Backfilling Mining, Metode Tambang Bawah Tanah Diklaim Aman dan Ramah Lingkungan

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

Backfilling Mining, Metode Tambang Bawah Tanah Diklaim Aman dan Ramah Lingkungan

Backfilling Mining, Metode Tambang Bawah Tanah Diklaim Aman dan Ramah Lingkungan (Foto: Freepik)

JAKARTA - Metode backfilling mining mulai dilirik sebagai metode penambangan bawah tanah nan mengutamakan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan. Keunggulan utama cut and fill mining adalah minimnya pembukaan lahan di permukaan sehingga rimba dan ekosistem tetap terjaga.

Metode ini dilakukan dengan menambang bijih mineral secara berjenjang kemudian mengisi kembali rongga jejak tambang alias backfilling menggunakan tailing alias material sisa hasil pengolahan nan telah ditreatment sehingga sesuai dengan standar baku mutu.

Metode Backfilling sejak 2015

Metode ini didukung teknologi pengolahan modern, termasuk akomodasi pengolahan sulfur guna memastikan tailing kondusif bagi lingkungan dan masyarakat. Sebelum dipergunakan, material backfill dicampur dengan semen untuk meningkatkan kekuatan, kestabilan, serta mencegah rembesan ke tanah dan air tanah.

Bukan sekadar mengisi lubang, teknik ini telah berevolusi menjadi strategi teknis untuk mendukung keselamatan operasional sekaligus meminimalkan jejak ekologis.

“Metode backfill ini diadopsi di dalam negeri sejak 2015 dan memang terbukti ramah lingkungan,” kata Ketua Bidang Hilirisasi Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Muhammad Toha di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Dulu, lanjut dia, tidak terpikir untuk mengolah limbah di dalam negeri. Sejak ada kebijakan hilirisasi, kemudian terpikirkan gimana mengelola sisa hasil pengolahan diantaranya, tailing, slag, dan waste alias limbah. Sehingga, industri pertambangan nasional mengangkat metode backfill.

Cara Kerja Metode Backfilling Mining 

Konsep dari metode backfill ialah  kegiatan penambangan mengambil material ekonomis, nan tidak ekonomis kemudian dijadikan material penutup. Area nan sudah selesai ditambang ditutup kemudian direklamasi dan regevetasi.

Tujuannya adalah mengembalikan lagi material tambang dengan beberapa skema teknis untuk memastikan bahwa material tailing dikembalikan ke area tambang memungkinkan untuk di reklamasi dan tanaman tumbuh dengan normal. 

"Di China hasilnya positif dan bagus, tanaman tumbuh baik dan tak ada rumor mengenai lingkungan," ujarnya.

Menurut Toha, tidak semua limbah tambang dapat digunakan sebagai material pengisi. Waste nan digunakan kudu memenuhi standar baku mutu, antara lain pH netral (7–9), lulus uji TCLP, serta uji tingkat radioaktivitas.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com