Bamsoet Tegaskan KADIN All Out Dukung Pemerintah Hadapi Krisis Global

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta -

Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan, dan Keamanan KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan bumi upaya nan tergabung di dalam KADIN Indonesia mendukung penuh beragam kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo nan terus berupaya mengatasi beragam persoalan bangsa, baik dari dalam ataupun luar negeri.

Di tatanan global, bumi sedang memasuki fase paling rawan sejak berakhirnya Perang Dingin, ditandai dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di beragam area strategis secara bersamaan.

Konflik di Timur Tengah nan melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina nan menyeret keterlibatan NATO, serta manuver ekspansi China di Indo-Pasifik menjadi indikasi kuat bahwa tatanan dunia sedang mengalami pergeseran besar nan terstruktur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia berada di posisi nan sangat strategis sekaligus rentan lantaran menjadi titik jumpa kepentingan kekuatan-kekuatan besar dunia. Posisi geografis Indonesia nan berada di jalur utama perdagangan dunia, seperti Selat Malaka dan area Laut Natuna, menjadikan Indonesia sebagai salah satu titik krusial dalam tatanan geopolitik dunia.

"KADIN all out berbareng presiden, mengingat nan kita hadapi sekarang adalah perubahan struktur kekuatan bumi secara mendasar. Konflik nan terlihat di permukaan hanyalah gejala. Di kembali itu ada perebutan pengaruh, sumber daya, dan jalur strategis nan bakal menentukan siapa mengendalikan ekonomi bumi ke depan," ujar Bamsoet, dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan usai Tim Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan, dan Keamanan KADIN Indonesia mengikuti KADIN Indonesia Strategic Response Meeting nan dipimpin langsung Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya Bakrie di Menara KADIN Indonesia, Jakarta.

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menuturkan ancaman nan paling nyata adalah ketahanan ekonomi nasional, terutama mengenai daya dan pangan. Saat ini, nilai minyak bumi berada di kisaran 60-70 dolar AS per barel. Namun, situasi ini sangat rentan berubah drastis jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, nilai minyak bumi bisa melonjak drastis dalam waktu singkat.

Selain energi, ketergantungan pada impor pangan seperti gandum, kedelai, dan gula juga menjadi titik lemah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia tetap mengimpor jutaan ton gandum setiap tahun, sebagian besar dari negara-negara nan terdampak bentrok geopolitik. Gangguan rantai pasok bumi dapat langsung berakibat pada nilai pangan dalam negeri dan memicu inflasi.

"Kita kudu kompak sebagai bangsa dalam menghadapi beragam potensi kerawanan sosial di dalam negeri nan dipicu tekanan ekonomi global. Terutama terhadap isu-isu nan sengaja dilemparkan oleh para provokator nan mencoba mengail di air keruh," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan sebagai langkah strategis, KADIN Indonesia mendorong pembentukan Dewan Ketahanan Ekonomi Nasional nan bekerja layaknya war room lintas kementerian.

Lembaga ini diharapkan bisa merespons dinamika dunia dengan sigap dan terukur, terutama dalam menjaga stabilitas nilai daya dan pangan. Selain itu, krusial dilakukan reformasi sistem SDM di sektor intelijen dan kepolisian agar lebih adaptif terhadap dinamika ancaman modern.

"Di tingkat internasional, Indonesia kudu memperkuat posisi sebagai negara non-blok nan aktif. Prinsip bebas aktif dijadikan langkah konkret untuk membangun kerja sama strategis dengan negara-negara berkembang nan mempunyai kepentingan serupa dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan," tutup Bamsoet.

(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News