Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menilai kader partainya perlu melakukan koreksi internal agar bisa menghadapi perubahan politik ke depan.
Menurutnya, salah satu langkah paling krusial nan kudu dilakukan adalah memperkuat proses pengkaderan, lantaran di situlah letak roh sebuah partai politik.
Bahlil mengatakan perubahan era menuntut partai politik untuk meninggalkan pola-pola lama nan sudah tidak lagi relevan.
“Dan di era transformasi seperti sekarang, pola-pola lama nggak bisa lagi kita pakai. Boleh kita pakai, tapi kita kudu combine,” kata Bahlil saat membuka aktivitas Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Senin (3/8).
Ia juga mengingatkan komposisi pemilih pada Pemilu 2029 bakal didominasi golongan usia produktif. Karena itu, partai politik kudu bisa menyesuaikan strategi agar tidak tertinggal.
“Pemilu 2029, itu jumlah pemilih 17 sampai dengan 50 tahun, 73%,” ujarnya.
Menurut Bahlil, tantangan politik saat ini bukan lagi soal siapa nan lebih kuat alias lebih pintar, melainkan siapa nan bisa bergerak lebih sigap mengikuti perubahan.
“Kalau Golkar tidak bisa melakukan adaptasi, ini kita bakal ketinggalan. Ini bukan persoalan pandai mengalahkan nan tolol alias kuat mengalahkan nan lemah. Ini persoalannya adalah nan sigap mengalahkan nan lambat,” katanya.
Karena itu, Bahlil menegaskan Partai Golkar kudu melakukan pertimbangan dari dalam. Ia menyebut pengkaderan menjadi aspek paling krusial dalam proses pembenahan tersebut.
“Nah, kita partai kudu melakukan koreksi internal. Dan salah satu nan kudu kita lakukan menurut saya adalah proses pengkaderan. Rohnya di sini, rohnya di sini. Jangan kita berpikir jika idenya Pak Kahar itu kan tunggu 6 bulan pemilu baru kita main. Itu bagi nan bisa, gitu loh. Bagi kader nan sempurna itu juga boleh,” jelas Bahlil.
Bahlil juga menyinggung metode kampanye dan strategi politik nan menurutnya sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Ia mencontohkan pengalaman saat mengikuti aktivitas outbond kader Partai Golkar pada masa kepemimpinan Aburizal Bakrie.
“Dulu outbond zamannya Bang Ical, waktu outbond terakhir lantaran ada mainan-mainan nan kita nggak bisa beli, terakhir air kan gitu, Bang. Saya tetap ingat itu, Pak Luhut nan dulu jika tidak salah itu timnya. Itu disuruh lantaran nggak bisa kita main, suruh ambil air, padahal beli. Ya saya ngerti ini beli bunyi kan maksudnya waktu outbond itu. Tapi pola itu nggak lagi relevan, gitu loh,” katanya.
Menurut Bahlil, perubahan strategi kudu diiringi dengan penguatan kualitas kader. Karena itu, dia menilai penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar menjadi bagian krusial dalam membangun sumber daya manusia partai.
“Itu oke, tapi menurut saya krusial ada penyesuaian gitu. Nah, ToT ini menurut saya, Bang, ini sangat penting. Saya meminta kepada teman-teman nan melakukan ToT ini serius,” ujarnya.
Bahlil apalagi meminta seluruh personil DPR RI dari Partai Golkar diwajibkan mengikuti ToT tersebut. Menurutnya, kader nan duduk di parlemen juga kudu memahami pemisah antara kepentingan partai dan kepentingan pribadi.
“Dan kepada semua personil DPR RI, jadikan mereka peserta. Jadikan wajib. Supaya tahu mana kepentingan partai, mana kepentingan pribadi. Kalau nggak ada filter nan mengontrol kita, susah,” kata Bahlil.
Ia menegaskan Partai Golkar bukan sekadar organisasi politik, tetapi juga merupakan aset bangsa nan memikul angan masyarakat. Oleh karena itu, kader kudu dibekali nilai-nilai kebangsaan.
“Partai Golkar ini adalah partai aset negara, angan masyarakat. Nah, jika kita tidak diajarkan dan menanamkan sebuah pondasi nilai-nilai nan kuat terhadap tujuan berbangsa dan bernegara, ya gimana bisa kita lakukan itu?” ujarnya.
Bahlil juga mengaku memahami pentingnya fondasi nilai dalam berpolitik berasas pengalamannya sebagai personil kabinet. Ia mengatakan dinamika nan dihadapi selama menjabat sebagai Menteri Investasi hingga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sangat besar sehingga memerlukan pegangan nan kuat.
“Saya jujur saja pengalaman saya di personil kabinet, sekalipun dinamikanya kayak puting beliung, dinamikanya luar biasa loh. Antara saya jadi Menteri Investasi dengan Menteri ESDM itu dinamikanya luar biasa sekali,” tutur Bahlil.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·