Said juga membantah dugaan bahwa Transfer ke Daerah (TKD) dalam APBN 2027 bakal mengalami penurunan.
Menurut dia, pembahasan nan melangkah di Badan Anggaran baru sampai pada postur kebijakan fiskal.
“TKD turun itu kata siapa? Dalam pembahasan di Badan Anggaran baru postur. Hitungan saya dibandingkan 2026, TKD kelak bakal naik dibandingkan Rp 649 triliun pada 2026,” ujarnya.
Ia menjelaskan besaran final TKD tetap bakal diumumkan Presiden saat penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027 pada 16 Agustus mendatang.
Said menambahkan pemerintah juga berencana meningkatkan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK), meski pelaksanaannya bakal diselaraskan dengan program prioritas pemerintah pusat melalui skema earmarking.
Selain itu, Said memperkirakan kebutuhan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2027 justru bakal lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau MBG, pasti turun,” katanya.
Menurut dia, kalkulasi anggaran bakal disesuaikan dengan kebutuhan riil, termasuk jumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dan sasaran penerima faedah sekitar 84 juta siswa.
“Hitungan saya, jika ditambah anggaran kesehatan seperti stunting dan ibu hamil, tidak lebih dari Rp 174 triliun,” ujarnya.
Said menilai penurunan anggaran bukan berfaedah kualitas program bakal berkurang. nan lebih penting, kata dia, adalah tata kelola dan mutu gizi nan diterima para penerima faedah tetap terjaga.
“Yang krusial menjaga tata kelola dan kualitas gizi nan diterima anak didik kita. Dengan penurunan anggaran itu, kualitasnya tetap kudu terjaga,” tegasnya.
Saat ditanya kapan besaran anggaran tersebut diputuskan, Said mengatakan pembahasan berbareng pemerintah tetap berjalan dan baru bakal ditetapkan pada September mendatang.
“Diketoknya kelak bulan September. Kan kudu sama pemerintah,” pungkasnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·