Ilustrasi(City of Hope)
SEJAK era 1990-an, transplantasi sel induk hematopoietik (pembentuk darah) menjadi salah satu prosedur medis paling rumit untuk menangani kanker darah seperti leukemia. Dalam proses ini, sistem imun pasien dihancurkan menggunakan kemoterapi kuat sebelum digantikan oleh sel donor. Selama masa transisi, pasien sangat rentan terinfeksi sehingga kudu diisolasi ketat dan diberikan antibiotik dosis tinggi.
Namun, prosedur garang ini menyisakan masalah. Sekitar seperempat pasien pada masa itu meninggal akibat komplikasi jangkitan dan penyakit graft-versus-host (kondisi di mana sel imun donor menyerang jaringan tubuh pasien).
"Kami menyebabkan banyak kerusakan kolateral dengan pengobatan garang kami," ujar Dr. Marcel van den Brink, presiden City of Hope Cancer Center. Kesadaran bakal akibat jelek tersebut memicu lahirnya bagian penelitian baru: hubungan erat antara mikroba di dalam usus (mikrobioma) dan sistem kekebalan tubuh manusia.
Kini, mikrobioma usus diakui sebagai garda depan baru dalam pencegahan dan perawatan kanker. Fokus ini menjadi sangat krusial dalam imunoterapi, jenis pengobatan nan memanipulasi sistem imun tubuh pasien untuk menyerang sel kanker secara lebih efektif.
Saat ini, sebuah uji klinis fase akhir sedang melangkah di University Hospitals Seidman Cancer Center, Cleveland, untuk menguji penggunaan probiotik CBM588 (Clostridium butyricum) guna mendongkrak efektivitas imunoterapi pada nyaris 700 pasien kanker ginjal stadium lanjut. Langkah ini diambil setelah studi mini sebelumnya menunjukkan bahwa kuman tersebut bisa meningkatkan hasil positif pada pasien.
Selain uji coba probiotik tunggal, para intelektual juga mengimbau pentingnya pembatasan penggunaan antibiotik spektrum luas nan dapat menyapu bersih kuman baik. Kondisi ketidakseimbangan mikroba alias disbiosis, di mana jenis kuman menguntungkan di dalam usus berkurang drastis, terbukti berangkaian langsung dengan tingginya akibat kematian pada pasien transplantasi.
"Sains kami menunjukkan bahwa semakin sedikit kerusakan nan Anda lakukan pada kuman [menguntungkan], semakin baik kondisi Anda. Anda mendapatkan hasil nan lebih baik," kata van den Brink.
Di samping obat-obatan dan suplemen bakteri, pola makan juga memegang peran vital. Penelitian dari MD Anderson Cancer Center menunjukkan pasien melanoma nan mengonsumsi makanan kaya serat merespons pengobatan dengan jauh lebih baik. Setiap peningkatan asupan serat sebesar 5 gram dikaitkan dengan penurunan akibat perburukan kanker alias kematian hingga 30 persen. Serat tersebut diolah oleh kuman usus menjadi masam lemak rantai pendek nan berfaedah meningkatkan keahlian sel imun sekaligus meredam peradangan.
Melihat kebenaran ini, pusat kanker seperti City of Hope sekarang mengubah total menu makanan pasien rawat inap mereka. Alih-alih memberikan minuman berenergi tinggi gula nan justru menyuburkan kuman jahat, pasien sekarang disajikan makanan segar berzat gizi tinggi dan kaya serat, seperti salad bit organik dengan ayam, nan tetap dijaga higienitasnya.
Meskipun kompleksitas bumi mikroba ini tetap menyimpan banyak pertanyaan, para mahir optimistis pemahaman tentang ekosistem usus bakal mengubah standar perawatan medis. "Kami berupaya mengubah pola makan menjadi obat," pungkas van den Brink. "Namun, kami baru saja mulai belajar gimana memanipulasinya." (CNN/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·