Menteri ESDM Bahlil Lahadalia(Dok. Antara)
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa dinamika nilai minyak dan gas bumi bumi saat ini tetap sangat naik turun akibat kondisi geopolitik dunia nan belum menentu. Meski demikian, pemerintah memberikan kepastian bahwa nilai Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan LPG tidak bakal mengalami kenaikan.
Dalam rapat kerja berbareng Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/6), Bahlil menjelaskan bahwa pergerakan harga minyak dunia susah diprediksi secara presisi lantaran aspek eksternal nan sigap berubah.
"Sebab sekarang ini bisa sigap naik, juga sigap turun. Jadi memang untuk mencari flat rata-ratanya tetap butuh penyesuaian nan panjang," ujar Bahlil.
Bahlil menekankan bahwa untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian nilai bakal terus mengikuti sistem pasar sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022. Namun, bagi masyarakat menengah ke bawah, pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga.
"Di kembali dinamika nilai minyak global, pemerintah tetap bermufakat atas pengarahan Bapak Presiden untuk tidak meningkatkan BBM nan bersubsidi. Termasuk LPG," tegasnya.
Harga minyak mentah Brent dilaporkan merosot 3,9% ke level US$84 per barel, sementara WTI ambruk 4,8% ke US$81 per barel menyusul pengumuman kesepakatan awal antara AS dan Iran mengenai pembukaan Selat Hormuz.
Menanggapi perihal tersebut, Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Syarif Fasha, mendorong pemerintah untuk bersikap fleksibel. Ia meminta pemerintah segera menurunkan harga BBM nonsubsidi jika tren penurunan nilai minyak bumi terus bersambung hingga ke level US$70 per barel.
"Kalau memang sudah di nomor US$70, kita turunkan lagi nan non-subsidi tadi. Jangan sampai BBM nan kita naikkan kemarin itu tetap memperkuat di nomor saat ini," kata Fasha.
Penurunan nilai minyak bumi pada perdagangan Minggu (14/6) dipicu oleh klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai tercapainya kesepakatan dengan Iran. Kesepakatan tersebut mencakup pengakhiran blokade angkatan laut di Selat Hormuz, nan merupakan jalur vital pengiriman daya global. Nota kesepakatan (MoA) tersebut dijadwalkan bakal ditandatangani secara resmi pada Jumat mendatang di Swiss. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·