Binti Mufarida
, Jurnalis-Kamis, 09 April 2026 |08:02 WIB

Bahlil: Masa Krisis LPG Sudah Kita Lewati, Stok di Atas 10 Hari (Foto: Setpres)
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut, Indonesia sudah melewati masa krisis LPG. Saat ini persediaan LPG di Indonesia sudah di atas 10 hari.
"Saya menyampaikan bahwa masa susah kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4. Alhamdulillah sekarang persediaan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari. Sebentar lagi kapal kita masuk dan solar tidak kita lakukan impor, nan kita lakukan itu tinggal bensin saja, tinggal keluar lebih sekitar 20-22 juta kiloliter. Itu saja,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (8/4/2026).
Kondisi ini menggambarkan pasokan daya nasional tetap dalam kondisi kondusif dan terkendali di tengah dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di area Timur Tengah. Pemerintah juga memastikan bahwa kebutuhan Indonesia terhadap pasokan daya dari area rawan relatif terbatas.
Menurut Bahlil, impor dari area Timur Tengah hanya berupa minyak mentah (crude oil) dengan porsi sekitar 20–25 persen, sementara BBM jadi tidak diimpor dari area tersebut.
"Total nan kita ambil dari Selat Hormuz untuk crude, kita kan tidak pernah impor BBM jadi dari Timur Tengah, dari Middle East. nan ada itu tinggal crude-nya saja, crude-nya itu sekitar 20-25 persen,” ungkapnya.
Untuk menjaga ketahanan energi, pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber pasokan dari beragam negara seperti Angola, Nigeria, hingga Amerika Serikat. Selain itu, pasokan LPG nasional juga tidak berjuntai pada jalur pengedaran di Selat Hormuz, melainkan berasal dari negara-negara lain seperti Australia.
“Kita sudah bisa mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika dan beberapa negara lain. Jadi kita insyaAllah sudah clear lah, insyaAllah aman,” katanya.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·