketahanan Energi (Foto: Ilustrasi Subholding Gas)

JAKARTA - Rencana pembangunan terminal unik (storage) Liquefied Natural Gas (LNG) berkapasitas 145.000 m3 di area Pantai Serangan, Denpasar, dinilai sebagai langkah strategis untuk memangkas ketergantungan pada Bahan Bakar Minyak (BBM) impor sekaligus mendukung visi pariwisata berkelanjutan.

Program transisi daya dari bahan bakar solar menuju LNG ini digadang-gadang menjadi solusi atas beban konsumsi BBM di Bali nan sangat tinggi. 

Berdasarkan info di lapangan, konsumsi solar di Bali saat ini mencapai 500.000 Metrik Ton (MT) per tahun, menempatkan provinsi ini sebagai salah satu konsumen solar terbesar di Indonesia. Dengan nilai keekonomian saat ini, biaya nan dihabiskan untuk pasokan solar tersebut menyentuh nomor fantastis, ialah sekitar Rp8,3 triliun.

Peralihan ke LNG bukan hanya soal efisiensi anggaran, tetapi juga sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan daya dan mengurangi impor BBM secara nasional hingga 20 persen.

"Bayangkan, dengan adanya storage LNG di Serangan ini, negara bisa menghemat hingga USD500 juta per tahun. Dan nan paling penting, LNG ini bukan komoditas impor nan rentan gejolak geopolitik. Ini murni dihasilkan dari bumi Indonesia, dari ladang Tangguh di Papua," ujar Praktisi Bisnis Energi alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Dicky Ahmad Gustyana dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Dia menambahkan, ketergantungan pada BBM impor sering kali menjadi bumerang bagi neraca perdagangan dan stabilitas nilai di dalam negeri, terutama saat terjadi krisis di Timur Tengah. "Kalau Timur Tengah bergejolak, bukan hanya barangnya susah dicari, nilai meroket, tapi nilai tukar rupiah juga ikut tertekan naik. Dengan LNG domestik dari Tangguh, kita lebih berdikari dan terlindung dari guncangan eksternal," tegasnya.

Dari sisi lingkungan, langkah ini disebut sebagai napas segar bagi Bali sebagai lokasi wisata kelas dunia. Energi nan berasal dari LNG jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan daya fosil seperti solar nan sangat polutif. Udara nan lebih bersih dinilai menjadi modal utama untuk menjaga kenyamanan visitor mancanegara dan domestik agar nyaman tinggal lebih lama di Bali.

"Bali ini etalase pariwisata Indonesia. Kalau udaranya kotor lantaran genset diesel di mana-mana, visitor bisa kabur. Transisi ke LNG ini bukan hanya urusan energi, tapi juga urusan menjaga gambaran dan masa depan ekonomi Bali," ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com