Bahlil Singgung Masalah Ijazah Gibran: Bagian dari Demokrasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyebut banyak dinamika politik nan terjadi belakangan ini. Salah satunya adalah soal persoalan piagam Wakil Presiden Indonesia Gibran Rakabuming Raka.

Hal itu dikatakan Bahlil dalam aktivitas tasyakuran dan angan berbareng HUT ke-62 Partai Golkar, di DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Selasa (20/10/2026). Bahlil menyebut ada sekelompok masyarakat nan memperjuangkan penafsirannya mengenai urusan piagam ini.

"Khusus menyangkut politik, akhir-akhir ini banyak dinamika politik nan terjadi. Ada sekelompok masyarakat nan mencoba untuk memperjuangkan penafsirannya ataupun keinginannya dalam menggugat persoalan piagam wakil presiden," kata Bahlil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahlil menyebut kudu menghormati proses norma nan berjalan. Partai Golkar, kata dia, kudu mengikuti sistem nan ada sebagai bagian dari demokrasi.

"Sebagai negara norma kita hargai prosesnya, sebagai partai kita kudu alim dan alim semua sistem nan ada, tetapi kita kudu juga memandang bahwa ini bagian daripada demokrasi," ucap dia.

Bahlil menyebut Golkar bakal memandang proses selanjutnya. Semua proses kudu dihargai dan mengedepankan asas prasangka tak bersalah.

"Nantilah partai bakal memandang seberapa besar dan seberapa dalam proses selanjutnya. Ini tetap di ranah hukum, lantaran itu kita hargai semuanya, dan tetap kita mengedepankan asas prasangka tak bersalah," ucapnya.

Kata Gibran soal Putusan MK

Gibran menghormati putusan MK mengenai tidak ditemukannya piagam setara SMA dalam gugatan hasil Pilpres 2024. Gibran mengatakan saat ini bakal berfokus untuk menyukseskan visi dan program Presiden Prabowo Subianto.

"Kita hormati seluruh tahapan-tahapan dan proses-proses nan ada di MK. nan paling krusial sekarang, saya bakal terus konsentrasi bekerja untuk masyarakat dan menyukseskan visi-misi dan program dari Bapak Presiden selaku ketua kami," kata Gibran dilansir Antara, Rabu (7/10).

Terkait putusan MK nan tidak dapat mendiskualifikasi dirinya sebagai Wapres meski tidak ditemukan bukti piagam alias arsip penyetaraan pendidikan, Gibran menegaskan bahwa dia melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 setelah lulus pendidikan setara SMA.

"Ya jika saya tidak lulus SMA, kan saya nggak mungkin bisa kuliah. Saya kan kuliah sampai S1 juga di Singapura," katanya.

(ial/lir)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑