Lembang, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerapan bahan bakar pedoman sawit dengan campuran 50% (B50) bisa menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 pada tahun 2026. Target penurunan emisi sejalan dengan komitmen pemerintah mencapai sasaran Net Zero Emission tahun 2060.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa B50 diproyeksikan memberikan berakibat pada lingkungan lebih besar dibandingkan program sebelumnya. Dengan sasaran B50 dari nan saat ini tetap bertindak B40, Eniya menilai campuran bahan bakar nabati nan lebih tinggi bisa mendukung agenda dekarbonisasi nasional.
"Nah ini juga waktu dicampur, waktu dicampur dengan solar, ini FAME ini berfaedah untuk menurunkan sulfur juga. Kalau campurannya 50%, sulfurnya turun jadi 50%-nya. Gak ada kandungan sulfurnya kan terus dicampur menjadi hanya sekitar kita dari berapa dari nomor sulfur kandungan sulfur di B0 menjadi setengahnya. Kira-kira sih mendekati Euro-4," ujarnya di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, dikutip Rabu (22/4/2026).
Mengutip info Kementerian ESDM, proyeksi penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 46,72 juta ton CO2 tersebut meningkat dari sasaran awal B40 nan sebesar 41,53 juta ton CO2. Selain faedah lingkungan, penggunaan B50 juga diperkirakan bisa menghemat devisa negara hingga Rp 157,28 triliun serta menyerap tenaga kerja lebih dari 2,2 juta orang.
"Insyaallah sesuai dengan pengarahan bisa 1 Juli. Semua sektor B50 jadi tidak ada nan 40 terus 50 begitu itu infrastrukturnya malah kesusahan sehingga mulainya serentak. Semua sektor di Indonesia," kata Eniya.
Pemerintah saat ini tengah melakukan pengetesan teknis di beragam sektor mulai dari otomotif, pertambangan, hingga perkeretaapian. Hasil terbarunya, kendaraan nan menggunakan B50 tetap mempunyai performa nan stabil dengan konsumsi bahan bakar nan berada dalam rentang standar pabrikan.
Dari sisi kualitas, spesifikasi bahan bakar B50 diperketat dengan menekan parameter kandungan air menjadi maksimal 300 ppm. Selain itu, parameter monogliserida disesuaikan menjadi maksimal 0,47 persen massa guna menjamin kualitas bahan bakar selama masa penyimpanan dan pengedaran di seluruh Indonesia.
"Jadi ini persyaratan ke badan upaya bahan bakar nabatinya itu kita syaratkan seperti itu agar performanya bagus. Pastinya ditingkatkan lantaran performanya ini kan kita uji juga kan makanya kita tetapkan spesifikasi B100-nya itu jauh lebih bagus," tandasnya.
Dengan begitu, pemerintah menargetkan seluruh rangkaian pengetesan di sektor otomotif rampung pada Juni 2026. Sementara itu, realisasi penyaluran biodiesel secara nasional hingga pertengahan April 2026 dilaporkan telah mencapai 3,90 juta kilo liter, alias sekitar 24,9% dari total alokasi awal tahun sebesar 15,65 juta kilo liter.
Pemerintah menargetkan seluruh rangkaian uji coba di sektor otomotif rampung pada Juni 2026, sementara sektor strategis lainnya seperti perangkat berat dan perkeretaapian bakal selesai berjenjang hingga akhir tahun. Dengan hasil uji sementara nan menunjukkan performa andal dan aman, B50 siap memperkuat kemandirian daya nasional.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·