Bagaimana Kotoran Gajah Menyelamatkan Industri Musik Dunia

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Bagaimana Kotoran Gajah Menyelamatkan Industri Musik Dunia Gajah(CNN)

TAKDIR sering kali bekerja dengan langkah nan misterius. Di pedalaman Cekungan Kongo, Afrika Tengah, rimba hujan tropis terbesar kedua di dunia, frasa tersebut terbukti nyata melalui tumpukan kotoran gajah.

Nasib pohon ebony (kayu hitam), mamalia nan terancam punah, organisasi lokal Kamerun, dan produsen gitar ternama asal AS rupanya saling terikat. Masa depan ini terungkap berkah perangkat penemuan nan unik: kotoran gajah rimba Afrika.

Menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), populasi gajah rimba Afrika merosot hingga 80% dalam tiga dasawarsa terakhir akibat hilangnya kediaman dan perburuan gading ilegal. Penurunan ini berakibat katastrofik bagi pohon ebony. Melalui kajian kamera pengintai dan kotoran gajah, terungkap bahwa mamalia besar ini adalah tokoh utama dalam penyebaran dan penyemaian biji ebony.

Gajah menyantap buah ebony dan membawa bijinya bermil-mil sebelum mengeluarkannya di lantai hutan. Proses ini memperluas jangkauan tumbuh sekaligus melindungi biji dari tikus lantaran aroma kotoran. Penelitian selama sembilan tahun oleh Congo Basin Institute (CBI) UCLA menemukan bahwa wilayah rimba tanpa gajah mengalami penurunan jumlah anakan pohon ebony hingga 68%.

“Hasilnya cukup menakutkan,” kata asisten peneliti CBI, Eric Onguene kepada CNN. “Awalnya, kami mengira biji (ebony) mungkin bisa disebarkan oleh semua jenis hewan... Namun jika gajah musnah, kita kudu bersiap menghadapi kehilangan, sebuah kepunahan, dari jenis ebony.”

Investasi Produsen Gitar Taylor

Riset ini didanai besar-besaran oleh Taylor Guitars, produsen gitar asal California nan produknya dipakai oleh musisi bumi seperti Taylor Swift dan Jason Mraz. Kayu ebony nan padat dan tahan lama adalah material utama untuk bridge dan fretboard gitar mereka.

Sebagai pemilik berbareng penggilingan ebony Crelicam di Yaoundé, Kamerun, Bob Taylor (pendiri Taylor Guitars) menyadari pasokan kayu ini kian langka akibat pembalakan liar oleh sebagian dari 80 juta masyarakat area tersebut.

“Di sebagian besar tempat di mana ebony dipanen, pasokannya telah habis,” ujar Direktur Pabrik Crelicam, Matthew LeBreton kepada CNN.

Hal ini mendorong Taylor mendanai Proyek Ebony sejak 2016. “Anda bangun suatu hari dan berpikir, ‘Oh oh. Ini tidak bakal memperkuat selamanya,’” kata Taylor kepada CNN. “Sangat menyebalkan menggunakan kata berkelanjutan, tapi kita bisa bilang, ini tidak berkelanjutan: kita bakal kehabisan. Jadi kita kudu melakukan sesuatu... Sudah tak terhindarkan bahwa kita bakal kehabisan pohon, jadi saya bakal berinvestasi dalam menanam pohon.”

Melibatkan Masyarakat Adat Baka

Karena pohon ebony butuh waktu hingga 100 tahun untuk matang, CBI merangkul masyarakat budaya Baka untuk ikut menanam. Sebagai insentif, penduduk diberikan kepemilikan atas pohon ebony nan ditanam serta bibit pohon buah sigap panen seperti alpukat dan mangga untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.

“Untuk melindungi ekosistem Cekungan Kongo, Anda tidak bisa sekadar menetapkan perlindungan alias menempatkan petugas polisi di depan setiap pohon,” kata peneliti CBI, Zac Tchoundjeu kepada CNN. “Anda kudu melibatkan masyarakat setempat dan menunjukkan untung apa nan mereka dapatkan dari domestikasi ini lantaran itu memenuhi kebutuhan mereka.”

Program ini sukses mengubah hidup penduduk lokal seperti Samuel Bambo Mempong dari desa Bifolone. > “Ini betul-betul mengubah hidup kami,” kata Mempong kepada CNN. “Uang itu bakal mengalir ke keturunan Anda. Anak-anak saya, lampau cucu-cucu: merekalah nan kudu mendapat manfaat.”

Memasuki tahun ke-10, Proyek Ebony telah menanam nyaris 50.000 pohon ebony dan 34.000 pohon buah. “Kami tidak mau merusak rimba sekaligus lagi,” pungkas Mempong. “Kami mau menyantap (memanen) rimba dengan lembut. Ketika momen kami berlalu, anak-anak kami dan cicit masa depan kami bakal mengambil rimba nan sama.” (CNN/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia